Sudah tiga hari sejak malam pertengkaran itu. Suasana di rumah seperti kabut pagi—dingin, pekat, dan membungkam. Dara masih tidur sekasur dengan Zahra, memunggungi Rafi. Rafi pun hanya bisa diam, menghela napas panjang tiap pagi, dan mengalihkan diri dengan bermain HP lebih sering dari biasanya. Di luar kamar, suara yang paling rajin terdengar adalah milik ibu mertuanya, Bu Lilis, yang sudah seperti radio rusak dari subuh: “Dapur kok kayak kapal pecah. Istri zaman sekarang tuh cuma bisa dandan, kerja, lupa tugas di rumah. Untung anak saya masih sabar...” Dara hanya menunduk saat keluar kamar, menyiapkan sarapan tanpa berkata sepatah pun. Tapi hari ini, suara tawa dari luar pagar memecah pagi: “Bu Daraaaa… Masya Allah, kemarin viral yaa di grup RT, katanya Bu Lilis marah-marah sampe pe

