Aroma khas desa menyambut Dara dan Rafi ketika mobil sewaan mereka berhenti di depan rumah tua berdinding kayu yang sudah mulai kusam. Dara menatap rumah itu dengan perasaan campur aduk: antara nostalgia masa kecil yang tak pernah ia punya dan ketegangan menjelang pertempuran emosional bersama Bu Lilis. Bu Lilis langsung muncul dari balik pintu, mengenakan daster bermotif bunga-bunga besar yang tampaknya sudah eksis sejak zaman majalah Bobo masih laris dijual di warung. > “Lho, itu istrimu kenapa bawa dua tas besar, Rafi?” “Satu isi baju, satu isi sambel, Bu,” jawab Dara sambil nyengir. Bu Lilis menatap sinis. “Kamu pikir sini nggak bisa bikin sambel?” Dara mengangguk. “Bisa, Bu. Tapi sambel saya ada efeknya: bisa menahan diri supaya gak nyakar orang.” --- Dara langsung diseret k

