Mobil Mercedest Bent silver itu berhenti tepat di depan garasi rumah bercat abu-abu itu. Rumah yang terdiri dari dua lantai, bergaya minimalis namun terkesan mewah dari luar.
Seorang pria berbadan atletis keluar dari mobil tersebut dengan menenteng jas hitam milik nya. Pria bermata tenang, dengan tatapan datar milik nya namun siapa pun yang bersitatap dengan nya akan dapat merasakan kehangatan dari tatapan itu.
"Rian! Kamu darimana aja sih? Mama nungguin dari tadi." Seorang wanita paruh baya menyambut kedatangan pria yang di panggil Rian itu, di teras rumah.
"Rian habis dari kantor ma." Balas Pria bernama Rian itu, seraya menyalami tangan wanita berumur setengah abad yang berstatus ibu kandung nya. Walaupun begitu, wanita itu masih terlihat awet muda.
"Di suruh papa kamu?" Rian mengangguk.
Ranti---ibu Rian menghela nafas nya. Dia tanpa sadar melirik ke arah bemper mobil anak nya yang terlihat lecetan di sana.
"Itu mobil kamu kenapa?" Ranti melirik Rian.
"Oh! Itu tadi gak sengaja nabrak orang."
"Apa?!" Ranti menjerit tertahan. "Trus dia gimana? Kamu gimana? Ada yang luka?" dia meneliti tubuh anak nya.
Rian menghela nafas nya, sifat panikan sang ibu keluar. "Ma! Rian baik-baik aja kok. Cuman gadis itu yang agak lecet, tapi dia gak mau di bawa ke rumah sakit."
"Kamu nabrak seorang gadis?" Ranti mengekori putra nya dari belakang.
Rian mengangguk. "Tapi dia gak parah kan Rian?"
Riang tersenyum simpul. "Kayak nya enggak deh ma. Cuman lecet aja."
Ranti mendesah lega. "Syukur deh. Ya udah, kalau gitu mama mau nyiapin makan malam dulu, keburu papa kamu pulang."
Rian mengangguk. Di ruang tamu itu kini hanya tersisa diri nya. Pikiran nya tiba-riba melayang pada sosok gadis yang tadi tidak sengaja tertabrak oleh nya.
Bad Girl
Itu lah kata yang kini terlintas di benak Rian melihat gadis SMA itu.
"Rian!"
Rian tersentak. Dia mengalihkan pandangan nya ke arah Pria paruh baya yang baru saja duduk di samping nya. "Eh---pa."
"Ngelamun?" Jaya---papa Rian bertanya seraya melepaskan jas kantor nya.
"Enggak kok." Balas Rian.
"oya, jadi besok kamu masuk ngajar di SMA?" Jaya bertanya, seraya menyesap kopi yang baru saja di berikan oleh istri nya. Dia sempat melempar senyum ke arah wanita pendamping hidup nya itu.
"Jadi Pa. Besok hari pertama."
"Ck, kamu ya kenapa gak kerja di kantor papa aja sih. Papa udah tua loh, siapa lagi yang meneruskan perusahaan kalau bukan kamu."
Rian menghela nafas nya. "Pa, Aku bakal ngurus perusahaan kok sebagai sampingan nya aku jadi guru SMA. Lagian jadi guru itu cita-cita aku dari kecil, papa tau itu." Jawab nya dengan suara tenang milik nya.
Jaya mengangguk. "Ya udah terserah kamu deh. Papa sama mama dukung aja. Iya kan ma?"
Ranti mengangguk seraya tersenyum. "Gimana rumah baru nya suka kan?"
Ya, keluarga Bratawijaya ini memang baru saja pindah rumah ke sebuah komplek elit bernama komp. Permai Sejahtera.
"Ya lumayan lah ma. Mama udah kenalan sama tetangga di sini?" Tanya Rian.
"Kebeteluan salah satu tetangga kita di sini temen mama sama papa dulu waktu SMA." Balas Jaya kali ini.
"Oya?"
Ranti mengangguk. "Tuh rumah nya di seberang rumah kita, hadap-hadapan sama rumah kita."
Pandangan Rian teralihkan menatap rumah di seberang. Rumah berwarna putih, dengan pagar tinggi berwarna hitam. Rumah bertingkat dua, yang terlihat lebih besar dan luas daripada rumah Rian yang lebih terlihat minimalis.
"Rencana nya mama mau ajak kalian silahturahmi hari minggu." usul Ranti, menatap suami nya dan putra nya.
"Boleh." Jawab Jaya dan Rian serempak.
❄❄❄❄❄❄
Yuna menghela nafas berat nya seraya menjatuhkan b****g nya ke atas kursi di sebelah Rena.
"Ck, gak bakal seru nih gak ada my Bia."
Gumam Yuna, seraya menyandarkan kepala nya di sandaran kursi, lalu kaki yang di naikkan ke atas meja.
"Kaki lo Yun." Tegur Milka, seraya menutup buku yang di baca nya.
"Ck, gak usah bawel Milka." desah Yuna, seraya memasukkan permen karet ke mulut nya.
Brukk...
Milka memukul kaki Yuna dengan buku tebal di tangan nya, membuat gadis itu meringis namun tidak menurunkan kaki nya.
"Gak sopan lo." Desis Milka.
"Biarin!!" Balas Yuna seraya membuat balon dengan permen karet di mulut nya.
Milka menghela nafas nya lalu menggelengkan kepala nya melihat kelakuan satu teman nya itu. Memakai seragam tidak pernah benar, berantakan, baju ketat, rok pendek, rambut diwarnai, kaos kaki belakang, sepatu warna. Semua nya ada di diri Yuna.
Sementara Rena, gadis bermata sayu itu sudah merebahkan kepala nya sejak tadi di meja dengan mata yang terpejam. Lagi-lagi gadis itu mengantuk dan tertidur di kelas.
Milka, Yuna, Rena dan Bia adalah kumpulan siswi kelas XI IPA 2. Kelas yang paling di kenal dengan keonaran nya. Terlebih dengan ada nya 4 orang siswi yang paling sering membuat masalah. Walaupun Milka adalah siswi pintar di kelas itu, tapi tetap saja Milka juga pernah membuat masalah dan di hukum bersama ketiga teman nya. Tapi kenakalan Milka dan Rena tidak separah kenalakan Yuna dan Bia. Kebiasan Rena yang selalu membuat guru-guru angkat tangan hanya lah tidur di kelas. Sementara Yuna dan Bia selalu melampaui batas.
"Ngantuk lo Ren?" Yuna menepuk pipi Rena.
"Errghh..." Rena mengerang tanpa membuka mata nya.
"Kira-kira Bia lagi apa ya? Gue ajak keluar ah." Yuna mengeluarkan ponsel nya dari jaket kulit abu-abu nya.
"Eh---trus lo mau bolos?" Milka menahan tangan Yuna.
"Iya." Balas Yuna santai.
"Gila lo! Kemarin udah bolos, hari ini lo mau bolos lagi? Trus mau ngajak Bia? Duh jangan saiko deh Yun, lo tau kan nyokap Bia kayak apa. Gimana Bia sama nyokap nya, lo mau Bia perang lagi sama nyokap nya?"
Yuna tertegun, dia menatap mata Milka di balik kacamata minus gadis itu. Milka benar. Bisa-bisa masalah Bia semakin banyak.
"Bener juga sih."
"Nah mangka nya." Milka memperbaiki posisi kacamata nya. "Jangam aneh-aneh, duduk aja manis di kelas."
Yuna mendesah, lalu menjatuhkan kepala nya di sandaran bangku.
Suasana kelas cukup berisik pagi ini. Siswa siswi yang sibuk berlarian di kelas, bercanda, bahkan tak jarang yang berteriak dan mengeluarkan kata-kata kotor.
XI IPA 2, kelas paling kacau dan suram.
"Pagi semua nya!!"
Bahkan suara itu pun tidak membuat siswa siswi itu berhenti berisik. Mereka masih sibuk tertawa dan melakukan aktivitas kesukaan mereka. Mengabaikan suara tersebut.
"Perhatiann!!" Suara itu lebih tinggi. Namun, masih di abaikan.
BRAKK....
"PERHATIANNN!!"
Hingga gebrakan di meja baru membuat kelas itu hening dan menatap malas ke arah guru yang berdiri di depan sana. Guru muda 25 th, dengan nafas yang terengah menatap sekeliling kelas.
"Turunkan kaki kamu Yuna!" Perintah Buk Kirana tegas, sang wali kelas.
Yuna dengan malas menurunkan kaki nya.
"Bangunkan Rena!"
Yuna berdecak, lalu menendang kaki Rena. Bukan nya bangun gadis itu justru hanya mengubah posisi kepala nya menjadi menghadap dinding.
"RENA!!"
Teriakan berang Buk Kirana lah yang membuat Rena bangun dengan malas. Dia malah menatap Buk Kirana dengan mata sayu dan lingkaran hitam di sekitaran mata nya.
"Oke! Sebelum pelajaran di mulai. Di sini saya akan memperkenalkan kalian dengan guru matematika baru untuk menggantikan Pak Suroso." Suara Buk Kirana masih terdengar tegas, namun tidak dengan teriakan lagi.
"Lah! Si Suroso kemana? Koma di rumah sakit?" Celetukan seorang siswa di sudut kelas mengundang tawa yang lain nya. Dia---Vicky, salah satu bad boy SMA RISING.
"Gak koma Vic, tapi udah mati!!"
"Serangan jantung dadakan!"
"Langsung End, gue udah ziarah tadi!!"
Timpalan-timpalan itu semakin riuh.
Braaakk...
"DIAM!!" Buk Kirana membentak.
Sementara seorang Pria berkemaja putih di samping Buk Kirana hanya menatap tenang ke arah penjuru kelas.
"Pak Rian! Silahkan perkenalkan diri anda!" Buk Kirana mempersilahkan.
Pria yang di panggil Pak Rian itu mengangguk. "Ok, perkenalkan nama saya Rian Bratawijaya, kalian bisa panggil saya Pak Rian. Saya adalah guru matematika kalian untuk satu tahun ke depan."
"2 minggu ke depan kali." Celetuk Yuna, dan terus mengunyah permen karet nya, menatap santai ke arah guru tersebut.
"Tauk! Emang tahan! Daripada serangan jantung lagi kayak Suroso, mending nyerah aja dari sekarang." Timpal Rena, dan di setujui satu kelas.
"Nah bener tuh! Ntar mati di sini ribet!" Tambah Vicky. Di susul tawa yang lain.
"Kita lihat aja nanti!" Pak Rian menyahut tenang.
"Huuuu!! Nyali gede men!" Cibir Yuna di ikuti satu kelas.
Buk Kirana menggeram tertahan. Kelas XI IPA 2, benar-benar minim akan sopan santun.
"Silahkan pak! Di lanjutlan pelajaran nya! Buat kamu Yuna! Vicky! Ikut saya keruangan!" Tekan nya pada Yuna dan Vicky.
Vicky mendesah malas lalu bangkit berdiri di sertai dengan tendangan pada meja. Sementara Yuna bangkit berdiri, dengan kedua tangan di masukkan ke saku jaket.
"YUNA!!"
Buk Kirana berteriak saat Yuna melintas di depan Pak Rian dan diri nya dengan meludahi permen karet yang ada dalam mulut nya ke lantai.
Pak Rian termangu tidak menyangka, dia pikir cerita tentang kelas ternakal di sekolah ini hanya sekedar cerita. Tetapi, fakta yang di lihat nya sekarang justru lebih parah daripada ekspektasi nya.
Apa dia bisa?
❄❄❄❄❄❄
Tidak terasa sudah 3 hari berlalu, itu arti nya masa skorsing Bia telah berakhir. Namun, sudah jam 8.00 gadis itu tidak kunjung terlihat di sekolah.
"Buk Kiran!"
Buk Kirana menoleh saat seseorang memanggil nama nya. "Eh Pak Rian."
"Ibuk ngapain di sini?" Tanya Pak Rian, seraya ikut berdiri di samping Buk Kirana.
"Oh enggak pak. Bapak mau ngajar?"
"Iya, di kelas XI IPA 2."
Buk Kirana tersenyum canggung. "Pak! Saya mohon ya, jangan menyerah untuk mendidik anak-anak itu, mereka hanya---"
Brukkk..
Ucapan Buk Kirana terhenti saat mendengar suara dentuman. Baik Buk Kirana dan Pak Rian sama-sama saling pandang.
"Belakang sekolah Pak."
Rian langsung saja mengikuti langkah lebar wanita yang seumuran dengan nya itu. Langkah mereka sama-sama terhenti saat di belakang sekolah.
"Ya ampun! Bia!" Gumam Buk Kirana.
Rian mengikuti arah pandang Buk Kirana. Tampak lah di sana, seorang gadis berseragam SMA tengah berjongkok, lalu berdiri membersihkan seragam nya. Rian menyipitkan mata nya saat dia seakan mengenal wajah gadis itu.
"Buk itu."
"Iya pak dia yang nama nya Biarezka, siswi yang sering menjadi bahan omongan di sekolah ini. Dia baru saja menyelesaikan masa skorsing nya, karena tawuran tiga hari yang lalu." Jelas Buk Kirana.
Tidak salah lagi, gadis itu adalah gadis yang sama yang waktu itu di tabrak Rian.
"BIA!!"
"Oh s**t---"
Bia mengumpat saat nama nya di panggil. Dia menghentikan langkah nya, namun tidak berniat untuk berbalik.
"Bagus. Setelah masa skors kamu kembali membuat ulah."
Bia mendengus malas saat kehadiran Buk Kirana di depan nya. Dia menatap malas ke arah guru muda itu.
"Trus masalah buat lo!" Balas Bia santai, tanpa rasa sopan santun.
Buk Kirana menghela nafas nya perlahan. "Kalau begitu ikut saya ke ruangan!"
Bia menghela nafas nya. "Kalau gue gak mau? Lo mau apa? Udah deh, lo gak usah ribet ngurusin hidup gue! Kayak hidup lo udah bener aja."
"Apa seperti itu cara kamu berbicara dengan guru kamu?"
Bia memutar bola mata nya jengah, lalu melirik seseorang yang baru saja hadir di samping nya.
Bia seketika mengerutkan dahi nya saat melihat wajah pria yang berdiri di sampingnnya. Dia ingat sekarang, siapa pria ini.
"Huffttt---nambah lagi manusia kepo." Gumam Bia jengah seraya membuang permen karet di mulut nya tepat di lantai koridor.
"Kamu tu siswi terdidik, tapi perilaku kamu---"
"Apa? Gak terdidik?" Bia menatap datar ke arah pria tersebut. "Lo siapa sih? Perasaan dari 3 hari yang lalu, lo selalu ngurus hidup gue."
"Bia! Jaga intonasi bicara kamu?" Tegur Buk Kirana tegas. "Kamu ikut ibuk! Atau Mis Dewi yang akan bertindak!"
Bia menatap tajam ke arah Buk Kirana. Sorot mata nya berubah datar.
"Ancaman lo keren!" Desis Bia, sebelum akhir nya membalikkan tubuh nya dan berlalu pergi.
"Pak! Bapak duluan saja ke kelas! Saya harus ke ruangan dulu!"
Rian mengangguk dengan sesekali menatap punggung siswi berseragam ketat yang di lapisi dengan jaket kulit maroon itu. Dia menghela nafas nya, saat tau bahwa satu lagi sisiwi nakal bertambah di kelas nya.
"Oh Tuhan!" Rian menghela nafas nya, sebelum akhir nya berlalu menuju kelas XI IPA 2.
❄❄❄❄❄❄
"Ok! Sekarang coba kalian buka buku halaman 100, disana ada latihan soal. Jadi tolong kalian kerjakan---"
Brukkk...
"I'm back guys!!!"
Perhatian satu kelas teralihkan karna suara nyaring itu. Termasuk, Pak Rian yang tengah mengajar.
Suasana kelas langsung berubah riuh, saat seorang gadis berpenampilan bad girl berdiri di ambang pintu. Siapa lagi kalau bukan Biarezka.
"OMG!!! MY BIA!!" Yuna langsung saja berteriak dan berlari ke arah Bia. Dia lalu memeluk Bia.
"Oh Bia! Akhir nya lo masuk lagi! Sepi nih 3 hari gak ada lo." Timpal Vicky, ikut bertos ria dengan Bia.
"Bener banget. Sekolah sepi, sunyi tak berpenghuni Bi."
"Ya gue tau. Mangka nya gue hari ini masuk! Tapi besok-besok kita bolos lagi. Ya gak!!"
Ucapan Bia langsung di sambut teriakan antusias dan heboh satu kelas.
Mereka seakan lupa, bahwa masih ada seorang guru yang berdiri di depan kelas tengah menatap mereka dengan tatapan dingin.
"Duduk di kursi kamu! Yang lain juga!" Rian membuka suara nya.
Suasana kembali berubah hening. Bia menoleh ke belakang, dia menaikkan sebelah alis nya.
"Guru baru Bi. Lo tau pelajaran apa?"
Bia melirik ke arah Yuna.
"Matematika! Pelajaran yang paling lo benci Bia sayang." Kali ini Rena yang bersuara, seperti biasa gadis itu merebahkan kepala nya ke atas meja dengan mata terpejam.
"Oya?" Bia menyeringai ke arah Pak Rian.
"Duduk Bia!" perintah Pak Rian dingin.
"Lo tau nama gue? Tapi gue gak tau nama lo."
Rian menghela nafas nya perlahan, berusaha mengontrol emosi nya. "Kamu bisa panggil saya Pak Rian."
"Oh." Bia ber-oh ria. Dia lalu duduk di bangku sebelah Yuna. "Lanjutin aja ngajar nya!"
Suasana mulai tenang kembali. Namun, Rian masih harus stock kesabaran saat Bia malah mengeluarkan ponsel dan headseat nya. Lalu mulai mendengarkan musik lewat sana.
Untuk kesekian kali nya Rian menghela nafas nya. "Silahkan kerjakan soal nya!" dia memilih untuk tidak menegur Bia lagi. Daripada emosi nya terpancing dengan kata-kata tidak sopan gadis itu nanti.
"Maaf pak saya telat."
Rian mengalihkan pandangan nya ke ambang pintu. Kali ini, seorang siswi berseragam rapi dengan kacamata minus bertengger di batang hidung nya.
"Silahkan masuk Keke!"
Gadis itu menunduk sopan kepada Pak Rian, sebelum akhir nya berjalan menuju bangku nya.
Brukkk...
"Hahahaaha."
Suasana hening terpecahkan dengan suara dentuman dan tawa satu kelas yang muncul secara tiba-tiba.
"BIA!!"
Kesabaran Rian habis sudah. Bagaimana tidak, Keke, gadis yang baru saja masuk tadi jatuh terjerambab ke lantai karna ulah Bia yang menyungkai kaki gadis itu.
"Haaaa----dasar si cupu bakteri!! Gitu doang jatoh!!" Ledek Yuna dan terus tertawa.
"Culu-cupu! Baru juga datang, udah nyium keramik aja lo." Tambah yang lain nya.
"DIAM SEMUA NYA!!" Bentakan Rian membuat satu kelas hening.
"UNTUK KAMU BIA!! IKUT SAYA KERUANGAN!!"
"f**k---" Bia mengumpat, lalu berdiri dari duduk nya. Dia sempat menginjak kaki Keke saat berjalan ke depan, membuat gadis itu yang masih terduduk di lantai.
Membuat Keke meringis sesaat. Sementara Rian menggelengkan kepala nya melihat kelakuan gadis tersebut.
"Yang lain lanjutkan kerjakaan kalian! Keke! Kamu duduk!"
Milka menghela nafasnya. "Bia! Dapet masalah lagi kan." Gumam nya yang dapat di dengar oleh Rena.
"Gak usah di ambil pusing Mil. Kayak pertama kali aja." Komentar Rena masih dengan mata terpejam.
Milka kembali menghela nafas nya, lalu melankutkan mengerjakan latihan nya. Di tengah, kebisingan kelas.
❄❄❄❄❄❄