Syauqi melepas helm yang masih melekat di kepalanya. Helaan napas panjang kembali terdengar dari mulutnya. Ia masih sangat kepikiran dengan yang tadi dibahas olehnya dan juga Heri. Jujur, ini malah membuat Syauqi semakin tertekan. Dan ujungnya, rasa amarahnya selalu beririsan dengan rasa bersalahnya. Ia selalu terpikirkan bahwa tak seharusnya ia membentak sang papa tadi. Bukan berarti ketika ia tak mau masuk Islam, Syauqi jadi selalu membentak sang papa. Syauqi tak mau hubungannya dengan sang papa malah memburuk hanya karena masalah keimanan. Mungkin terdengar remeh, tapi soal keyakinan, ini merupakan hal yang rumit dan complicated untuk Syauqi. Terlalu banyak sudut pandang Syauqi yang berubah tentang Islam dan seisinya. Tapi padahal, jika Syauqi ingin sejenak mengikhlaskan semua yang te

