Late Night Sisterhood

1723 Kata

Malam itu, kamar Loli dipenuhi aroma lavender dari lilin kecil di meja. Mood board setengah jadi menempel di dinding potongan majalah mode, swatch kain, coretan spidol warna neon. Sketchbook terbuka di lantai, pensil warna berserakan seperti habis perang. Tapi Loli? Dia cuma terduduk di bean bag, memeluk bantal print bergambar Vogue cover, lalu menutup wajahnya dengan majalah fashion, seolah ingin menghalau kenyataan. ‘Huft…! Loli, kenapa semuanya malah makin ribet,’ keluhnya dalam hati, pelan tapi penuh tekanan. Ketukan lembut di pintu membuyarkan lamunannya. “Masuk aja!” serunya, buru-buru menyibakkan majalah fashion yang menutupi mukanya. Hazel melangkah masuk dengan piyama satin biru muda, rambut dicepol asal tapi tetap kelihatan classy. Kakaknya itu langsung duduk di ujung ranjan

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN