6

615 Kata
Setelah kejadian di kantin, Frans semakin uring-uringan. Mengapa? Tak ada yang tahu, walaupun Ben sahabat terdekat sendiri. Lelaki itu selalu mencari gara-gara dengan siapa saja. Seperti saat itu, hanya karena seorang siswa menabraknya tanpa disengaja. Frans langsung meraih kerah lelaki itu dan mendorongnya keras. Hingga siswa yang tak bersalah itu jatuh tersungkur di lantai. Ben tak dapat melakukan apa-apa walaupun ia sudah meminta Frans untuk mengatakan apa penyebabnya. Tapi tak ada satu kata pun yang keluar dari bibir Frans. Hingga suatu hari, Frans yang sedang duduk di kantin menangkap sosok seorang gadis yang telah membuatnya bertingkah laku kekanakan seperti ini. Kepalanya terus mengikuti ke mana arah gadis itu. Ben yang sedang menyeruput teh botolnya mengikuti ke mana arah pandangan sahabatnya. Saat itulah ia tahu apa penyebab Frans uring-uringan selama ini. Seorang gadis bertubuh mungil telah berhasil menarik perhatian Frans. Tiba-tiba saja Frans bangkit dari duduknya dan berjalan ke tempat tujuan gadis itu. "Woi! Frans! Lo mau ke mana?" teriak Ben. Padahal dia sudah tahu tujuan sahabatnya. Tapi yang benar saja, gadis itu berjalan masuk ke dalam toilet perempuan! Jangan bilang si gila Frans mau masuk ke toilet perempuan!? Jika iya, Ben yakin temannya itu benar-benar sudah tidak waras! Tapi sayangnya dia terlambat untuk mencegah temannya itu. *** Toilet perempuan saat itu sedang kosong. Tak ada satupun siswi yang berada di dalamnya. Mungkin karena sebentar lagi jam pelajaran sekolah akan kembali dimulai. Tivania mencuci tangannya di washtafel tanpa menatap cermin besar di hadapannya. Pandangan matanya fokus kepada tangannya yang sedang ia cuci. Ketika selesai, Tivania mengangkat kepalanya untuk melihat cermin besar di hadapannya, dan detik itu juga ia terkesiap melihat Frans berdiri tak jauh di belakangnya. Dengan cepat ia membalikkan tubuhnya dan langsung menemukan sosok laki-laki itu di depan matanya. "Apa maumu?" tanya Tivania sambil berusaha menutupi ketakutannya. Kedua tangannya memegang bibir washtafel di belakangnya. Frans memiringkan kepalanya sedikit. Kedua alisnya terangkat ke atas. Pandangannya tak lepas dari wajah Tivania. "Bukankah kamu tak ingin melihat wajahku lagi?" tanya Tivania lagi karena sejak tadi Frans hanya diam saja. Frans memajukan kakinya mendekati Tivania. Tanpa berniat menjawab pertanyaan gadis itu. Terus melangkah dan melangkah. "Jangan mendekat! Mau apa kamu?" Tivania mengangkat sebelah tangannya. Berusaha mencegah niat pria itu untuk mendekatinya. Tapi ia gagal. Karena tiba-tiba saja kakinya tak mampu bergerak. Dan detik berikutnya, gerakan Frans yang tampak cepat itu membuat semuanya terjadi tanpa Tivania sempat menghindar. Frans menghilangkan jarak diantara mereka lalu meraih tengkuk Tivania dan bibirnya mendarat sukses di bibir gadis itu. Kedua mata Tivania membesar, tidak menyangka jika laki-laki b******k ini memiliki niat untuk menciumnya. Siapa yang akan berpikir jika Frans akan menciumnya bukan memukulnya. Dilihat dari sorotan matanya yang penuh amarah. Tivania berusaha memberontak sekuat tenaga ketika ia akhirnya menyadari perbuatan Frans. Namun kekuatannya jelas bukan lawan laki-laki itu. Pukulan yang mendarat di tubuhnya bagaikan usapan ditubuh Frans yang kokoh. Setelah puas Frans melepaskan bibir mereka dan berkata, "Itulah hukuman bagi seorang gadis kecil yang sok berani dan telah berani melawan gue!" Frans menyeringai lalu berbalik meninggalkan toilet perempuan. Di ambang pintu ternyata sudah ada beberapa siswa-siswi yang menatap kejadian tadi dengan bibir yang tertutupi oleh kedua tangan mereka. Ketika mereka melihat Frans yang berjalan mendekati mereka, para siswi yang itu langsung bubar. Takut menjadi tempat pelampiasan kemarahan Frans selanjutnya. Setetes cairan bening mengalir di pipi Tivania. Ciuman pertamanya telah di ambil oleh seorang berandal yang baru dikenalnya. Sebuah kenyataan yang menyakitkan dan ia membenci kenyataan itu. Dengan kasar Tivania mengusap bibirnya berulang kali. Berharap dapat menghilangkan kecupan dari berandal itu. Namun nasi telah menjadi bubur, bagaimanapun kecupan itu telah berhasil m*****i bibir Tivania dan walaupun tidak terlihat ada bekasnya. Tetap saja memori di dalam pikiran tak bisa hilang. Kecuali saat manusia mengalami amnesia. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN