BAB 1. KAPAL PESIAR , PARI (bagian 1)

1613 Kata
Hari ini. “Haaassshhhaaahh!” Brak! Sebuah cermin kembali pecah. Seperti biasa, Drako memecahkan cermin lagi. Emosinya tak pernah tenang saat melihat pantulan wajahnya di cermin. Dia selalu marah dan frustasi dengan pantulan wajah di cermin itu. Wajah dirinya. Menurutnya hidung, alisnya, bibirnya, matanya, dagunya, harusnya tak seperti itu. Seperti Frangkenstein, penuh bekas jahitan. Salah siapa jika ternyata tubuhnya menolak semua jenis implant kosmetik. Rekonstruksi wajahnya gagal karena ini. Drako hanya jadi objek menarik bagi para dokter kecantikan yang haus tantangan. Di sisi lain, Drako begitu berambisi untuk mengembalikan ketampanannya. Baginya ketampanan adalah modal utama bagi karirnya dalam dunia model. Tangan Drako yang terobek, memerah darah. Wajahnya yang menyeramkan mengeryit sakit bercampur amarah. Amarah masa lalu, keputus asaan masa depan. Drako Wongso, nama lelaki itu, kini tak pernah mampu lama menatap wajahnya yang mengerikan memantul dari cermin manapun. Sekalipun hanya pantulan dari air danau, atau jendela kaca. Jendela di rumahnya selalu terbuka lebar, atau selalu tertutup tirai agar kaca jendelanya tak pernah memantulkan wajahnya yang mengerikan. Tanpa ragu istrinya menjilat luka ditangannya dengan kasih. Lalu dengan gerak anggun yang efesien, istrinya mengambilkan perban, dan semangkuk cairan desinfektan, melap semua lelehan darah. Dia seolah tak peduli yang dihadapannya adalah seorang monster, yang di matanya semakin hari semakin mengerikan wajahnya, karena kebengisan-dendam-amarah-keangkuhan- menebalkan kengerian itu. Mati! Matilah kau! Monster gila ! Alunan kutukan berdendang di benak istrinya. Hujatan, sampah sumpah serapah begitu memenuhi hati, pikiran istrinya. Sepertinya tak ada lagi dari dirinya yang tersisa untuk bertindak dengan ikhlas, atas nama istri seorang Wangsa Sebelas yang setia. Susah senang, kita bersama. Sakit-sehat kita tetap setia. Semua janji pernikahan hanya menjadi sekedar debu dari pelapukan batu menhir tempat tertatahkan kata-kata surga itu. Semua telah hilang seiring hilangnya ketampanan Drako, suaminya . Hampir setiap kali memandang wajahnya di cermin, Drako memecahkan cermin. Dia begitu frustasi. Wajahnya, yang merupakan modal utama selaku model telah hancur. Karirnya hancur. Kepercayaan dirinya tenggelam bersama obat-obatan anti depresan. Maka semua menjadi mengerti mengapa dia menghujani kata-kata tak senonoh pada pada siapapun bahkan istrinya, tak peduli ia sedang berada di ruang terapis mental. Drako mengira amarah tak berujungnya mengubah sikap setia istrinya. Dia kira istrinya akan pergi meninggalkannya. Drako lupa, satu hal penting. Bahwa istrinya adalah seorang wanita terhormat Wangsa Sebelas. Sebagaimana tradisi Wangsa Sebelas, istrinya mendapat pendidikan keras dalam pengandalian emosi dan perilaku. Ibunya mengajarkan dan melatih putrinya untuk bertahan dalam keadaan apapun. Ini adalah bagian dari modul praktikum bab: Hukum suksesi alam yang baku; Berkamuflaselah! Agar kau bisa bertahan hidup. Jadi dia tetap nampak sebagai istri yang baik, anggun, melayani suami penuh cinta, sekalipun, tak ada satu pun dari sel tubuhnya yang menerima ikhlas suami monsternya ini. Bagi istrinya, Drako benar-benar berubah menjadi seorang monster mengerikan, buruk rupa sekaligus kasar, kejam. Sikap gentelman seorang tampan, yang membuat wanita manapun jatuh cinta dan memujanya benar-benar tinggal sejarah. “Oke tuan yang mulia, Jadi bagi saya, sangat jelas. Perjalanan ini akan sangat bapak perlukan untuk kesehatan mental dan fisik bapak.” Chan Nio bicara merayu, dengan intonasi Wangsa sebelas, dan frekuensi suara yang ia yakini, dapat menghantarkan gelombang hipnotisnya melalui telinga, dan langsung menghantarkannya ke dalam otak kecil Drako. Frekuensi yang tak mengharapkan seorang didepannya mengerti dan sempat berpikir untuk melawannya. “Saya akan melakukan apa saja demi kesembuhan suami saya, dokter.” Untuk pertama kalinya sang istri mengambil keputusan untuk suaminya. “Kau!” suara serak terkejut keluar dari mulut Drako. Pita suara plastiknya bergetar payah. Chan Nio menelan ludah. O-oo, dia memiliki katahanan pikiran yang jauh dari dugaanya. Frekuensi hipnotisnya, tak mempan menembus gelombang elektrik di otaknya. “Oh sayang, tolonglah aku, aku ingin kehidupan kita senormal dulu lagi.” Istrinya menunduk, merayu, gaya hormat penuh kasih. Khas sopan santun wanita ningrat Wangsa Sebelas. Aku berharap, sangat, kapal selam pesiar itu bocor, terbakar, atau apalah, hingga kau tenggelam bersamanya. Pokoknya kau tak akan kembali lagi ke rumah, aku tak peduli, program operasi plastic itu mengembalikan ketampanannmu, dan terapis mental Chan Nio membuatmu menjadi sangat sempurna, seorang pangeran berbudi luhur, berahlak mulia. Buatku kau seperti sepotong kayu yang terbakar api neraka yang dahsyat. Buatku –tentangmu- sudah terlanjur jadi abu. “Tuan Drako, kurasa keputusan istrimu sangat baik.” Chan Nio ikut menundukan kepala tanda permohonan. Ini ia lakukan bukan untuk kesopanan. Tapi sebagai ahli jiwa, Chan Nio tahu cara menaklukan seorang pasien yang angkuh, dan sombong. Chan Nio melirik si istri, pandangan matanya berbicara banyak. Lakukan sesuatu! Atau aku batalkan perjanjian pembayaran kontrak dia sebagai objek penelitian yang berharga. Sangat berharga! Yah, Chan Nio telah seminggu ini menanti kabar, bergabungnya Drako di kapal selam Pari, bukan untuk liburan, tapi untuk mengikuti metode baru dalam terapi kesembuhan jiwanya. Metode yang menggairahkan dunia perbaikan jiwa-jiwa yang sakit. Chan Nio, mendapat dana besar bagi riset ini, sekali lagi, dari salah satu perusahaan farmasi Subrata. Selain itu, yayasan inovasi Subrata, juga mengumbangkan dana yang tak kecil untuk ini. Si Istri seolah mengerti arti tatapan mata Chan Nio itu, dia menarik nafas perlahan, mengambil semua kekuatan alamnya untuk berucap: “Aku akan lakukan pemesanan untukmu, sayang.” Chan Nio menghela nafasnya yang sempat terhenti, lalu dia tersenyum kaku pada Drako. *** Iklan ini ditujukan untuk warga biasa, kelas biasa, harga khusus bagi para reporter, Pesohor, pejabat, siapa-pun- itu yang dapat ikut melambungkan dan menjadi agen iklan Pari Pesiar. INILAH KAPAL SELAM IMPIAN. Sebuah ‘balon’ penyelam berkapasitas 2000 orang dilengkapi dengan berbagai fasilitas. Olah-raga, rekreasi, hotel dengan beberapa suite, 500 kamar kapasitas 2 sampai 6 orang, resto, ballroom . Rumah sakit yang melayani bedah kecantikan dan bedah-bedah organ cangkokan. Tersedia juga laboratorium bio-teknologi dengan fasilitas tercanggih untuk kelautan, Kami sediakan bagi perusahaan-perusahaan yang tertarik mengeksploitasi kekayaan laut yang manfaatnya tak terbatas. Pari Pesiar dibangun dalam bentuk semi kapal selam karena kemampuannya pergi ke pedalaman yang masih minim. Hanya 500 m dari permukaan air. Muncul setiap seminggu sekali untuk pengisian akomodasi, Saat pemunculan ke permukaan , para penumpang PARI PESIAR diberi kesempatan untuk traveling, shoping, dan menikmati hiburan di kota-kota pelabuhan di seantero dunia, sepanjang PARI PESIAR ini menyelam, berlabuh, muncul, dan tenggelam Dengan terobosan baru ini diharapkan bahwa penyediaan papan bagi warga dapat terpenuhi. Ini adalah peluncuran pertama, uji coba lapangan yang mengundang para pelancong tingkat dunia untuk menikmatinya pertama kali. *** Mari bergabunglah bersama pencinta desa air yang lain! Di Pari Pesiar. Status Penumpang : Profesional. *** Marko mengirimkan undangan itu berupa video surel pada Magenta. Di seberang sana, Magenta langsung membaca undangan itu. Belum selesai Magenta menonton undangan , wajah Marko telah terpampang di monitor komputernya. "UPS. ” Magenta tak dapat menahan keterkejutannya mendapati wajah atasannya. Magenta mengembangkan senyum. “Tentang Undangan Pari Pesiar, ya Bos? itu untuk saya. Betul kan?” Magenta mengambil undangan itu, mencoba mengalihkan pembicaraan yang bisa memanas. Magenta membaca brosur itu sejenak. Wajahnya berubah memancarkan kegairahan. “Oh… terima kasih… terima kasih ” suara Magenta terdengar kurang sabar. Di seberangnya Marko tersenyum. Ia hanya mengangkat alisnya. Magenta sangat tahu arti bahasa tubuh Marko. “Di sana? Dengan sejumlah rupiah nilai inflasi 10 tahun lagi? Untuk seminggu? Cuti dan dibayar?” Magenta tak percaya dengan hitungan kasar Marko. Senyumnya melebar. “Kau kira aku seorang dermawan kaya raya dan senang bersedekah pada seorang gadis yang gemar menghamburkan uangnya dengan sesuatu tak berguna? Jangan lupa syaratnya. kau tetap meliput di sana. Semua yang ada di sana bisa dijadikan berita. Konon para pesohor telah memesannya setahun yang lalu. Termasuk Jatnika designer jenius itu! Aku pastikan ini adalah tugas terasyikmu.” Marko menahan senyumnya. Beberapa Rupiah, konversi nilai inflasi 10 tahun. Tapi undangan itu sangat menggiurkan. Discount 50 % untuk setiap pewarta yang diundang. “Ah ya tentu saja!“ Magenta langsung merengut, senyumnya hilang seketika. “Tapi yang ini pasti menarik untuk kau liput. Kau ingat kasus tertutup tentang uji coba ikan iklan Coca nomor. 1 sp?“ “Ya.Tentu saja!“ suara Magenta bergelombang tak tentu. “Sangat besar kemungkinannya kau menemukannya disana.“ “Ah!“ wajah Magenta berhenti bermain mimik. Adegan nyata yang selalu menghantui tidurnya kala ia tertekan. Mimpi itu telah merusak jam istirahatnya secara radikal. “Informan kita mengatakan kalau di sana ada program safari terlarang, di daerah terlarang. Akan menarik dan menantang.“ Marko mulai membuka diskusinya. “Ikan monster...? tidak... tidak...“ “Selama ini tayangan iklan terbatas itu hanya bisa dinikmati oleh kalangan terbatas, di tempat terbatas pula. Kini kau bisa menyaksikannya sendiri.“ kata Marko penuh harap. “Ah!“ kenangan yang membuat Magenta tergantung dengan obat anti depresan lima tahun ini. Magenta menggeleng tegas. “Nikmati iklan itu sampai bosan!“ “Tidak!“ gelengan kepala Magenta semakin cepat. “Ya! Kau ingat! Terapi terbaik buat mimpi burukmu adalah bertemu dengan mimpi burukmu di dunia nyata!“ “Gila! Bagaimana aku bisa? Tak mungkin! aku tak bisa.“ Mata Magenta mulai menatap linglung. “Kau mau mimpi burukmu tamat? Lihat lagi mereka secara nyata! Maka dilusimu tentang segalanya akan berakhir.“ “Tidak.“ Magenta tetap geleng-geleng. “Percayalah! Berapa kali terapismu bilang ini padamu, dan padaku?“ “Tidak.“ Magenta tetap menggeleng. “Atau aku memecatmu dengan alasan‚ kesehatan mental dan jiwa yang dapat mengganggu profesionalisme.“ Marko tahu, bahwa ancaman ini adalah senjata pamungkasnya. Pekerjaan jurnalis adalah hal yang mendarah daging di keluarga Magenta. Seolah, ada keterkaian erat antara jiwa jurnalis dengan DNA mereka yang lestari beberapa generasi. Ayahnya seorang jurnalis tulen. Begitu juga kakeknya, pamannya, buyutnya. Kau dapat melihatnya seperti pohon silsilah yang menerangkan begitu banyak jurnalis di dalam keluarganya. Profesi yang berhasil mengawinkan kebencian dan kecintaan secara nyata. Profesi yang membuat pelakunya menikmati setiap denyut pancaran adrenalinnya. “Tidak! Jangan!“ jelas Magenta tak ingin kehilangan denyut keluarganya. “Kalau begitu berkemaslah!“ perintah Marko tegas. Pari Pesiar, aku datang menantang mimpi burukku lima tahun ini! ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN