Frans melangkah masuk ke dalam rumahnya. Namun langkah selanjutnya terpaksa dihentikannya ketika melihat sosok ayahnya yang sedang duduk di ruang keluarga. Sungguh pemandangan yang langka. "Ayah sudah mendengar semuanya," ujar Soetanto. Pria paruh baya yang lebih mementingkan pekerjaan dan perusahaannya daripada putera satu-satunya. Tapi sejujurnya di dalam hati pria paruh baya itu, Soetanto menyayangi anaknya. Hanya saja gengsi dan didikan keras dari ayahnya membuat Soetanto menutupi semua itu. "Baguslah," jawab Frans lalu berjalan meninggalkan ayahnya yang masih duduk di tempatnya. "Duduk!" seru Soetanto Perdana. "Ayah belum selesai berbicara." Langkah Frans terhenti lalu ia memutar tubuhnya dan memilih duduk di tempat terjauh dari posisi ayahnya. "Mengapa kamu tidak membalasnya

