Dyra hampir menyerah dengan keadaannya saat itu, baginya tak mungkin dia bisa menembus penjagaan ruang boarding langue itu. Dia berbalik arah dan tanpa disangka seseorang tengah berjalan ke boarding langue yang dia maksud.
"Tuan," panggilnya pada seorang pria yang dia tabrak bodi belakang mobilnya tadi. Dengan cukup percaya diri, Dyra berjalan menghampiri pria itu.
"Anda siapa? Minggir!" seru seorang pengawal pria itu.
"Saya mengenal Tuan itu, kami baru saja bertemu," balas Dyra dengan penuh percaya diri.
"Tidak mungkin, dia orang penting. Jangan membuat bualan," sahut pengawal lain.
"Saya tidak bohong," sanggah Dyra. "Tuan, tidakkah Anda ingat padaku. Kita baru saja bertemu di lampu merah," seru Dyra.
Mendengar kalimat itu, langkah kaki pria itu segera berhenti. Dia membeli tubuhnya dan jelas dia mengetahui siapa wanita yang berusaha menerobos penjagaannya. Dengan cukup terkejut dia kemudian mendekati Dyra yang nampak penuh peluh keringat.
"Kamu, ada apa kamu di sini?" tanyanya.
"Tuan, Anda akan ke boarding langue itu?" tanya Dyra dengan cukup jelas.
Pria itu menaikkan satu alisnya, dia tak begitu mengerti dengan apa yang Dyra tanyakan. Dia merasa wanita itu butuh sebuah bantuan.
"Kamu butuh bantuan?" tanyanya kemudian dan langung dibalas dengan anggukkan kepala oleh Dyra. Dia memanfaatkan kesempatan itu untuk mengatakan apa yang sebenarnya dia butuhkan saat itu.
"Tuan, suamiku berada di sana dengan wanita lain," kata Dyra berbisik.
"Ah, ini urusan rumah tangga? Aku tak akan melakukannya," jawab pria itu tegas.
"Tuan, aku mohon." Dyra meminta seperti orang yang sedang terhimpit.
"Tapi," balasnya setengah tak tega.
Dyra merasa dia harus melakukan sesuatu agar pria itu tak menolaknya, dia menggandeng tangan pria itu dan memaksanya untuk membawanya ke tempat yang dia inginkan. "Pa-apaan ini?" keluhnya kesal.
Dengan sangat terpaksa Dyra masuk ke area boarding langue itu dengan menggandeng tangan pria asing yang sama sekali tak dia kenal itu. Sungguh jika diingat itu adalah hal yang sangat memalukan. Pria yang mobilnya sudah dibuat ringsek itu masih harus membantu Dyra masuk ke area yang dia pikir akan menjadi tempat untuk memergoki suaminya berselingkuh dengan wanita lain.
Dyra segera melepaskan tangan pria itu dan berjalan bebas di dalam sana. Area boarding yang hanya ditempati oleh para orang kelas atas itu memang jauh lebih sepi dari pada area lainnya. Dyra seketika lupa jika dia tak akan pernah bisa masuk kecuali karena pria itu. Dia berhambur begitu saja tanpa terima kasih dan tanpa ucapan selamat tinggal.
"Dia Dyra, bukan?" Pria itu bertanya pada pengawalnya.
"Dyra?" Pengawal itu tampak terkejut dengan pertanyaan pria itu.
"Hm, aku tahu. Dia adalah Dyra." tanpa membahas apa pun lagi, pria itu segera pergi ke tempat di mana seharusnya dia berada saat itu.
Sementara Dyra mencari kesana kemari keberadaan sang suami yang dia curigai berada di tempat itu untuk berangkat ke Hawaii bersama Kkan. "Aku yakin, mereka past mash di sini," ujarnya sembari terus memindai setiap sudut.
Sayang sekali, setelah mencari selama puluhan menit dia tak menemukan apa pun. Dia bahkan tak melihat Kikan yang baru saja masuk ruangan itu. Dengan hati yang sangat kesal, wanita itu memutuskan untuk keluar karena beberapa pasang mata mulai menaruh curiga atas keberadaannya di sana.
"Mereka sudah pergi? Apa benar secepat itu?" tanyanya tanpa ada yang bisa menjawab.
Dyra berjalan menuju tempat mobilnya terparkir dan tanpa sengaja dia melihat Zavier turun dari sebuah taksi di terminal pemberangkatan. "Mama," katanya penuh dengan rasa terkejut. Dyra melihat Nyonya Affandi juga turun dari taksi itu bersama sang putra. Mereka nampak saling berpamitan dan tak lama berselang Nyonya Affandi segera masuk kembali ke dalam taksinya. Mendapati hal itu, Dyra segera berlari mengejar suaminya yang mulai masuk ke bandara. Sekuat tenaga dia mencapai titik kedatangan sang suami untuk meminta penjelasannya.
"Zavier!" teriak Dyra memanggil sang suami. Namun, karena tempat yang terlampau padat dan cenderung berisik, Zavier tak mendengar panggilan Dyra. Dia terus saja berjalan pergi ke area pemberangkatan.
Dyra hanya bisa melihat suaminya melalui pos pemeriksaan dan kemudian berjalan menuju pintu masuk pesawat. Tentu saja Dyra tak bisa berbuat apa-apa, dia menyadari jika memaksakan keadaan pun tak akan mengubah apa-apa. Dia tak memiliki kuasa untuk menerobos masuk tempat itu.
"Singapura," katanya membaca tujuan penerbangan yang diambil Zavier.
Dyra yang sudah dalam keadaan putus asa akhirnya memilih untuk pulang, dia hanya bisa berharap mendapatkan penjelasan yang masuk akal dari ibu mertuanya. Dia sangat yakin Nyonya Affandi mengetahui sesuatu karena beliau nampak mengantar putra tunggalnya itu ke bandara. "Mama past tahu sesuatu," ujarnya dan segera melajukan kendaraannya untuk pulang.
Sementara di sisi lain, Zavier sudah berada di kursinya. Dia memikirkan apa yang akan menjadi masa depannya. Yang dia inginkan hanya segera mendapatkan investasi dari model yang kini tengah tergila-gila padanya itu. Zavier mengatur waktunya dengan sangat tepat, kesempatan itu tak akan datang untuk kali kedua, sehingga dengan kesempatan yang ada saat ini, dia berusaha keras untuk membuat semua menjadi mudah. Jalannya untuk lepas dari tekanan hidup karena perusahaan yang hampir bangkrut itu akan segera selesai.
"Jelas sekali Dyra memanggilku," ujarnya yang tiba-tiba ingat jika sang istri memanggilnya.
Ternyata Zavier mendengar Dyra yang berusaha menghentikan kepergiannya, hanya saja dia berpura-pura tak mendengar agar tak merasa bersalah pada wanita itu.
"Dia tak berguna, bahkan ini terjadi karena kesalahannya sendiri yang terlalu egois karena tak mau meminta bantuan pada papanya. Jika saja dia menuruti untuk meminta bantuan Tuan Anan, ini semua tak akan terjadi," katanya dengan sangat percaya diri.
Pria itu mencari pembenaran untuk kesalahan yang dia perbuat. Pernikahannya dengan Dyra dimulai dengan cinta yang sangat kuat. Keduanya saling jatuh cinta dan merasa sangat cocok hingga memutuskan menikah walau tanpa restu Tuan Anan. Namun kini semua tinggal sebuah kenangan, dengan sadar Zavier mengkhianati istrinya dengan bermain api. Model cantik nan kaya raya itu membuat pria itu bertekuk lutut dalam sekali tepuk.
"Jangan pernah menyalahkan aku, Dyra. Ini adalah salahmu sendiri. Ini adalah akibat dari sikap egoismu," ujarnya dan berusaha menutup matanya untuk membuat semua yang sudah menjadi tekadnya lebih mudah.
"Bukan, Zavier. Ini bukan salahku. Sama sekali bukan salahku," kata Dyra. "Kamu menggunakan aku sebagai tameng atas kesalahan yang kamu perbuat? Sebrengsek itukah dirimu? Tega melakukan ini semua setelah apa yang aku lakukan untukmu. Setelah aku menjual segala aset dan menguras seluruh saldo tabunganku?" suara itu semakin memekik telinga Zavier.