- Jika nanti
Saat semua cerita menjadi memori
Kan ku titipkan kerinduan ku
Pada semilir angin yang menyapa mu di sana –
Hari terus berlalu, entah sudah berapa besar rasa rindu diantara kegundahan ini.Meski berita tentang pernikahan Radith mulai mereda. Tapi rasa sakit di hati ku tak kunjung hilang, kabar terbaru tentang Radith adalah ia sudah Resign dan besok akan ada Dokter baru yang menggatinkan Radithya.
Ah, cepatnya waktu berjalan, rasanya baru kemarin aku tertawa, besama bahagia yang selama ini ku nantikan. Haruskah aku berterimaksih pada takdir yang telah mempertemukan kami?. Haruskah aku berterimakasih sebab takdir, memberiku kesempatan untuk meraih bahagia ku sendiri, meski sekejap dan hilang tanpa jejak.
Beginikah rasanya mencintai? Tolong katakana pada ku, mengapa harus sesakit ini. Ku biarkan saja air mata ku mengalir, tak tahan lagi untuk memendamnya lebih lama. Menangis tidak membuat kita menjadi lemah, namun justru membuat kita lebih siap dalam menghadapi kehidupan dengan segala lika-likunya. Biarlah air mata ini menjadi penawar dari rasa pahit yang sedang ku rasa.
Setelah ini, aku janji hanya akan ada senyuman, meski berat rasanya. Sebab bagaimana pun, tenggelam dalam kubangan air mata bukanlah suatu pilihan yang baik. Waktu masih berputar, dan kehidupan tetap harus berjalan sesuai alurnya.
Hingga dering panggilan masuk dari Iphone terdengar, barulah ku seka air mata pilu ini. Nama “Reina Bawel” tertera pada secreen.
“Ra, kamu dimana?”
“Kenapa?”
“Ra, lu pilek? Atau lu, abis nangis ya?” Reinan memelankan suara di kalimat terakhirnya. Mungkin suara serak ku begitu mudah di tangkap oleh pendengaran Reina, ah, Raina anak itu meski bawelnya sedunia tapi dia satu-satunya orang yang paling perduli sama gw.
“Gak, kok. Kenapa Rein?”
“Kamu dimana? Mau makan siang gak? Atau aku beliin aja ?”
“Gak usah, aku pesen makanan online tadi”
Baru saja ku letakan Iphone di atas meja, terdengar derit pintu terbuka. Ternyata Pak Maman salah satu petugas kebersihan yang bertugas membersihkan semua ruang dokter.
“Permisi, dok.” Sapa Pak Maman ramah.
“Oh ya pak, silahkan”
“Saya mau beresin meja dokter Radith. “ di tangan kanan pak mamat sudah memegang sapu dan serok, di sebelah kirinya membawa kotak sampah.
Aku hanya tersenyum, lalu ku lihat Pak Maman mulai membereskan meja dan membuang beberapa kertas yang tak terpakai.
“Dokter Tiara sendirian aja?”
“Ya nih Pak Maman, yang lain pada ngopi ke kantin ada juga yang lagi pada main ke ruang sebelah” jawab ku.
Aku kembali mengalihkan pandangan ke laptop , layar yang tadinya masih putih kini telah terisi angaka, huruf dan gambar-gambar. Menulis laporan bukanlah bagian terindah dari pekerjaan ku. Ini adalah hal yang terkadang membuat pusing, aku terkadang kehabisan akal untuk menyusun kata-katanya.
Aku berpikir bagaimana para novelis sangat mudah merangkai kata hingga beratus-ratus lembar, padahal beberapa dari cerita novel itu adalah fiktif. Bagaimana imaginasinya bisa berputar?
Bagaimana ia bisa mengelabui perasaannya?, ketika menulis tentang keindahaan cinta padahal bisa saja saat itu hatinya sedang gundah, ia bisa menulis tentang duka yang mendalam padahal hatinya tengah bahagia.
Apakah mereka selalu jujur dengan apa yang di rasakannya atau memilih bersembunyi di antara bait kata?
“Dok” suara Pak Maman, mengalihkan perhatian ku.
“Ini saya nemuin kotak di meja Dokter Radith”pak maman menyodorkan sebuah kotak, mirip seperti kotak kado dengan motif garis-garis berwana cream dan coklat.
“Kotak apa itu pak?” Tanya ku, dengan pandangan tertuju pada kotak yang Pak Maman letakan di atas meja ku.
“Gak tau dok, coba lihat aja“
“Pak, apa gak sebaiknya bapak kasih ke siapa gitu, biar kalo dokter Radith nyari gampang. Ke pos satpam atau resepsionis gitu.”
“Hehe, iya si dok , tadinya mau begitu. Tapi maaf, Pak Maman tadi sempet buka isi kotak nya dan di dalam nya, di tumpukan paling atas ada amplop seprti surat tulisannya MUTIARA SENJA. Jadi saya fikir saya kasih ke dokter Tiara aja.”
“Kalo gitu makasih ya pak.”
“Sama-sama dok. Kalo gitu saya pamit dulu.”
Aku yang penasaran dengan kotak itu segera membukanya. Benar kata Pak Maman di tumpukan teratas, ada sebuah amplop putih dengan logo “Surat dari Kampus aku??” aku terkejut surat dari kampus? Kenapa ada sama Radhitya?
Aku yang mulai penasaran, membuka amplop dan membaca suratnya . Ternyata itu adalah surat pangilan untuk orangtua, beberapa bulan sebelum memulai koas aku membuat masalah di kampus, bertengkar dengan teman ku yang tak lain adalah Revi, di lab kampus dan mengakibatkan beberapa fasilitas lab rusak . Pihak kampus menelfon kedua orangtua ku dan mengabarkan hal tersebut . Tapi mereka yang tidak mau di pusingkan dengan hal seperti itu, langsung mengganti rugi semua biaya kerusakan, tanpa pernah bertanya mengapa aku begitu, atau bertanya apakah aku terluka.
Masih lekat dalam ingatan ku, tatapan merendahkan saat Revi dan aku di sidang oleh kepala prodi, ia begitu senang karna di bela oleh orangtuanya, sedangkan aku hanya diam, malas berdebat karna sudah jelas Revi lah yang akan menang. lihat saja orangtunya yang sangat membelanya membuatku kalah telak. Sedangkan aku, hanya sekertaris Papah yang datang dan itu pun terlambat.
Tak lama setelah sidang itu, aku di panggil kembali menghadap kepala prodi, entah kenapa kepala prodi sangat ingin sekali bertemu dengan orangtua ku, aku yakin kali ini beliau meminta ku menyerahkan surat panggilan untuk orangtua lagi.
Tok..tok.
“Masuk Tiara”
“Ya bu”
“Silakan duduk” tangan ibu Dini mengarahkan ku untuk duduk di kursi
“Tiara, ibu panggil kamu ke sini untuk membicarakan tentang masalah kamu yang kemarin” tangannya sambil membuka sebuah laci
“Loh bu, bukannya orang tua saya sudah bayar ganti rugi semuanya. Oh atau masih kurang ya ?”
“Bukan Tiara, orangtua kamu sudah membayar ganti rugi dengan cukup. Tapi yang saya ingin kan, bertemu dengan orang tua kamu, ada beberapa hal yang ingin dibicarakan “ jelasnya
Aku hanya tertunduk, karna aku yakin hal seperti ini tidaklah penting bagi mereka. Fokus mereka
hanyalah pada bisnisnya, bukan pada ku. Entahlah terkadang aku juga berpikir utuk apa mereka punya anak kalau tidak pernah di perhatikan dan diurus.
Sejak kecil orangtua ku jarang menghadiri pertemuan orangtua atau bahkan ketika pentas seni mereka tidak pernah hadir, hanya bibi yang menemani ku, hal itu memicu terjadinya pembullyan terhadap diriku, mereka membully dengan mengatakan kalau aku hanyalah anak pembantu.
Sejak saat itu aku membenci mereka, bahkan disaat aku menerima penghargaan karna menjuarai olimpiade sains, mereka hanya hadir sebentar, itupun lagi-lagi hanya untuk kepentingan bisnisnya, karna dari yang ku dengar salah satu orangtua murid di sekolah adalah rekan bisnisnya, sehingga orangtua ku bisa membanggakan diri di depan rekan bisnisnya.
Tapi kenapa surat ini ada sama Radith.. oh no.. apa dia ??