Gasdan

562 Kata
Ruang kelas yang dijadikan tempat makan karena menjelang makan siang, membuat anak kecil berwajah bosan dengan bekal yang sudah diletakan di hadapannya, mengerucutkan bibirnya kesal. Selain segala bentuk aktifitas di tempat playgroup yang ayahnya pilihkan, anak laki-laki itu paling tidak suka saat waktunya makan siang, berukumpul bersama membuatnya sangat amat tidak suka, bukan karena dia yang tidak memiliki teman, hanya saja... “Kok bekal kamu nasi goreng terus?” “Lihat nih Mommy-ku buatin aku bento karakter.” “Kamu minta dong ke Bunda kamu!” “Eh, kamu kan nggak punya Bunda.” Percakapan satu arah yang diakhiri dengan tawa tidak dihiraukan oleh anak laki-laki yang saat ini masih menikmati bekal siangnya, omanya memang akhir-akhir ini hanya sempat membawakan bekal nasih goreng, padahal biasanya mulai dari lobster kukus kesukaannya, chickhen roll, sosis panggang dan lainnya dibuatkan khusus untuknya. “Kemarin Mommy-ku ngajak pergi ke kebun binatang, habis itu kita pergi ke taman lalu lintas.” “Kamu pasti belum pernah pergi bareng Bunda kamu.” Kembali percakapan satu arah terdengar, walau dia tidak menghiraukan tapi tetap saja rasa penasaran muncul ketika pertanyaan diarahkan padanya sedangkan teman-teman yang lain tampak tak ambil pusing, asyik sendiri dengan kegiatan makan siangnya, mungkin mereka berpikir karena kejadian ini sudah terbiasa jadi lebih baik dibiarkan saja. “Kenapa thih kamu thelalu ganggu?” pertanyaan dengan nada cadel dari samping membuat laki-laki berbekal bento yang sejak tadi menyudutkan -anak yang masih asyik memakan nasi goreng- dengan kata-katanya segera memasang wajah kesal. “Aku nggak ganggu!” “Kalau nggak ganggu namanya apa? Kenapa kamu nggak ganggu Bella juga yang nggak punya Mommy?” walau kata-katanya tidak baik tapi memang benar, anak laki-laki berbadan lebih berisi dibandingkan dengannya tidak pernah mengganggu Bella yang juga tidak punya seorang ibu. Dia selalu saja mengganggu teman dekatnya. “Bella kan nggak masuk” balasnya dengan nada lesu. “Tuh kan! Bella pathti nggak mathuk kalena nggak mau ketemu kamu.” “Anak-anak! Udah belum makannya? Miss Ane bawakan milk untuk kalian” seruan dari gurunya yang baru masuk kelas dengan membawa sekotak penuh kardus milk membuat anak yang saat ini belum menyentuh bekal bentonya sama sekali, mengurungkan niat membalas ucapan temannya, memilih mulai memakan bekalnya setelah sebelumnya menunjukkan wajah masam. Sedangkan sebagian lain yang sudah selesai menghabiskan bekal segera mengantre jatah kotak milk mereka. “Kamu kenapa diam teluth dibilang begitu thama Lio?” pertanyaan bernada cadel dalam kalimatnya membuat anak bermata coklat jernih itu memandangnya sekilas. “Gathdan!!!” seruannya membuat Miss Ane di depan sana menanyakan ada apa gerangan sehingga salah satu muridnya berteriak. Gelengan keras didapat dari anak yang sempat berteriak tadi, bermaksud mengatakan tidak ada apa-apa. “Kamu buat aku ditegul thama Mith Ane” seruan dari temannya dibalas wajah bosan, dia memilih menutup bekal makan yang sudah habis isinya. “Aku lagi ngomong!” pekiknya dengan nada ditahan, tidak ingin mendapat teguran lagi dari Miss Ane. Anak laki-laki bermata coklat jernih itu akhirnya menatap temannya. “Kata Ayah, kalau makan nggak boleh sambil ngobrol” dan dirinya memilih maju ke depan untuk mengambil jatah minumannya, meninggalkan temannya yang kali ini menatap gemas ke arahnya. “Gathdan Thafiy Kawilya!!!!!!!” pekikan menahan langkah kecilnya, dirinya berbalik. “Artar, nama aku Gasdan Safiy Kawirya bukan....” Gasdan terkekeh mengejek di akhir kalimat membuat Artar cemberut sesaat namun setelahnya mereka berdua tertawa bersama.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN