Keesokan harinya, setelah Dara sehari menginap. Pagi-pagi ia terbangun. Dara sudah terbiasa bangun pagi-pagi karena kebiasaannya membuatkan Kenan sarapan dan membantu Ken bersiap-siap berangkat ke kantor. Pagi di desa memang berbeda saat di kota. Suasananya terasa lebih dingin, mungkin karena suhu yang berbeda dan lingkungan yang masih asri. Cicitan burung juga saling bersautan, tidak beraturan namun terdengar sangat menenangkan. Dara juga mencium wangi seperti asiri yang meruap dari bilah rumput yang terbelah. Entah siapa yang menebas rumput sepagi ini, namun yang jelas Dara berterimakasih karena ia sangat suka aroma itu. Wanginya sangat menenangkan, seperti wangi petrikor favoritnya. Setelah mengumpulkan segenap nyawa selama tiga menit, Dara putuskan untuk benar-benar bangun. Ia memb

