Aku harus tenang. Aku harus istirahat. Aku harus bisa jernih. Agar kamu selamat. *** Kayonna mengetuk-ngetuk penanya di meja, sedang salah satu tangannya menopang dagu. Wajahnya serius dengan mata melamun. Ia sudah tenggelam dalam pikirannya sendiri. Bahkan Saga sudah tak dipedulikan. Pintu ruangannya diketuk tiga kali dan tanpa menunggu jawaban dari Kayonna ataupun Saga, pintu sudah dibuka. Dokter Anwar masuk, langsung duduk di hadapan Kayonna. "Pulanglah. Saya yang menggantikan kamu." Kayonna mendelik. "Kenapa? Saya baik-baik saja." "Kamu sudah mengalami malam yang buruk secara beruntun. Fisikmu kuat, tapi batinmu tidak dan yang pasti pikiranmu bercabang." "Saya bisa atasi," ucap Kayonna dingin. "Iya. Tapi kamu tidak akan fokus dan masalah akan berlarut-larut. Dua jari sudah cuku

