Sinar senja menerpa wajahku, terhalang oleh pepohonan yang tinggi. Pepohonan yang jumlahnya tak terhitung itu menari nari di bawah senja yang hangat.
Burung-burung terbang di antara bukit yang jingga karena terkena cahaya senja, begitu indah sampai aku tak sadar matahari sudah terlanjur tenggelam, sebelum aku mempersiapkan diri untuk malam yang gelap.
Seperti biasa, aku segera bergegas untuk mencari kayu-kayu kering untuk di bakar. Sangat sulit mencari kayu bakar di malam hari, sangat gelap, aku hampir tidak bisa melihat apapun. Seakan terang tadi yang hangat seperti mimpi.
Aku kembali, memutuskan untuk berkemah di dekat sungai. Akan sangat mudah mengambil air jika aku kehausan, dan juga itu akan menghemat tenagaku.
Sisa dari kayu-kayu kering tadi aku gunakan untuk membuat pancingan, aku membuat tiga, untungnya sebelum berangkat aku telah mempersiapkan benang dan mata kail.
Setelah memasukkan umpan, aku menaruhnya di pinggiran sungai, berharap ikan besar memakannya.
Perbekalan ku sudah habis tak bersisa, sepertinya aku harus melewatkan makan malam, dan tidak lama aku jatuh tertidur.
***
Tengah malam terdengar gemercikan air, aku terbangun karenanya. Mataku sangat berat, berusaha untuk tetap siaga.
"Pancingnya!" Aku berseru membangkitkan diri.
Benar saja, pancingan itu berhasil menangkap ikan. Aku segera menari satu persatu. Ikannya tidak terlalu besar, namun sudah lebih dari cukup untuk mengisi perut yang kosong.
Aku melepaskan mata kail dari ikan itu, membersihkannya, dan menusuk ikan itu dengan kayu yang telah di tajamkan.
Aku mengambil kayu kering yang tersisa, melemparkannya ke api yang terlihat redup. Seketika api itu kembali membesar, aku segera membakar ikan yang telah ku tangkap.
"Seharusnya aku tidak lupa untuk membawa garam." Aku menghala nafas menyesal.
Aku menatap ikan yang sedang di bakar, sembari mendengarkan gemercik air sungai yang terus mengalir tak pernah habis di tengah kegelapan malam. Hanya ada bintang-bintang yang indah menyala redup melawan gelapnya malam.
Aku menatap ke langit, perasaan damai yang menjulur ke seluruh tubuhku. Hangatnya kobaran api membuat ku terasa nyaman.
Seketika kepalaku yang di penuhi piki ran seperti, bagaimana kabar ibu? Apakah kakak mengurus ibu dengan baik? Apakah mereka Baik-baik saja dengan gempa yang dasyat tadi?. Seketika menghilang. Namun ada sesuatu yang mengganjal tentang buku itu, apakah gempa tadi karena buku itu? Hahaha tidak mungkin. Kepalaku sekarang di penuhi pikiran-pikiran baru yang aneh.
Terlalu asik dengan lamunanku, aku hampir lupa dengan ikannya. "Uwaah, gosong sebelah"
Aku segera mengangkat ikan yang hitam sebelah karena gosong itu dan menyantapnya.
"Hambar, tapi tidak apa-apa?" Aku terlihat seperti orang yang kebingungan dengan rasa ikan itu.
Setelah menghabiskan ikan yang hambar dan hangus sebelah itu, aku segera jatuh tertidur kembali. Sebelum aku mengetahui bencana yang sesungguhnya.
Sebelumnya, aku merasakan kejanggalan. Terdengar suara keresek-keresek dedaunan yang samar. Tapi aku tidak terlalu memperhatikannya, dan terlanjur jatuh tertidur
Saat aku jatuh tertidur lelap, seekor singa yang sangat besar berlari dan menerkam kakiku.
"Aghh, s**l. Apa itu" Aku merintih kesakitan, dan menggeliat berusaha melepaskan terkaman singa itu.
Harimau itu menggerung seakan tidak akan melepaskan mangsanya. Di sisi lain aku yang hampir putus asa berhasil melepaskan terkaman singa itu.
Aku yang belum mengerti apa yang terjadi, lari pontang-panting berusaha menyelamatkan diri. Sesekali aku melihat kebelakang, Singa? s**l sepertinya aku tidak beruntung.
Singa itu ikut berlari mengejar, sangat cepat seakan lari ku adalah usaha yang sia-sia. Tapi aku terus berusaha berlari dengan kaki yang bercucuran darah, berlari dengan pincang.
"Pergi kau SINGA!" Aku berteriak dengan suara yang menderu, nafasku tidak beraturan, jantungku berdetak dengan cepat.
Singa itu mengaung sangat keras, mengetarkan sekelilingnya. Berkali-kali singa itu menabrak pepohonan yang kokoh, karena gelap.
Aku tidak tau mengapa singa ini menyerangku di malam hari? Apakah ada yang mengganggu mereka.
Berkali-kali pula aku terjatuh dan terbanting, sesekali juga tersandung agar akar besar tak terlihat dari pepohonan itu. "Sungguh, biarkan aku tidur dengan tenang" Aku mulai putus asa.
Aku berlari zig-zag untuk menjebak harimau besar itu oleh pepohonan yang lebat, sepuluh menit telah berlalu.
Rasanya aku mau pingsan, kesadaran ku hampir hilang. "s****n, keras kepala sekali!"
Tidak lama aku telah berhasil keluar dari hutan lebat, tapi singa besar yang keras kepala itu tidak berhenti mengejarku.
Aku melihat gua kecil, aku berlari ke lubang kecil di antara bebatuan itu. Tanpa berfikir aku masuk kedalamnya. Dugaanku benar! Singa besar itu tidak bisa masuk ke dalam sini.
Aku menunggu singa besar itu menyerah, dan setelah setengah jam menunggu harimau itu pergi dengan wajah yang marah. Aku keluar dari gua itu, dan bersandar kepada bebatuan besar yang ada di sekeliling ku.
Untungnya aku sempat bereaksi dan membawa ransel ku, aku segera mengambil kain di dalam ranselku untuk menghentikan pendarahan di betis kiriku.
Sakit sekali, aku kehilangan banyak darah. Dan jatuh pingsan.
Sinar matahari pagi yang hangat membangunkan ku dari tidurku yang panjang. Sudah tiga hari aku pingsan, begitu aku membuka mataku, terlihat pemandangan langit-langit yang asing.
"Ehh, aku ada di rumah siapa?" Aku beranjak bangun, dan duduk di atas kasur yang nyaman.
"Aku menemukan mu tergeletak di sekitar bebatuan, dengan darah yang bercucuran. Apa kau Baik-baik saja, Nak?" Seseorang wanita tua pemilik rumah ini menyelamatkan ku.
"Aku Baik-baik saja, Terima kasih telah menolong ku" Aku sangat berterima kasih kepada nenek itu.
"Kalau begitu jika kau sudah siap silakan turun ke bawah, aku telah menyiapkan makanan hangat untuk mu, Nak. Jika tidak segera, makanannya akan menjadi dingin" Nenek tua itu keluar dan menutup pintu.
Aku yang masih tidak mengerti situasiku saat ini, aku melihat sekitar, benar-benar terlihat asing bagiku. Langit-langit yang tinggi, tembok-tembok benton itu menjulang tunggi ke langit. Aku kehendak pergi keluar, seketika aku menyadari pintu yang kusentuh sangat cantik. Terdapat ukiran-ukiran yang sangat indah, seakan ukiran itu bersinar berkelap-kelip tanpa henti.
Sebenarnya aku tidak mengerti apa yang di ucapan nenek tadi "kalau kau sudah siap silakan turun ke bawah" Aku mengucap ulang perkataan nenek tua tadi. Aku tidak mengerti 'turun ke bawah', sebenarnya untuk orang yang dari daerah terperosok sepertiku sama sekali tidak tersentuh teknologi. Bahkan kami tidak tahu apa yang terjadi di luar sana.
Sejak tadi aku di herankan oleh keanehan ini, tapi aku menghela nafas panjang, dan melangkah kan kaki keluar dari kamar ini. "Astaga, apa-apaan ini" Aku terpesona melihat apa yang ada di luar.