41. Ayana

1008 Kata

Detik itu juga kedua tangan Aya terkulai lemah, kemudian menekan dua tangannya pada meja agar tubuhnya tak jatuh ke lantai tentu saja keras. Yeslyn memapah tubuh Aya ke sofa. Mengambilkan air minum untuknya. "Minum dulu Ay, tenangkan diri kamu." Aya meminum pelan-pelan, Yeslyn mengusap kepalanya kemudian punggungnya. Dia sangat menyayangi Aya layaknya saudara kandung. "Kenapa bisa takdir kami terikat seperti ini, Yes?" katanya dengan lirih. "Ay, Allah Maha Berencana. Kita nggak bisa menentukannya sendiri. Semua takdir sudah tertulis, dan tinta sudah mengering. Seperti apa pun kamu menentang ini, jika yang tertulis ... kalian akan bersama, maka akan bersama." "Ini seperti meluruskan gumpalan benang yang sudah kusut, kita akan menemukan ujungnya, atau akan memutuskannya?" mata Aya mena

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN