Enam belas

1004 Kata

Kiara: >>>>> Pagi ini rutinitas berjalan seperti biasa. Delisha masih tidur saat aku dan Dastan berangkat kerja. Pintu apartemen akan otomatis terkunci dari dalam saat pintu tertutup dari luar. Jadi aku tidak perlu khawatir meninggalkan apartemen dalam keadaan Delisha masih tidur. "Jam tangan kamu mana?" tanyaku pada Dastan, saat mobil sudah mulai berjibaku dengan kendaraan lain. Padahal aku sudah berusaha sepagi mungkin berangkat dari apartemen, tapi masih saja ketemu macet. Jakarta oh Jakarta. Kangen Jember, kangen berangkat lima belas menit sebelum jam masuk kantor, kangen Mama, kangen Andra, kangen Nadine. Aku hanya bisa mendesah pelan menahan rasa rinduku ini. "Ini..., Kenapa Kia?" Dastan memperlihatkan pergelangan tangannya, sebuah jam tangan dengan tali kulit

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN