Begitu lama aku merindukanmu ... Di setiap belaian angin, aku titipkan rindu ini ... Sampaikah padamu?
***
Suganda sarapan pagi dengan wajah sumringah. Ia terlihat bersemangat menikmati makanan yang terhidang. Di sebelahnya, Saga turut sarapan, dan itulah alasan Suganda ceria. Walaupun bagi Suganda cucunya masihlah orang menyebalkan, tetapi sebagai oarang yang sudah sangat tua, makan ditemani darah daging adalah hal yang istimewa.
"Rumah di belakang itu ditempati siapa, Kek?" tanya Saga tiba-tiba dan seketika merusak suasana hati Suganda.
"Rumah apa?" Suganda pura-pura bertanya, padahal dia tahu rumah apa yang dimaksud Saga, karena hanya ada satu bangunan baru di rumah mereka.
"Di sebelah gudang lama."
"Rumahnya."
Walau Suganda tak menyebutkan nama, tapi Saga tahu siapa 'nya' yang dimaksud, dan ia terkejut. Saga menatap wajah Suganda dengan mimik tak percaya.
"Serius itu rumah dia?"
Suganda membersihkan mulutnya. Sarapannya belum habis, tetapi ia sudah tak ingin melanjutkan makan. Ditatapnya Saga dan berkata, "Dia tak mungkin terus-menerus di dalam rumah. Ayahmu yang membangunnya. Itu dilakukan hanya agar ibumu tidak semakin menderita."
"Menderita? Mama?" Saga gemas mendengar pernyataan sang kakek. "Dia yang seharusnya menderita, bukan Mama."
"Kamu tidak tahu apa-apa. Kamu langsung pergi ke Inggris setelah anak itu masuk."
"Apa yang saya tidak tahu, Kek? Drama yang dibuat oleh Mama dan Papa? Atau keputusan konyol Kakek?"
"Diam kamu!" Suganda meletakan garpu dan pisau roti dengan kasar, menciptakan denting yang nyaring. "Lihat ibu kamu itu. Dia belum selesai berkabungnya. Dan bapakmu, yang adalah anak saya, malah pergi entah ke mana. Menurutmu bagaimana saya menjaga menantu saya yang juga adalah ibumu? Lagi pula anak itu masuk sini, bukan atas mau saya."
"Tapi apa perlu membangun rumah di sebelah gudang lama? Sama persis pula. Itu perlu? Kecuali Kakek memang suka meneror orang dengan halus."
Wajah Suganda begitu keras saat menatap Saga. Dalam hatinya berjudi antara menuruti angkaranya atau meredam saja. Saat ini dia butuh cucunya demi kelangsungan hidup semua. Bisnis raksasanya sedang tidak dalam masa mengkhawatirkan, tetapi bisa saja hancur jika tidak ada penerus yang tangguh.
"Sudahlah. Untuk apa bahas yang lain-lain. Kemarin kamu ke kantor, Erwin bilang kamu disambut dengan positif. Bahkan jajaran tinggi perusahaan berharap banyak bahwa kamu akan memimpin. Bagaimana?"
"Sampai kapan kalian menyiksanya? Mama cuma kehilangan satu, tetapi dia kehilangan banyak," dengkus Saga kesal karena dengan santainya sang Kakek mengalihkan topik pembicaraan.
Saga meminum jus jeruknya dan menatap kakeknya dengan perasaan marah. "Kek, saya tidak mau kasar. Tapi saya muak di sini. Selama dia ada di sini sebagai pengganti yang konyol, selama itu pula, saya akan berlari jauh. Itu karena saya sangat malu."
"Saga!" bentak Suganda. Kemarahan jelas nyata di wajahnya. Ia tak suka cara bicara Saga yang seolah sedang menggurui dirinya.
"Jika Kakek tidak berkenan, saya bisa pergi kapan saja." Saga berdiri dan meninggalkan ruang makan.
Sedangkan Suganda diam saja menatap kepergian cucu yang menjadi andalan terakhirnya. Ia menyandarkan tubuh tuanya. Kali ini ia merasa sangat kelelahan. Suganda menutup mata dan mengarungi masa lalu.
***
Saga sudah akan masuk mobil ketika dilihatnya Kayonna berjalan santai dari arah belakang rumah. Gadis itu mengenakan kaos kuning yang ditutup jaket ber-hoodie warna merah. Padanan yang terlalu cerah untuk pagi hari dan sepertinya dia tidak peduli.
Rambut Kayonna diikat asal naik saja ke atas. Beberapa helainya terlepas begitu saja dan dimainkan angin pagi. Tak terlalu banyak riasan di wajah Kayonna, membuat seluruh penampilan Kayonna justru terlihat sangat menawan.
Saga kagum dengan cara jalan Kayonna yang stabil. Seolah kakinya sudah memiliki matanya sendiri. Gadis cantik itu sibuk dengan ponselnya. Ia tak peduli akan sekitar dan menyerahkan semua pada kakinya untuk melangkah.
Saat Kayonna semakin dekat, Saga sempat ragu untuk menawarkan tumpangan, tetapi sebagai laki-laki, tak mungkin baginya mengabaikan.
"Kerja, Yon?" tanya Saga, membuat Yonna menghentikan langkahnya tepat di hadapan Saga.
"Ya." Tak ada ekspresi. Yonna tidak terlihat terkejut disapa Saga, seolah sapaan Saga adalah hal yang lumrah.
Padahal bagi Saga, ini membuatnya salah tingkah. Untuk pertama kalinya, setelah sekian puluh tahun berlalu, Saga menyebut nama dokter cantik itu. Tapi, tanggapan Yonna yang begitu tak acuh, membuat Saga malu sendiri. Rasanya sia-sia dia menyapa, tanggapannya begitu-begitu saja. Membuat Saga kesal sendiri.
"Bajunya gitu?" Pertanyaan aneh, tetapi hanya itu yang terlintas di benak Saga.
"Iya. Ini baju."
Mendapat jawaban Kayonna yang datar saja, ingin rasanya Saga menceburkan diri sendiri ke dalam kolam hias.
"Merah, kuning...." Mata Saga kemudian terarah pada celana Jeans Kayonna. "Biru? Yang hijau meletus?"
Tiba-tiba terdengar tawa begitu keras dari arah belakang Saga, mengalihkan dialog untuk sejenak.
"Page epribadi!" seru Rayhan dengan ceria. Tawanya masih belum selesai saat sudah ada di sisi Saga. "Pagi, Yonna. Mau ke rumah sakit?"
"Ya."
"Ada jadwal operasi?"
"Ada. Dan pakai hijau yang tidak meletus," jawab Yonna ketus. Ia melirik tajam ke arah Saga saat berjalan melewati kedua pria tampan nan eksklusif. Idaman wanita, tidak Kayonna.
"Hati-hati, ya. Kalau meletus, telepon aja Saga!" teriak Rayhan dengan tawa tak berkesudahan. Sedangkan Kayonna tak acuh, terus melangkah sampai menghilang dari gerbang.
"Aduh." Rayhan kemmudian mengelus kepalanya dengan mimik wajah kesakitan. Ini karena Saga menoyor kepalanya dengan keras.
"Ngapain ke sini?" tanya Saga yang mulai masuk ke dalam mobil.
"Numpang, ya." Rayhan kemudian masuk ke dalam mobil Saga.
Tak banyak bicara, Saga membawa mobilnya keluar rumah. Dilihatnya Yonna masih berjalan menuju jalan besar. Entah atas dasar apa, Saga membawa mobilnya amat sangat pelan, tepat di belakang Yonna, membuat Rayhan bingung.
"Mau kasih tumpangan?" tanya Rayhan.
"Mengintimidasi makhluk sombong."
"Ha? Intimidasi bagaimana?"
"Lihat aja." Saga hanya ingin membuat Yonna salah tingkah. Biasanya orang akan berjalan aneh jika tahu dirinya diikuti.
Setelah beberapa saat, kening Rayhan mengernyit dalam. Bergantian ia menoleh ke arah Saga dan Kayonna. Ia heran dengan sikap santai Kayonna yang tak terganggu jika dibuntuti mobil. Heran juga dengan Saga yang gak jelas buat apa membuntuti Kayonna.
"Apa yang dilihat?" tanya Rayhan akhirnya.
"Kok, santai amat," ujar Saga dengan mimik wajah keheranan sendiri.
"Apanya santai? Kamu maunya apa sama dia?"
"Saya mau bikin dia salah tingkah." Selesai Saga mengatakan niatnya, tak dinyana Kayonna menghentikan langkahnya dan berbalik tiba-tiba.
Niat menjadi perjalanan yang pupus. Bukannya Kayonna yang terkejut, melainkan Saga yang menjengkit kaget. Ia sampai harus menginjak pedal rem dalam-dalam, menciptakan suara mendecit dari ban belakang, dan juga menyebabkan tubuh Rayhan maju ke depan tanpa kendali. Untung Rayhan menggunakan sabuk pengaman.
"What's up, Bud?" tanya Rayhan dengan suara sedikit memekik karena terkejut.
Saga tak menjawab. Tatapannya lurus ke arah Kayonna, begitu juga sebaliknya. Keduanya seolah sedang saling mengadu kekuatan. Tak lama, Kayonna berjalan mendekat, membuat jantung Saga berdegup tak beraturan.
Ia berdiri tepat di samping kursi penumpang dan Rayhan segera menurunkan kaca mobil. "Hai, Yonna."
Yonna tak menjawab, ia justru menatap tajam Saga. "Ada apa?"
Ditodong pertayaan tiba-tiba begitu, tak ayal Saga salah tingkah. "Apanya apa?" sahut Saga dengan nada dibuat meninggi. Mengejutkan Rayhan, sayangnya tidak ke Kayonna yang anteng saja.
"Sepuluh menit dan ini mobil merangkak di belakang saya. Rusak? Atau sedang cari perhatian?"
Jleb!
Yang ada di benak Saga adalah keluar dari mobil dan berlari sekencang mungkin kembali ke London. Pertanyaan terakhir gadis itu, membuat Saga blingsatan.
"Tidak keduanya. Saya memang senang membawa mobil ini secepat kura-kura." Saga menjawab sekenanya.
"Pantas."
"Pantas apa?"
"Kepulanganmu seperti kura-kura." Sesudahnya, Kayonna mengeluarkan permen karet dari mulutnya dan menempelkan ke kaca spion bagian penumpang. Membuat dua pria tampan itu melotot.
"Salam tempel." Tanpa rasa bersalah, Kayonna melanjutkan langkahnya. Kali ini ia cepat-cepat berbelok ke jalan kecil yang hanya bisa dilalui dua sepeda motor.
"b******k! Dasar, setan cilik!" Saga geram dan mencengkeram setir mobil dengan kuat.
"Lah, kamunya juga aneh. Ngapain tadi buntuti dia? Kalah telak, 'kan?" ujar Rayhan.
"Diam!" Saga benar-benar malu sendiri. Dua kali ia kena 'bogem' dari Kayonna. Harusnya tadi kedudukannya bisa satu sama. Saga baru menyadari ternyata, gadis itu memang berbeda.
"Permen karet ini gimana? Mau dipigurakah?" goda Rayhan.
"Diam! b******k!" Saga kemudian melajukan mobilnya dengan gemas. Dalam hati, Saga berjanji untuk tidak akan peduli lagi dengan Kayonna. Hanya membuat suasana hatinya jadi tidak baik.
***