Hampir Seperti Pesuruh

1011 Kata
Nyonya Affandi masih belum bisa percaya jika menantunya memiliki uang sebanyak itu. 250 milyar adalah jumlah yang sangat luar biasa. Sedangkan yang dia tahu, Dyta tak membawa apa pun dari rumah Tuan Akan saat dia dan Zavier menikah. Sementara Dyra sedang berada di bawah siraman air shower kamar mandinya. Dia yang merasa hancur hanya bisa meratapi nasib buruk pernikahan yang dia jaga selama ini. Wanita malang itu, tak lagi bisa mengeluarkan air matanya. Dia hanya diam seribu bahasa dengan mata yang sembab setelah sepanjang hari menangisi keterpurukannya sebagai seorang istri. "Buka pintu, Dyra." Suara Nyonya Affandi terdengar dari balik pintu. Tak ada jawaban apa pun dari dalam kamar menantunya itu, Nyonya Affandi memaksa masuk dan mendengar suara dari dalam kamar mandi. Wanita tua itu mendekati pintunya dan coba mengetuk. "Kamu mandi, Dyra?" Wanita itu bertanya, tapi Dyra masih tidak menjawab. Merasa diabaikan, Nyonya Affandi memilih untuk menunggu menantunya itu di sofa dalam kamarnya. Dia duduk sembari menatap lekat foto pernikahan Dyra dan Zavier yang tergantung di atas ranjang mereka berdua. Jelas jika keduanya nampak sangat serasi, selain itu mereka juga pasangan yang seimbang. Zavier termasuk pria yang memiliki wajah tampan dan Dyra adalah wanita yang begitu cantik serta anggun. "Ada apa, Ma?" Dyra langsung menghardik ibu mertuanya yang terlihat duduk. "Masih butuh pembuktian tentang apa yang sudah aku berikan pada putramu?" desaknya. "Aku tak butuh bukti, Dyra. Aku sudah memastikan jika uang itu benar dari penjualan aset-asetmu. Aku akan bicarakan pada Zavier untuk menyelesaikan semuanya," jelas Nyonya Affandi. "Aku beri waktu satu minggu untuk mengembalikan uang itu, jika benar kalian bisa mengembalikan," balas Dyra. "Wah, kamu bisa menyombongkan diri sekarang," sebut Nyonya Affandi. "Menantu mandul yang mengaku memilih menunda punya anak karena menganggap putraku tak bisa menghidupinya," hina ibu mertua Dyra. "Silakan Mama keluarkan kalimat-kalimat kasar yang ada di muka bumi ini. Aku tak akan terpengaruh," bantah Dyra dengan berani. "Jika kamu menerima kodratmu, kamu tak akan menunda punya anak, Dyra. Kamu begitu licik dan menggunakan aku sebagai alasan bagimu untuk menunda kehamilan," imbuh Nyonya Affandi. Dyra hanya tertawa mendengar ibu mertuanya bicara tanpa arah. Perempuan itu tahu jika Nyonya Affandi sedang mencari kesalahannya agar bisa leluasa menggunakan Dyra sebagai bulan-bulanan. Sehingga Dyra tak memberinya kesempatan sedikitpun untuk menghinanya. "Kalau sudah tak ada yang penting, Mama bisa keluar lewat pintu yang ada di sana, Ma." Dyra mengusir sang ibu mertua. "Mama cuma ingin mengabarkan jika suamimu ...," jelas Nyonya Affandi terpotong. "Aku tak peduli lagi padanya, aku akan selesaikan setelah dia sampai. Aku tak akan membiarkan dia lolos." Dyra mengancam. "Keluar sekarang, Ma," usir Dyra lagi Wanita itu tak lagi peduli dengan kewajiban menghormati orang tua. Dia merasa dimanfaatkan dan dikhianati secara bersamaan. Dyra masih tak percaya jika ibu mertuanta juga mengetahui apa yang sebenarnya terjadi antara Zavier dan Kikan selama ini. Apa pun alasan mereka berdua berhubungan, yang jelas itu melukai hatinya. * * * Perjalanan panjang Zavier dan Kikan telah usai. Mereka mendarat dengan selamat dan segera menuju hotel. Mengingat mereka bukan siapa-siapa di negeri orang, Zavier dan Kikan berjalan bebas tanpa harus memikirkan media. Mereka berdua melenggang tanpa rasa malu walau pada kenyataannya hubungan yang mereka miliki adalah hubungan gelap. Sampai di hotel, ponsel Zavier berdering. Layar benda pipih itu menampilkan nama ibunya yang menandakan wanita itu ingin bicara padanya. "Aku angkat telepon dulu," kata Zavier pada Kikan. Sementara Zavier menjawab teleponnya, Kikan membaringkan tubuhnya ke ranjang. Dia menatap ke arah jendela balkon dan mendapati Zavier berada di sana. Tatapan mata wanita itu nampak sabgat serius. Zavier berhasil membuat Kikan jatuh cinta dengan sangat dalam padanya. "Ada apa, Ma?" tanya Zavier. "Dyra melihat kita di bandara, Zavier." Nyonya Affandi menjelaskan. "Aku tahu, Ma. Aku mendengarnya memanggilku, tapi aku berpura-pura tak mendengar apa pun. Biarkan saja, dia tahu aku pergi bertemu klien," jelas Zavier. "Bodoh sekali kamu, dia bahkan tau kalau kamu berhubungan dengan Kikan. Dia tahu segalanya, Zavier," katanya. "Apa? Mama salah dengar mungkin. Tak mungkin dia tahu, Kikan bukan model sembarangan, Ma. Dia punya pengamanan yang tak bisa ditembus oleh apa pun." Zavier masih tak percaya. "Kamu harus dapatkan investasinya, setelah kamu kembali kamu harus menghadapi istrimu. Jika kamu kehilangan Dyra, setidaknya kamu mendapatkan investasi dari Kikan." Nyonya Affandi menyusun siasat. "Apa maksud, Mama? Aku pasti dapatkan investasinya," jawab Zavier singkat. Zavier masih tak mengerti, dia bingung dengan berita Dyra tahu segalanya tentang dirinya dan Kikan. Dia melihat sendiri bagaimana keamanan artis itu yang tak bisa ditembus oleh siapapun selama ini. Sehingga bagi Zavier tak mungkin orang seperti Dyra bisa tahu. "Sayang, aku butuh air panas. Kamu bisa siapkan untukku?" pinta Kikan pada Zavier. Kalimat perintah itu menembus sambungan telepon Zavier. Secara tidak langsung, Nyonya Affandi mendengar jika wanita itu memerintahkan putranya untuk menyiapkan air panas untuk mandi. "Ma, aku harus tutup teleponnya sekarang. Aku harus pergi," balas Zavier dan sambungan telepon segera berakhir. "Baiklah, Sayang. Akan aku siapkan," kata Zavier setelah kembali ke dalam kamarnya. "Astaga, menyiapkan air panas untuk mandi?" ujar Nyonya Affandi syok. "Kamu jadi budaknya, Zavier?" lanjutnya. Dari balik dinding ruang tengah, Dyra mendengarkan suara percakapan suami dan ibu mertuanya itu. Dyra menarik sebuah kesimpulan atas hubungannya dengan Zavier. Dyra menjadi tahu jika Nyonya Affandi akan membuatnya ditendang oleh Zavier dan menggantikan posisinya dengan kehadiran Kikan. Jelas sekali rencana yang mereka susun itu. "Aku harus melakukan rencana yang selangkah lebih maju dari yang mereka miliki. Setidaknya aku harus bisa membuat Zavier hancur terlebih dahulu karena melakukan ini padaku," tekad Dyra begitu bulat. Dendam di dalam dadanya membara dan sesekali apinya memercik. Dia mengumpulkan keberanian dalam dirinya untuk memberi pelajaran pada sang suami. Dyra sendiri saat ini, tak ada yang bisa dia hubungi untuk sekedar bercerita akan apa yang terjadi dalam hidupnya. Sehingga dia menampung semua sendiri di dalam hati dan pikirannya. "Apa yang kamu lakukan, Dyra?" Nyonya Affandi memergoki Dyra yang melamun di balik dinding. "Mama harus hati-hati. Aku akan selalu membayangi rencana-rencana Mama untuk menghancurkan aku. Mari kita lihat, apa yang akan terjadi pada kalian," balas Dyra dan dia beranjak. "Puas puaskan dirimu berada di sini, Dyra. Kamu akan segera ditendang oleh suamimu dan menantu kaya raya akan datang," lirih Nyonya Affandi.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN