#Dosa Terindah

2614 Kata
Dengan senyum berseri-seri aku berjalan menuju perpustakaan untuk menemui Pak Jackson seperti yang di mintanya padaku sebelum kelas tadi. Ku buka pintu perpustakaan dan masuk ke dalam. “di mana dia?” Aku mencari sosoknya. “ehmm… Liat Pak Jackson gak?” Tanyaku pada petugas penjaga perpustakaan. “dalem, masuk area ensiklopedia” “hhhh… ensi? Lagi?” Aku tak percaya kenapa dia senang sekali berada di antara buku-buku tebal seperti itu. “yaudah makasih yaa…” Akhirnya aku berjalan menelusuri rak-rak buku perpustakaan menuju pojok ensiklopedia tempat di mana Pak Jackson berada. “Pak” Panggilku dengan sedikit berbisik begitu ku temukan dirinya yang sedang berdiri dengan memegangi satu buku di tangannya. ia kemudian melambaikan tangannya padaku dengan senyum tampan di wajahnya itu. “lama banget datengnya… saya sampe pegel nunggu kamu tau” “ehhmm suruh siapa nunggunya di sini, sambil berdiri lagi, padahal di sana ada kursi kok” Balasku padanya. “aiuuuuhh... berani kamu bicara gitu sama dosen” Ucapnya sambil mengusap-usap puncak kepalaku. Aku hanya cengengesan saja tak lagi merasa takut atau canggung padanya. “tapi ada apa ketemu aku di sini Pak?” “ehmm… engga ada sih, cuma pengen pastiin aja kalo kamu ada peningkatan konsentrasi hari ini, jadi mau yaa… jadi subjek untuk salah satu mahasiswa saya yang lagi praktik psikodiagnosa?” “apa? subjek… ahhh… tapi Pak, aku kan udah tau semua kunci jawabannya… semester kemarin kan aku udah ambil mata kuliah itu” “oh ya?” “ehmmm….” Dan tak lama kemudian seorang mahasiswa datang menghampiriku dan Pak Jackson. “jadi gimana Pak?” Tanyanya begitu tiba, matanya langsung menatap ke arahku dengan senyum malu-malu yang di kulumnya. aku hanya memabalas dengan sama tersenyum padanya, sepertinya ia cukup dekat dengan Pak Jackson, karenanya baik bagiku untuk sedikit dan singkat saja menyapanya, begitu pikirku. “i- ini… subjek saya?” Tanyanya dengan senyum yang masih di kulumnya. “seharusnya… tapi dia udah ambil kelas PSD semester kemarin, jadi kayanya kamu harus cari sendiri subjek kamu, Max” Balas pak Jackson. Kemudian tergambar raut sedih ku perhatikan tampak dari wajah mahasiswa yang bernama Max itu. “yaaah sayang banget… kalo gak bisa jadi subjek, boleh gak… kita kenalan aja?” “Max… kamu?” Ucapnya tiba-tiba, dengan tangan yang kini sudah di ulurkannya tengah menunggu untuk bisa berjabatan denganku. “ehmmm…” Aku menatap Pak Jackson sekilas. Dan saat aku akan menjabat tangannya itu, tangan Pak Jackson malah meraih tangan Max itu dan mewakiliku untuk bersalaman sebagai perkenalan degannya. “Irene Kim… sudah” “Pak ih… mau salaman juga…” Ucap Max sambil menarik cepat tangannya yang baru saja malah jadi di genggam oleh Pak Jackson. “mending kamu cepet pergi cari subjek lain gih… karena dia lagi ada urusan sama saya” Ucap Pak Jackson, Max hanya bisa menatap dosennya itu dengan ekspresi datarnya, karena kesal kini. “hhh… giliran yang cantik aja pengennya di ambil sendiri” Gerutunya. “apa? ngomong apa kamu?” “engga Pak, ini mau pergi…” Ucapnya, sambil menyempatkan diri untuk tersenyum padaku sebelum kemudian ia berjalan pergi menjauh dariku dan Pak Jackson. “hhh… dasar genit, jangan senyumin dia balik…” Ucapnya padaku. “apa? engga… siapa yang senyumin dia balik coba…hahhh” Tingkahnya Pak Jackson jadi aneh sekali, bahkan wajahnya sudah sedikit di tekuknya sekarang ini. “yaudah sekarang jadinya apa? aku kan gak akan jadi subjek… terus aku harus gimana sekarang? Ada lagi yang harus aku kerjain?” Tanyaku pada Pak Jackson. Ku lihat ia sedikit berpikir saat ini. dan jarinya mulai mengetuk-ngetuki buku yang sedang di pegangnya itu. kutebak itu adalah salah satu kebiasaannya “ehmmm… berhenti ketukin jarinya gitu ih… serem deh” Kataku sambil ku pegangi tangannya, untuk menghentikan jarinya yang mengeluarkan suara yang cukup mengganggu telingaku. “oh?” Pak Jackson menatapku yang kini sedang menggenggam tangannya. Diam kemudian, tak ada kata apapun lagi yang di ucapkan. hanya mata yang kini sibuk saling memandang. Tiba-tiba… “ahhh… emmhhhh” Aku menoleh ke samping begitu ku dengar suara desahan itu. mataku terbelalak saat ku temukan sepasang mahasiswa yang tengah b******u hanya terhalang dua deretan rak buku dari tempatku berdiri. Aku langsung membungkam mulutku dengan kedua tanganku, tak percaya dengan apa yang tengah ku saksikan. “aishhhh anak naka-“ Ku bungkam mulut Pak Jackson dengan tanganku dan menyudutkannya ke dinding untuk bersembunyi dari mereka. “ssssttttt… nanti mereka tau kalo kita di sini” Bisikku pelan pada Pak Jackson. Dan kulihat mereka semakin liar berciuman di sana. untung saja aku berhasil menyeret Pak Jackson menjauh dari mereka karena kini entah bagaimana keduanya sudah berada tak jauh dari tempatku berdiri tadi dengan Pak Jackson. Ku lihat mereka akan melakukan hal yang lebih jauh lagi, bahkan mataku hampir saja loncat saat si wanitanya kini sedang berusaha membuka resleting celana si pria yang tengah mencumbunya itu. Namun satu detik kemudian wajahku sudah di palingkan oleh Pak Jackson, di buatnya aku jadi menghadapnya dan menatap wajahnya. “jangan di liat” Ucapnya pelan, “ehmm?” Dalam posisi aku yang sudah begitu dekat dengannya kini, di tambah dengan jarak yang sudah tak ada karena aku juga yang entah bagaimana bisa jadi begitu merapatkan diri padanya yang bersandar di dinding perpustakaan ini. Masih menatapnya. Wajahku terasa panas sekali. dan lagi aku di buat jadi tak bisa bernapas dengan benar saat ini. “ahhhh… emmhhhh” Ku dengar desahan mereka yang terdengar begitu jelas di telingaku. tiba-tiba saja aku merasa begitu kegerahan. kikuk sudah aku di depannya sekarang ini. “ahh… kenapa mereka kaya gitu di sini sih” Gerutuku sambil akan menjauhkan diri dari Pak Jackson. Tapi kemudian tangannya menghentikanku dengan memegangi pinggangku, menahan tubuhku pergi menjauh darinya. “jangan di ganggu… nanti bisa jadi skandal kampus” Ucapnya dengan nada yang begitu berat dan terdengar sedikit serak. ‘Kenapa suara Pak Jackson jadi gitu sih… bikin bulu-bulu aku jadi berdiri giniii’ “aaahhh sayang… teruss ahhhh” “gulp” Aku jadi menelan ludahku dengan sangat susah, saat racauan mereka terdengar semakin menggila. wajah Pak Jackson denganku jadi begitu dekat bahkan bisa kurasakan hembusan udaranya di wajahku. Pipiku pasti merah sekali sekarang ini. aku tak berani menatap Pak Jackson karena terlalu malu. tanganku kini hanya bisa ku kepalkan di depan dadanya yang terasa begitu kokoh. “ehmmm… ahhhh sayang ini ahhhh nikmat” ‘Mereka ini bener-bener gak waras’ kutukku dalam hati. Aku sudah tak tahan ingin lari jauh-jauh dari dua orang gila itu. ku lirik sekilas wajah Pak Jackson, ia malah sedang mengulum senyumnya, aku tebak ia pasti ingin menertawakan aku yang sangat canggung dan kikuk saat ini. “kenapa jadi aku yang malu siiii… padahal mereka yang lagi ‘gituannya’ kan” Gumamku sangat pelan, sebelum ku tenggelamkan wajahku di d**a Pak Jackson, untuk bersembunyi di sana. “hhhh…” Pak Jackson sedang berusaha menahan tawanya saat ini. sampai kupukul saja dadanya pelan. “apa?” Bisiknya di telingaku. “jangan ketawa… ini gak lucu Pak” Balasku sama berkata dengan berbisik padanya. “ahhh…sayang … ahhhh aku sampe… ahhhh di dalem…hahhh” ‘ahh… yang bener aja mereka itu…’ Telingaku terasa sangat panas sekali harus mendengar erangan pelan mereka yang sepertinya hampir klimaks itu. aku semakin merapatkan diriku pada Pak Jackson, bergerak gelisah kelapaku kini di dadanya, tapi kemudian tangan Pak Jackson mengusap-usap rambutku pelan sampai aku bisa sedikit tenang. Aku mendongak padanya. “biar saya tutup telinga kamu” Bisiknya, lalu kedua tangannya menutupi telingaku. aku tak percaya apa sedang ku lakukan bersamanya di sini dan sekarang ini. mataku menyusuri wajahnya mulai dari halis tebalnya, mata dalamnya, hidung mancung sampai bibir yang kini terlihat lebih merah dari biasanya. “hhh…” Itu terlalu dekat. Jarak wajahku dengannya kini ku rasa semakin merapat. Sampai aku memejamkan mataku takut pada apa yang akan terjadi berikutnya. “huhhhhhhh” Udara dingin kurasakan di hembuskannya di wajahku. “mukamu sampe merah gini gara-gara kegerahan…” Ucapnya, aku langsung membuka mataku dan menatapnya. “huhhhhh… huuhhhhh…” Lagi Pak Jackson menghembuskan napasnya di pipi kanan dan kiriku. Rasanya memang sangat nyaman di tiupinya seperti itu. “apa mereka udahan?” Tanyaku “sebentar lagi… lagi beresin baju mereka yang berantakan” Ucapnya, “udah?” “ehmmm sekarang udah… mereka pergi” “hhhhh… akhirnya…” Kataku dengan leganya ku sandarkan tubuhku pada Pak Jackson, membuatnya jadi penahan tubuhku yang lemas karena sempat di buat sangat tegang barusan itu. “hahahahhh… ada-ada aja si… kenapa setiap ketemu kamu adaaa aja kejadian anehnya…” Harus ku akui yang satu itu. “liat saya… ini pipi kamu kenapa sampe panas sama merah banget gini hahahah…” Ucapnya puas, dengan tangan yang tengah meraih wajahku kemudian di belainya kedua pipiku. “gak tauuu…” Jawabku pasrah. “h***y yah… denger gituan?” “iiihhh… Pak Jackson apaan si” Kataku sambil menjauhkan diri darinya dan kupukuli pelan dadanya. “ahh… kamu berani pukul-pukul dosen kaya gini?” “bodo amat” Kataku langsung pergi meninggalkanya. Tapi kemudian Pak Jackson berjalan mengikutiku sampai keluar perpustakaan. “masuk mobil, ikut saya buat isi laporan” “ehm?” “ayoo cepet” Tak sempat aku mengiyakan, tanganku sudah di tarik olehnya lalu di buatnya masuk ke dalam mobilnya, dan kini sudah duduk di samping kursi kemudinya. Hanya butuh waktu sepuluh menit saja untuk bisa sampai di apartemennya. Sekarang aku sedang duduk kursi ruang kerjanya. Apartemennya cukup rapi dan bisa ku tebak Pak Jackson orangnya apik sekali. “ehmmm… Pak, laporan apa yang harus di isi?” Tanyaku, “sebentar…” Pak Jackson kemudian berjalan membuka pintu yang ternyata itu adalah kamar tidurnya. dan anehnya aku reflex memalingkan wajahku, dari ruang yang begitu privasi baginya itu. Pikiranku seperti benang kusut saat ini, sudah di jejali dengan pemandangan tak senonoh di perpustakaan tadi dan kini malah di hadapkan pada ranjang… yang… ehem… aargghhhh hancur sudah isi kepalaku di racuni oleh sesuatu yang dirty seperti itu. “Irene… bisa ke sini sebentar” “ah… iya Pak” Aku langsung masuk ke dalam kamarnya untuk menghampirinya. Kulihat Pak Jackson sepertinya sedang mencari berkas yang beberapa sudah di letakannya di atas tempat tidurnya. “ini… kenapa semua ini di sini?” Tanyaku heran padahal Pak Jackson punya meja kerja, tapi kenapa semua berkasnya berantakan dan berserakan di kamarnya begini. “ahh… saya kerjain itu semalem karena di buru waktu, terus kepala saya juga sedikit pusing … makanya saya kerjain di sini tadi malem… yaaa berantakan gini deh jadinya” Aku hanya mengangguk-angguk saja mendengarnya. “itu… yang di atas tempat tidur di susun sesuai halamannya, pastiin di bikin per draft” “aku… naik? Ke sana?” Tanyaku sedikit kikuk karena semua benar-benar berantakan di atas tempat tidurnya jadi tak mungkin jika aku tak naik ke atasnya untuk memunguti dan menyusunnya. “iyaa … ayo cepet, susun di sana” Aku dengan sedikit ragu-ragu, untuk pertama kalinya aku menaiki tempat tidur seorang pria, dosenku pula. “hhhh…” Aku mulai menyusunkan semua berkas itu, sesuai permintaannya ada empat draft yang berbeda yang harus ku rapikan. Tak butuh lama semua sudah ku susun sesuai permintaannya. “selesai Pak” “masukin data itu ke laptop saya… bisa?” Aku mengangguk saja padanya. tanganku kemudian meraih laptopnya dan ku tekan tombol turn on di sana. Dan begitu kunyalakan. “ahhh… ehmmmm… faster… ahh ahhh” Aku terperanga saat mataku yang langsung di sambut oleh film yang tengah melakukan adegan yang tak jauh berbeda dengan apa yang di lakukan dua mahasiswa tadi di perpustakaan. Bahkan itu lebih panas dan bisa dengan jelasnya ku lihat. “ooohhh… sini sini sini” Pak Jackson langsung merebut laptopnya itu dari tanganku. Aku hanya menatapnya tak percaya. menunggu penjelasan darinya. “ini… ini… biasa… pria” “hah? Yang bener aja… ahahhaha… aiuuhhhh kenapa hari ini aku harus lagi lagi liat yang aneh gitu” Gerutuku, “ini gak aneh, ini manusiawi…” Jawabnya. “ngeles deh…” “eehh… serius… s*x itu perlu, karena itu kebutuhan biologis” “makan juga cukup Pak buat penuhin kebutuhan biologis” “itu beda Irene, kebutuhan yang ini harus di penuhin” Ucapnya sambil menujuk miliknya. “aaahhh… Pak Jackson ini apa-apan siii” Kataku, reflex langsung ku tutupi kedua mataku saat ia menujuk miliknya begitu. “gak usah tutup mata gitu… ini masih ke bungkus rapi kok, udah itu masukin datanya cepet” “iyaaa….” Lama aku memasukan data-data itu. dan semakin banyak data yang ku masukan, aku menemukan angka kerugian yang begitu besar pada laporan peng-cancelan agenda penelitian mutiara yang kemarin ku kacaukan. Rupanya itu adalah untuk sebuah projek besar-besaran. Seharusnya saat ini, Pak Jackson sudah bisa mendapatkan data yang mem-validkan perusahaannya untuk meluncurkan brand terbaru dengan mutiara langka itu. aku jadi merasa sangat bersalah padanya. dan anehnya… Pak Jackson malah sangat baik sekali padaku. Aku pikir, aku tak bisa membiarkannya begitu saja meng-cancel proyeknya itu, aku harus bisa menemukan mutiara yang sama dengan yang ku remukan itu. ya… aku harus membalas semua kebaikannya padaku. “hhhh… lelah akhinya selsai juga” Pak Jackson merebahkan dirinya tepat di sampingku yang masih duduk di atas ranjang tempat tidurnya. “Pak… ini- apa semua angka ini benar-benar real kerugian yang harus Pak Jackson tanggung?” Tanyaku padanya. “ehmm… itu hanya perkiraan, dan angka bersihnya baru akan aku tahu setelah semua data resminya di proses oleh orang perusahaanku” Ucapnya. Aku semakin tak enak padanya. “kenapa?” Ia mendongak padaku, “ehmmm… ini gak akan kaya gini kalo aku gak ngacauin kemarin kan?” “ehmm… kamu kacauin semua…” Aku menunduk jadinya. “kamu harus ganti itu, bisa?” “kalo aku bisa…. aku udah ganti sejak awal Pak” Jujurku. Pak Jackson tiba-tiba mendekat dan menaruh kepalanya di atas pahaku. “ahhhh… ganti pake waktu, buat bisa kaya gini aja… ini lebih baik… aaahhh aku lelah” Ucapnya sambil memejamkan matanya. wajahnya terlihat begitu tenang dalam pangkuanku. Entah mendapat keberanian dari mana tanganku kini tengah ku sentuhkan di wajah tampannya yang sedang terpejam itu. ku belai pipi bahkan sampai ku sapukan jariku di bibirnya. Pak Jackson membuka matanya kemudian. “ehmm… ini bakal jadi sama kaya adegan tadi, kalo kamu sentuh saya lebih jauh…” Pak Jackson melayangkan peringatannya padaku. namun justru aku malah semakin berani menarikan jariku turun ke rahang dan menyentuh adam’s apple miliknya, yang membuatnya terlihat begitu jantan. dapat kurasakan dirinya yang kini tengah menelan ludahnya. “Irene…” “ehmmm…” Ku jawab seadanya begitu dengan senyum di bibirku untuknya. Lalu ku pegangi lehernya, dan tak sengaja jari-jariku menyentuh daun telinganya saat akan merayap menyentuh lebih jauh ke bagian belakang lehernya, Pak Jackson ku buat bergetar karenanya. “kamu ingin saya berbuat dosa? Ehmm?” Tanyanya dengan napas yang sedikit tertahan, aku hanya menatapnya dengan senyum yang masih sama. Ku tundukan kepalaku untuk mencari daun telinganya. “itu akan jadi dosa terindah Pak” Bisiku seduktif padanya. dan dalam sekali gerakan saja ia sudah bangkit dan membuat posisiku berada di bawahnya. “kamu… jangan bikin saya lakuin hal gila ya…” ingatnya sekali lagi dengan menatapku lebih intens dan serius kini. kurasakan deru napasnya yang jadi memburu, dadanya kembang kempis dengan sangat jelas terlihat di depan mataku. Sampai tanganku ingin memastikan itu. “d**a Pak Jackson sampai sekencang ini detaknya…” Kataku sambil ku sapukan tanganku di dadanya. “itu karena kamu…” Tanganku di tuntunnya untuk mengalung di lehernya dan detik berikutnya ia sudah semakin dekat saja, sampai kurasakan sentuh lembut bibirnya di bibirku, darahku berdesir hebat saat kurasakan bibirnya yang mengulum bibir bawaku dan mencoba menerobos masuk ke dalam ronggaku. “ahhh…” Tangannya sedikit menggoda area sensitive di perutku sampai aku mendesah seperti itu, tak di sia-siakannya, lidahnya di lesakannya kedalam ronggaku. Menyapa miliku dan bermain sampai membelit lidahku di dalam. Sentuh lembut tangannya di tubuhku, membuatku merasa tak cukup dengan apa yang sedang ku lakukan dengannya itu. hanya decakan kini yang menjadi satu-satunya suara yang terdengar mengalun begitu menggoda memenuhi ruang kamar tidurnya. “ahhh…hhh…” Pak Jackson lalu melepaskan ciumannya saat tahu aku sudah kehabisan napas. “Irene….” Panggilnya dengan tatapan meminta, tahu maksudnya apa. aku hanya memberikan anggukan sebagai izin dariku padanya. “hhhhh…” …. Backsound ~ Pemujamu .... Kali ini 'ku telah jatuh ke dalam Dosa begitu besar Terlalu mencintai begitu dalam Mata itu berhasil hipnotisku Menjerat nafsu jiwa Mengurungku ke dalam keindahan Rasanya ingin malam ini Menciummu hingga lemas Rasanya ingin malam ini Memelukmu hingga terlelap Kau bagaikan simbol semesta alam Dan aku pemujamu Setiap saat bersimpuh di hadapmu Kau memegang semua kehidupanku Keluar dari derita Menuju kedamaian yang ilahi Rasanya ingin malam ini Menciummu hingga lemas Rasanya ingin malam ini Memelukmu hingga terlelap Tuhan, tolong segera sadarkan Aku dari semua Pengaruh sihir cinta mati Aku kepadanya Rasanya ingin malam ini Menciummu hingga lemas Rasanya ingin malam ini Memelukmu hingga terlelap Kuingin ini bukan hanya sekedar mimpi belaka Kuingin ini menjadi dosa terindah dalam hidupku
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN