Chapter 10

845 Kata
Perjumpaan pertamaku denganmu, sehangat mentari, dan seceria burung-burung kecil yang bernyanyi di rimbunnya dedaunan. *** Alexis turun dari mobil dengan tergesa-gesa. Disempatkannya untuk mematutkan diri melalui kaca jendela mobil. Setelah dirasa cukup rapi, Alexis segera masuk ke dalam galeri seni rupa. Mata Alexis bergerak cepat ke sekeliling ruangan. Langkahnya tak lagi dipercepat, khawatir melewatkan seseorang yang hendak ditemuinya. Tiba-tiba mata hitamnya menangkap sosok wanita cantik, yang berdiri anggun di hadapan sebuah lukisan besar berpigura emas. Alexis sumringah dan menghampiri. "Lukisan apa?" Kening Alexis berkerut, salah satu tangannya mengelus dagu. Sikap Alexis seolah sedang berpikir keras akan objek yang sedang ditatapnya. Wanita cantik yang tadi dilihat Alexis, menoleh dan menatap Alexis dengan kesal. Ia Renata. Mata Renata tajam tertuju pada Alexis dengan maksud agar Alexis merasakan amarahnya dan berhasil karena kemudian, Alexis menatap Renata. "Kamu telat," tukas Renata. "Sedikit," jawab santai Alexis sembari tersenyum manis. "Tetap saja telat." "Yang penting kan saya sudah di sini." "Yang penting?" dengkus Renata. "Gak penting, kamu ada di sini atau enggak." "Well, saya hanya menuruti permintaan Mama. Lagipula gak rugi ini." Kalimat terakhir diucapkan Alexis dengan berbisik. Namun, tetap juga terdengar Renata, hingga membuat mata Renata melotot keluar. "Rugi?" tanya Renata dengan nada menahan emosi. "Eh, maksudnya tuh, kebetulan sayanya juga luang." "Luang? Jadi maksudmu, pertemuan ini terjadi dikarenakan waktumu? Kamu pikir, saya gak punya kerjaan?" "Kok jadi serba salah gini sih." Alexis menggaruk-garuk kepala, bingung sendiri. Sedangkan Renata berbalik meninggalkan Alexis. Buru-buru Alexis mengejar Renata yang melaju cepat keluar dari ruang galeri Mendadak Renata menghentikan langkahnya. Beruntung Alexis sigap, ia pun berhenti sebelum menabrak Renata. Alexis tidak bisa membayang akan sebesar apa amarah Renata jika itu terjadi. "Lho, Re," sapa Saga yang baru saja masuk ke dalam galeri. Di sebelah Saga berdiri seorang pria, awal lima puluhan tahun, berpakaian layaknya masyarakat di Bali. "Saga. Kok di sini?" tanya Renata. "Saya diundang Pak Komang," jawab Saga sembari memperkenalkan pria yang berdiri di sebelahnya. Mata Renata berbinar saat dikenalkan dengan Pak Komang. "Saya sering melihat pameran lukisan Anda, dan mengkoleksinya beberapa. Tapi, ini pertemuan saya dengan Anda, Pak Komang. Saya benar-benar senang." "Hahaha..., sayalah yang benar-benar senang, bertemu dengan wanita pintar dan juga secantik Anda. Nggg...?" "Renata. Nama saya Renata," ujar Renata memperkenalkan diri. "Temanmu, Re?" tanya Saga yang sedang menatap Alexis. "Bukan," jawab Renata cepat. "Iya," jawab Alexis bersamaan dengan Renata. Renata jadi salah tingkah, ia melirik Alexis kesal, karena lancang ikut menjawab pertanyaan yang ditujukan untuk dirinya. Terlebih, menjawabnya bersamaan dan juga berbeda. "Mungkin kekasih," sahut Pak Komang dengan senyum menggoda. "Bukan," jawan Renata secepat mungkin. "Iya." Lagi-lagi, Alexis menjawab bersamaan dengan jawaban Renata, tapi dengan isi jawaban yang berbeda. Saga dan Pak Komang tertawa kecil. Atas inisiatifnya, Saga mengulurkan tangan dan bersikap ramah kepada Alexis. "Saga" Alexis pun menyambut keramahan Saga dengan cara yang sama. "Alexis." Tak lupa Alexis juga mengulurkan tangan pada Pak Komang dan kembali memperkenalkan diri. "Re, kalau gitu, Sabtu nanti ajak Alexis. Gak sibuk, 'kan?" tanya Saga tertuju pada Alexis. "Ke mana?" tanya Alexis. "Mengenal kembali Jakarta. Bertahun-tahun saya tinggal di London, sudah mulai lupa Jakarta." "Wah. Begitu lamanya meninggalkan tanah air. Memang betah atau ada yang membuat terikat?" seloroh Alexis. "Tidak kedua-duanya." Saga tersenyum. "Okelah. Sebagai teman baru, saya puaskan kamu." Tawa pun meledak. Tak sulit bagi kedua pria tersebut menjalin pertemanan, tanpa perlu tahu latar belakang masing-masing. Laki-laki selalu punya caranya sendiri untuk bersosialisasi dengan jujur. "Kalau gitu, sampai ketemu Sabtu nanti. Kita masuk dulu. Kalian mau lunch, 'kan?" Saga mengerling ke arah Renata. "Enggak," jawab Renata. "Iya." Iya yang sama dari Alexis dan membuat perbedaan sekali lagi dengan Renata. Saga dan Pak Komang tertawa menatap dua sejoli yang memiliki perbedaan dalam menjawab pertanyaan sederhana. Sembari menepuk pundak Alexis dan mengedipkan mata ke arah Renata, Saga dan Pak Komang melangkah masuk ke dalam Galeri. Renata yang sedarian tadi menahan emosi, lekas menedang tulang keras kaki Alexis. Tanpa memedulikan jeritan mengaduh dari Alexis, Renata melangkah cepat keluar dari Galeri. Mulutnya yang mungil komat-kamit tidak jelas. Kedua tangannya mengepal keras. Renata sudah di depan mobilnya dan saat membuka pintu, sebuah tangan terulur melewati Renata, hingga membuatnya terkesiap. Dan itu Alexis, yang kemudian menutup pintu dan berdiri tepat di depan pintu mobil, menghalangi Renata untuk masuk. "Apa-apaan, sih? Minggir!" bentak Renata. "Minta maaf," ucap kalem dari Alexis. "Saya? Minta maaf. Buat apa?" "Mencelakai kaki saya." "Halah, manja. Minggir!" "Bukan masalah manja atau tidak. Tapi kamu sebagai perempuan, gak boleh bersikap kasar seperti tadi. Sebagai wanita dewasa dan berpendidikan, harusnya kamu tahu, kalau berbuat salah, ya minta maaf." "Jangan sok ceramah. Saya begitu juga karena kamu." "Saya?" Alexis menarik alisnya ke atas. "Kamu udah permalukan aku." "Permalukan yang mana? Saya cuma jawab apa adanya." Mata Renata membulat, ia sudah diambang kekesalannya sendiri. Ditahan-tahannya sekuat tenaga untuk tidak teriak apalagi bertindak anarki, sekali lagi. Tapi demi melihat wajah kalem Alexis, keinginan itu menjadi buyar. Tendangan yang jauh lebih keras, kembali terarah pada tulang kaki Alexis. Tak pelak, Alexis hilang keseimbangan. Sembari membungkuk dan mengaduh, Alexis sudah bergeser dari pintu mobil Renata. Bergegas Renata membuka pintu, sebelum masuk ia berkata, "Saya bukan temanmu, saya juga gak mau makan siang sama kamu, dan saya bukan kekasihmu. Jangan mimpi! Saya gak kan sudi bersamamu, walaupun kita dijodohkan." Renata kemudian masuk dan membawa mobilnya pergi dengan cepat. Alexis menatap kepergian Renata dengan senyum tipis yang aneh. Diam-diam Alexis bertekad untuk mendapatkan Renata. Cinta itu belakangan, yang penting Renata harus bertekuk lutut dahulu, batin Alexis mantap. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN