Pesta Sang Model

1134 Kata
Dyra mencoba menenangkan dirinya sendiri. Wanita itu berusaha keras untuk tak terpancing apa pun. Walau kekecewaan yang dia telan tak terkira lagi rasanya, tapi Dyra bertekad untuk tetap tenang. Dia hafal benar dengan Zavier yang bisa saja lepas kendali jika melihat Dyra kalap. Seperti biasa, wanita itu selalu menunggu suaminya pulang walau sampai larut malam. Dyra akan melinguk ke jendela sampai puluhan kali setiap kali menunggu Zavier pulang. "Kenapa tidak tidur saja? Suamimu lembur, bukan?" tanya ibu mertuanya. "Tidak, Ma. Entah dimana dia berada, tapi aku tahu Zavier tidak sedang lembur. Aku akan menunggunya." Dyra masih menutup rapat tujuannya. "Apakah terjadi sesuatu? Tak biasanya kamu menunggu suamimu, jika tak ada maksud lain," tuduh Nyonya Affandi. Dyra melirik ke arah ibu mertuanya, dia merasa wanita itu terlalu ingin tahu. Sehingga perasaan kesal bercampur dengan amarahnya pada Zavier tak bisa lagi Dyra kendalikan. "Apa menurut Mama begitu? Apakah ada yang salah jika seorang istri menunggu suaminya pulang?" balas Dyra bernada kesal. "Kenapa nada bicaramu seperti itu? Kamu sedang marah kepada Mama atau Zavier? Mama mengenalmu, kamu akan lebih dulu tanpa memedulikan suamimu pulang jam berapapun." "Bisa tidak Mama tak ikut campur, sudah terlalu sering Mama ikut campur masalahku dengan Zavier." Dyra meninggikan suaranya. "Pelankan nada suaramu, Dyra! Kenapa kau bertingkah seperti itu, jika ada masalah ceritakan kepadaku, bukan malah marah-marah seperti itu!" Nyonya Affandi ikut sewot merasa menantunya mulai kurang ajar kepadanya. "Aku menghargai jika Mama bisa membuat semua lebih baik," tambah Dyra masih dengan nada ketus dan dia beralih dari ruang tamu. Melihat menantunya bersikap tidak sopan, ibu dari Zavier itu menjadi geram. Dia merasa sama sekali tak dihargai oleh menantunya. "Seharusnya kamu menuruti keinginan Zavier jika memang kamu mencintainya. Zavier stres akhir-akhir ini karena keuangan perusahaan." Kalimat itu membuat Dyra menghentikan langkah kakinya. Hatinya kembali terkoyak, lagi-lagi ibu mertuanya menekannya dengan alasan cinta. Dyra merasa perasaan cintanya pada Zavier yang begitu tulus terus saja dimanfaatkan oleh suami dan mertuanya itu. Tanpa tahu apa yang terjadi saat itu, dengan enteng Nyonya Affandi mendesak menantunya itu untuk meminta bantuan pada Tuan Anan. Namun, Dyra tetap teguh pendirian. Dia tak akan menukar apa pun sekalipun itu demi perusahaan. "Kenapa tidak Mama saja yang mencarikan bantuan? Bukankah Mama yang membuat Zavier kalang kabut? Bukannya Mama yang menghabiskan segala aset yang Zavier miliki?" Dyra dengan berani membalik keadaan. "Tutup mulutmu, jika memang tidak bersedia, setidaknya kamu tidak mengumpatku," sanggah Nyonya Affandi tidak terima. "Jika Mama tidak bisa mengusahakan, setidaknya Mama tidak memintaku berkorban lagi," balas Dyra tanpa ampun. Wanita bertubuh jenjang itu segera meninggalkan ibu mertuanya, dia menunggu suaminya di dalam kamar. Sesekali Dyra berbaring, kemudian berjalan ke arah jendela. Waktu terasa begitu lama saat hatinya sedang gelisah. Terlebih, Zavier tak kunjung pulang. Sementara di sisi lain, pria yang Dyra nantikan sedang menikmati sebuah pesta ulang tahun. Dia berada di sebuah vila yang sengaja disewa untuk penyelenggaraan pesta seorang model terkenal bernama Kikan. Seperti yang sudah ditebak oleh Dyra, mereka menikmati malam dengan menari dalam keadaan setengah mabuk. Foto yang sampai ke Dyra berasal dari seorang teman lamanya yang kebetulan juga berada di pesta tersebut. "Aku harus pulang," kata Zavier pada Kikan. Kikan yang saat itu tangannya bergelayut manja di leher Zavier tak mengizinkan pria itu pergi. Dia mendekap erat tubuh pria itu tanpa bisa ditepis. Kikan tak sejengkal pun melepaskan tangannya. Tak heran jika tamu yang lain merasa mereka berdua memiliki hubungan khusus. Hanya saja tak ada yang tahu tentang sosok Zavier selain teman lama Dyra dan juga Kikan. Kebetulan yang menghadiri pesta itu memang hanya teman dekat Kikan yang benar-benar bisa menjaga privasinya. "Kikan, ini sudah larut. Aku harus pulang," bisik Zavier lagi. Pria itu berusaha melepaskan tangan Kikan yang mendekap erat tubuhnya dan mencoba meloloskan diri. "Kamu tidak boleh pergi, ini masih panjang. Kita belum merayakan ulang tahunku ini berdua, kamu harus memberiku hadiah special malam ini," ujar Kikan tegas. "Ini sudah lewat tengah malam, aku tidak bisa seperti ini," balas Zavier menolak. Pria itu berjalan menepi dari hiruk pikuk para tamu yang mayoritas sudah mabuk itu. Zavier masih cukup waras karena dia tak banyak minum. Dia hanya minum beberapa teguk diawal pembukaan pesta saja, sehingga dia masih ingat untuk pulang. "Zavier, tunggu." Kikan menahan pria itu. Seperti biasanya, Zavier akan rela mendengar rengekan gadis seksi berparas blasteran itu tanpa protes. "Kamu belum memberiku sesuatu." Kikan menuntut hadiah ulang tahunnya yang ke 28. "Hadiah? Bukankah aku sudah jelaskan keadaanku sekarang? Kamu tahu benar aku tak punya apa pun sekarang ini," jelas Zavier tersinggung. "Ssttt," sela Kikan dan menyerobot bibir tipis CEO yang perusahaannya hampir bangkrut itu. Mereka berdua terlibat pautan bibir yang cukup intens di bawah lampu warna-warni yang berkelip seiring dentuman musik. "Kita sudah lebih dari enam bulan berhubungan. Sekalipun kamu belum pernah menyentuhku lebih dari berciuman. Bisakah malam ini aku meminta padamu yang satu itu?" Kalimat yang sangat murahan itu keluar dari seorang model kelas atas yang tak diragukan lagi popularitasnya. "Sayang, temani aku malam ini." Kikan merengek pada Zavier. Pikiran pria itu masih tak percaya. Gadis yang tampak sangat polos dan berprestasi di media itu ternyata tak lebih baik dari seorang jalang murahan. Jelas jika Zavier tak memiliki apa pun, tapi kenyataannya Kikan tak mempermasalahkan itu semua. Entah apa yang membuat Kikan mengilai Zavier, tapi inilah yang terjadi. Dengan aroma alkohol yang terus menyerang indera penciuman Zavier dan tangan Kikan yang tak berhenti berusaha memberi sentuhan sensual, pria itu tak bisa lagi menolak. "Dia pria dewasa yang normal. Saat melihat tubuh Kikan yang basah keringat saja dia pasti sudah langsung bergairah." Seorang yang mengenal Zavier bergumam lirih. Benar adanya, hari itu Kikan menggunakan pakaian yang sangat minim. Atasan dengan model kemben dengan aksen tali di punggungnya membuat tubuh bagian atasanya bisa diekspos oleh mata pria manapun. Buah dadanya juga sedikit menyembul hingga membuat siapapun yang melihat akan tergoda. Dipadu dengan rok mini berwarna hitam mengkilap menambah kesan seksinya semakin tegas. Kulit mulus bagian paha atasnya bahkan terpampang nyata tanpa cela. Zavier segera menggendong tubuh Kikan yang mulai memanas dan berubah menjadi penuh gairah. Jika Zavier dalam keadaan mabuk, dia juga pasti terpancing untuk berbuat gila di tempat umum itu. Hanya saja dia masih cukup waras untuk membawa Kikan menuju sebuah kamar di bagian lain dari vila itu. "A-aku boleh melakukan ini padamu?" tanya Zavier karena merasa ragu. "Aku ingin hadiah ini darimu, Zavier. Aku mencintaimu," rancu Kikan menggoda suami Dyra. Kepala Zavier berdenyut tak terkendali, gairahnya semakin memuncak tatkala Kikan mulai menarik tali bagian belakang tubuhnya untuk membuka atasannya hingga membuat tubuh bagian atasnya polos tanpa penutup. Baru bagian atas tubuh Kikan saja sudah cukup membuat Zavier kalang kabut. Buru-buru Zavier menanggalkan kemejanya dan melepas celananya tanpa aba-aba. Semua terjadi secara alami dan spontan. Namun, tiba-tiba Zavier berhenti dari gerakan cepatnya karena teringat Dyra. "Ayo, Sayang. Tunggu apalagi?" lengguh Kikan seperti orang yang terpengaruh obat perangsang hingga tak sabaran dan terlihat sangat murahan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN