Bab 3. Perjodohan

1339 Kata
Tanpa terasa empat bulan berlalu …. Setelah resmi menjanda, Anna menjalani masa-masa sulitnya seorang diri. Dengan mengandalkan uang hasil penjualan cincin pernikahan, dia bisa menyewa sebuah tempat kos yang ada di Surabaya. Sementara untuk memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari, Anna bekerja sebagai pelayan restoran Solaria yang ada di salah satu pusat perbelanjaan di kota pahlawan tersebut. Sebenarnya Anna bukan anak sebatang kara. Dia masih memiliki orang tua lengkap dan seorang kakak. Padahal bisa saja dia kembali pada keluarganya. Namun, tidak dia lakukan. Anna memilih untuk menjalani hidup seperti ini, sebab terlalu malu untuk menampakkan diri di hadapan mereka. Dulu pernikahannya dengan Harris ditentang keras oleh keluarga, terutama Bramantyo–ayahnya. Siang itu, restoran lumayan ramai. Semua pegawai sibuk dengan tugasnya masing-masing. Begitu juga dengan Anna, sejak tadi dia terlihat sibuk melayani pengunjung mengantarkan makanan dan membereskan bekas makan yang ada di meja yang telah kosong, karena tempat tersebut akan ditempati pengunjung lain. Wanita itu terlihat sibuk mengelap meja setelah menata piring dan gelas kotor pada sebuah nampan. Sehingga tidak menyadari, jika ada seseorang yang tengah menatap intens ke arahnya. “Jadi, begini kehidupanmu setelah memilih keluar dari rumah?” Suara berat seorang pria berhasil mengalihkan perhatian Anna. Dia sangat terkejut saat melihat sosok yang sudah lima tahun tak pernah ditemuinya. “Pa-papa?!” Beruntung, dia bisa menguasai diri dengan cepat sehingga nampan yang ada di tangannya tidak sampai terjatuh. Bram memindai penampilan Anna yang tengah mengenakan seragam pelayan. Penampilannya yang sekarang sangat jauh berbeda dengan penampilan sewaktu menjadi putrinya dulu. Wajahnya terlihat polos tanpa riasan, dan tubuh yang semakin kurus. “Andai kamu mau menerima pria pilihanku dulu, mungkin kamu gak perlu capek-capek kerja seperti ini.” Raut wajah terkejut itu dalam sekejap berubah menjadi raut penuh kekesalan. “Apa Anda bisa menjamin? Tidak, 'kan?" Anna hanya tersenyum getir. Meski lama tidak bertemu, tetapi keangkuhan pria berusia setengah abad itu masih sama. Bram mengulas senyum tipis. Watak anak perempuannya memang sama seperti dirinya. Dia seolah melihat cerminan dirinya sendiri dalam diri Anna. "Waktu saya terlalu berharga untuk meladeni Anda. Ini masih jam kerja, permisi!" Tanpa memedulikan kehadiran Bram lagi, Anna segera berlalu membawa perkakas makan yang kotor ke dapur. Sesampainya di dapur, wanita itu menghela nafas panjang. Beristirahat sejenak untuk sekedar minum. Dia tak pernah mengira jika ayahnya juga berada di kota ini. Sungguh, pertemuan yang tak pernah dia inginkan. "An, antarkan pesanan ke meja nomor 7 yang ada di luar," titah salah satu temannya. Meskipun lelah, tetapi Anna tetap mengiyakan. Meski hatinya sedang berkecamuk, dia harus tetap profesional. Wanita itu melangkah ringan dengan membawa nampan berisi dua porsi nasi goreng seafood dan kwetiau goreng beserta dua gelas jus jeruk. Ketika hampir tiba di tempat tujuan, lagi-lagi wanita itu dibuat terpaku. Meja yang yang dimaksud adalah meja yang ditempati Bram dan seorang pria yang sangat dia kenal–Abraham kakaknya. Niat hati ingin berbalik dan meminta temannya yang lain untuk menggantikan tugas. Namun, kedatangannya telah lebih dulu diketahui oleh sang kakak. Pria itu menatap intens ke arahnya yang membuatnya terpaksa untuk melanjutkan langkah. Sesampainya di meja tersebut, Anna segera menata pesanan untuk dua orang di sana. Dia hanya menunduk tak berani melihat dua pria itu. "Silakan, Tuan-Tuan," ucapnya sopan setelah selesai. Anna bergegas untuk segera menghindar, tetapi urung saat mendengar suara Abraham. "Ann, apa kamu melupakanku?" Wanita itu memejamkan mata mendengar suara berat itu. Suara yang selalu berhasil menenangkannya dikala sedih dulu. "Tidak," jawabnya tanpa berbalik. "Kapan waktu kerjamu selesai?" "Pukul 4 sore." Setelah menjawab pertanyaan itu, Anna memilih untuk segera berlalu tanpa memedulikan apapun lagi. Dia seperti tidak punya muka untuk bertemu dengan mereka kembali. Namun, rupanya Abraham tidak membiarkannya untuk pergi. Dia justru berjalan mendekat, lalu membalikkan paksa tubuh adiknya. Anna sontak terkejut dengan tindakan spontan sang kakak. Ingin marah, tetapi sadar akan posisinya sekarang. "Ikut aku pulang!" Kedua bola mata Anna membeliak sempurna. Tidak, dia tidak mau untuk ikut bersama mereka. "Enggak, Mas! Hidupku di sini?" Wanita itu menolak secara terang-terangan. Abraham mengetat rahang. Tatapan tajam dia layangkan pada wanita muda di depannya. Akan tetapi, dia berusaha menekan amarahnya. Menghadapi adiknya tidak bisa menggunakan jalur paksaan atau kekerasan, seperti pesan sang ayah tadi. "An, turunkan egomu! Ikutlah pulang bersamaku ... mama sakit parah. Dia mencarimu terus!" ucap pria itu dengan penuh kelembutan. "Kamu bilang apa, Mas?" tanya Anna lagi untuk memastikan, gurat kekhawatiran tergambar jelas di wajahnya. "Mama sakit parah, dia mencarimu. Please, ikut pulang, ya? Kamu gak mau terjadi sesuatu sama mama, 'kan?" Anna terlihat berpikir sejenak. Dia memang membenci ayahnya, tetapi tidak dengan ibunya. Air mata sang ibu menghantar kepergiannya beberapa tahun silam masih terekam jelas dalam ingatan. "Mama sakit karena memikirkanmu, Anna!" Perkataan terakhir sang kakak berhasil menyentak lamunan wanita itu. Tanpa berpikir panjang lagi, Anna pun setuju untuk ikut bersama mereka. ***** Di sinilah Anna berada, sebuah rumah mewah bergaya Mediterania yang ada di perumahan elit ibukota Jakarta. Sebelum memasuki rumah, dia tampak memindai bangunan di depannya. Tidak ada yang berubah dari beberapa tahun yang lalu, semua masih sama. Seketika bayangan masa kecilnya bersama kakak dan ayah ibunya terlintas dalam ingatan. "Anna, akhirnya kamu pulang ...." Pekikan riang seorang wanita paruh baya mengalihkan perhatiannya. Mata Anna membola sempurna melihat Meliana–sang ibu tengah berlari menghampirinya. Bahkan ketika sang ibu memeluknya dengan erat dia masih mematung di tempat. Wanita itu segera mengurai pelukan demi memastikan keadaan sang ibu. "Mama, baik-baik aja, 'kan? Mana yang sakit katakan sama Anna!" Meliana menatap heran putrinya. "Mama baik-baik aja, kok ... terlampau sehat malah. 'Kan mau ketemu calon mantu," ucapnya dengan senyum terkembang. "Ca-calon mantu? Maksud mama calonnya Mas Abra?" "Ih, bukan ... ya, calon suamimu lah, An ...." "Memangnya papa atau mas-mu gak ngasih tau hal ini? Mereka sengaja ke Surabaya 'kan untuk menjemputmu." Meliana menyambung perkataannya. Anna tak dapat menyembunyikan keterkejutannya. Berbagai pertanyaan terus berputar di dalam otaknya. Dia mengalihkan tatapan pada kakaknya. Namun, pria yang ditatap justru mengalihkan pandangan ke arah lain. "Ada yang ingin dijelaskan, Kakakku Tersayang? Kenapa tadi bilang kalau mama sakit parah?" tanyanya dengan penuh penekanan. "Sakit parah? Benar begitu, Abra?!" Meliana yang mendengar hal itu pun ikut terkejut, lalu menyahut disertai sorot tajamnya. Mendapat tatapan penuh intimidasi dari dua wanita di depannya membuat Abraham tak bisa berkutik. Tidak ada reaksi lain, selain sebuah anggukan. Seketika itu pula, Meliana berang. Bisa-bisanya mereka menyumpahinya sekarat. "Aku hanya ikut ide papa, Ma," ucap Abraham membela diri disertai tampang memelas. Bram yang ingin selamat dari amukan sang istri pun turut membela diri. "Aku gak memintamu untuk mengikuti rencanaku." "Kalian keterlaluan!" bentak Meliana menyela pembelaan mereka. Kedua pria itu sontak mengatupkan mulut rapat. Mereka tak bisa lagi berkutik saat ibu ratu mengeluarkan taringnya. Meliana memilih mengesampingkan amarahnya, sebab pertemuan penting dua keluarga akan dimulai beberapa jam lagi. Dia segera memerintah dua orang pelayan untuk membantu putrinya merias diri. Anna ingin menolak, tetapi tidak bisa sebab tubuhnya sudah diseret paksa masuk ke dalam. ***** "Sudah selesai 'kan meriasnya?" Meliana masuk ke kamar putrinya tanpa mengetuk pintu. Dua orang pelayan yang sejak tadi membantu Anna hanya mengangguk dengan sopan. Karena pekerjaan telah selesai, mereka segera pamit undur diri. Anna memasang wajah tak bersahabat sejak tadi. Kekesalan tergambar jelas pada wajah ber-make-up natural itu karena merasa ditipu dan dibohongi. "Kenapa mama sekarang jadi ikutan kayak papa?" protesnya. "Semua demi kebaikanmu, Sayang ...." Meliana berucap penuh kelembutan. "Kebaikan dari mana?" Anna menyanggah dengan nada yang lebih tinggi dari sebelumnya. "Kamu tidak bisa menolak lagi, Anna. Kali ini, kamu harus mau menerima pilihan papa. Kamu lihat sendiri 'kan pilihanmu justru menjerumuskanmu." Bram pun turut ikut dalam pembicaraan mereka. Anna mengepalkan tangan kuat, kenapa selalu dirinya yang diumpankan dalam perjodohan bisnis ini? Padahal jelas-jelas masih ada Abraham yang jauh lebih tua darinya. "Sudah, jangan membuang waktu! Cepat keluar! Mereka sudah datang," titah Bram tanpa ingin dibantah. Meliana segera mendekap erat lengan putrinya untuk membawanya turun ke bawah. Selama perjalanan pun, Anna masih memasang raut yang sama, tidak ada segaris senyum sedikit pun di wajahnya. Tepat setelah menuruni tangga, dia dibuat terkejut dengan kehadiran seseorang yang tak pernah diduga sebelumnya. Raut yang sama juga ditunjukkan oleh pria yang ada di seberang sana.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN