Alayya benci saat dirinya menjadi pusat perhatian seperti sekarang ini. Di sepanjang koridor, orang-orang terus memperhatikan setiap langkah kakinya. Tidak, lebih tepatnya memperhatikan Abrar dan dirinya. Bagaimana tidak, Abrar dengan santainya berjalan sambil menggenggam jemarinya. Tatapa Abrar lurus kedepan. Abrar tidak perduli pada orang-orang yang memperhatikannya di sepanjang koridor. Berbeda dengan Alayya yang menunduk kan kepalanya karena tidak nyaman. Sebenarnya Alayya masih bingung dengan perubahan sifat Abrar. Baginya, itu terlalu tiba-tiba. Sejak mereka pulang dari pasar malam kemarin malam, Abrar berubah. Abrar berubah menjadi sosok yang hangat. Apa Alayya senang dengan perubahan itu? Tentu saja Alayya senang. Tapi tak bisa dipungkiri bahwa Alayya sedikit risih. Mungkin kare

