Bab 2

846 Kata
Zoe memandangi wajah pria yang sudah membuatnya tergila-gila dengannya, sedangkan Zeyn sendiri merasa santai dan tidak menghiraukan kekasihnya yang sedari tadi memandanginya. "Apa kau tau jika aku memandangimu?" Ucap Zoe yang akhirnya membuat Zeyn menoleh. "Hm, aku tau." Zeyn menjawab dengan santai. "Tapi kau berpura-pura tidak tau dan menghiraukanku." Protesnya yang akhirnya Zeyn terkekeh. "Kemarilah!" Zeyn akhirnya menutup laptopnya padahal dia harus mengerjakan pekerjaannya di dalam laptop itu dan menyelesaikannya karena dia sudah tidak bisa datang ke kantor. Dia sudah cuti dari tiga hari yang lalu, tapi dia masih harus menyelesaikan beberapa pekerjaannya meskipun hanya di rumah. "Tidak mau!" Zoe menolak bahkan berdiri dan pergi dari sana namun Zeyn menariknya yang membuat Zoe akhirnya duduk di atas pangkuannya. "Jangan membuatku akhirnya mengikatmu di atas ranjang." Ucap Zeyn bahkan mengunci kedua tangan Zoe di belakang tubuhnya. Zoe terkekeh lalu tersenyum sambil memandangi Zeyn. "Aku sangat mencintaimu. Entah kenapa hari ini aku ingin memandangimu terus. Padahal kau jelek." Ucap Zoe dengan asal yang membuat Zeyn tertawa. "Jadi seleramu pria jelek sepertiku?" Ucap Zeyn yang di angguki oleh Zoe. Padahal nyatanya Zeyn adalah pria tertampan yang pernah dia temui. Zeyn yang gemas menggigit bibir dan dagu Zoe. Jelas dia mengomel namun membuat Zeyn merasa lucu dengan omelannya. "Aku berharap bisa mendengar omelanmu setiap hari." Ucap Zeyn. "Tidak ingin mendengar desahanku setiap hari?" Sindirnya. Perkataan Zoe membuat Zeyn tertawa. "Bagaimana jika aku mendengarnya sekarang?" Zeyn menggoda calon istrinya ini dan bahkan ingin membuka kancing bajunya namun dia segera berdiri dan mendorongnya. "Besok pernikahan kita, kau masih ingat perkataanku, bukan?" Zoe memilih untuk keluar dari kamar Zeyn menuju kamarnya sendiri. Zeyn tersenyum dan membiarkannya karena Zoe memang benar-benar tidak mau di sentuh sebelum pernikahannya. Pernikahan Zeyn dan Zoe besok memang di adakan sangat sederhana, mereka hanya di hadiri keluarga dan sahabat dekatnya. Zeyn juga mengundang beberapa anak buahnya untuk menjadi saksi pernikahan mereka nantinya. Setelah kepergian Zoe. Pintu kamar Zeyn di ketuk seseorang dari luar. Saat Zeyn membukanya ternyata sahabat-sahabatnya yang mendatanginya. "Ada apa? Kalian menganggu saja." Zeyn malah ingin mengusir temannya. "Cih! Mentang-mentang kau ingin menikah. Lagi pula kami tidak menganggu kau bercinta dengan wanitamu." Ucap Luca yang langsung duduk di sofa sana. "Aku hanya ingin memberitahu jika John masih mengincarmu." Ucap Ronald memberitahu. "Bukan mengincarmu saja, tapi dia juga dendam dengan Zoe." Ucap Luca menyauti. "Hm, aku tau itu, setelah pernikahan. Aku akan mengurusnya. Dia memang sudah waktunya musnah karena selalu menganggu bisnisku." Ucap Zeyn. Belum mereka mengobrol lama, pintu Zeyn di ketuk dari luar yang membuat Zeyn mengerutkan dahinya. "Zeyn!" Teriak seorang wanita yang membuat Zeyn terkejut dan reflek menoleh ke arah kedua sahabatnya. "Bukan aku." Luca mengangkat tangannya karena tau jika Zeyn mengira dirinya yang memberitahu ibunya jika dirinya akan menikah. "Itu memang aku, bagaimana lagi. Orang tuamu juga pintar, aku tidak bisa berbohong." Ucap Ronald jujur "Lagi pula kau bajingann! Bagaimana bisa kau menikah tanpa memberitahu orang tuamu." Lanjutnya. Zeyn mendengus kesal dan rasanya ingin memecahkan kepala sahabatnya karena memberitahu orang tuanya jika dia akan menikah. "Sial!" Zeyn mengumpat karena pintunya di rusak oleh anak buahnya dan jelas itu karena suruhan ibunya. "Mom! Apa-apaan ini. Kenapa kau merusak pintu kamarku." Zeyn malah mengomel namun membuat Anya sang ibu menampar putranya meskipun tidak terlalu keras. "Apa kau belajar menjadi anak yatim piatu? Kau menikah tidak memberitahu ayah dan ibumu." Ucap Anya. "Aku menikah tidak mewah, Mom! Hanya meresmikan saja dan akan membuat pesta dalam waktu satu bulan lagi." Ucap Zeyn jujur. Jika ibunya ikut campur dengan pernikahannya, sudah pasti nanti dia akan heboh sendiri, sedangkan Zeyn tidak mau pesta yang mewah di saat peresmiannya dengan Zoe nantinya. "Tetap saja kau seharusnya memberitahu kami, Zeyn!" Reyhan sang ayah juga mengomel karena putranya bahkan tidak mengundang mereka di acara pernikahannya. "Apa aku harus membuat Zoe— "Jangan aneh-aneh, Dad! Baiklah. Maafkan aku. Sekarang kalian sudah datang, jadi kalian bisa menyaksikan pernikahanku dan Zoe." Ucap Zeyn pada akhirnya. Reyhan dan Anya sebenarnya belum puas mengomeli Zeyn, namun bagaimana lagi jika Zeyn sudah memutuskannya, bahkan dia memang tidak melihat mereka karena yang di katakan oleh Zeyn benar, jika mereka mengetahuinya, mereka tidak akan membiarkan Zeyn dan Zoe menikah sederhana seperti ini, melainkan akan menyiapkan pesta besar untuk mereka. Malam harinya, Zeyn menyusup ke dalam kamar Zoe yang membuat dia jelas saja terkejut. "Zeyn! Ada Mommy di dalam." Ucap Zoe yang membuat Zeyn terkejut. "Sial! Kenapa Mommy ada di dalam?" Tanya Zeyn. "Mommy ingin tidur dengan calon menantu Mommy," ucap Anya menyauti karena tau jika ada suara putranya yang masuk ke dalam kamar Zoe. Zeyn mendengus kesal, padahal Zeyn tadinya ingin menganggu kekasihnya sebelum besok hari pernikahannya. Entah kenapa dia merasakan malam ini ingin sekali bersamanya dan melewati malam bersama. "Apa tidak takut Daddy akan tidur dengan wanita lain? Kenapa Mommy ada di sini dan tidak menemaninya saja." Ucap Zeyn dengan asal namun membuat Anya melotot. "Apa kau tau, jika ayahmu mendengarnya, mungkin kau akan di tembak olehnya." Zeyn menghela nafas panjangnya dan akhirnya terpaksa pergi dari sana, namun sebelum dia pergi, dia mencuri ciuman bibir Zoe yang membuat Anya melotot begitupun dengan Zoe karena Zeyn menciumnya di depan ibunya. "Anak nakal!"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN