Tia akhirnya duduk di meja Cedric, membawa secangkir teh hangat untuk dirinya sendiri. Tatapannya, yang sejak tadi tak bisa diam, kini terus tertuju pada Ivan. Setelah beberapa detik menimbang, bibirnya akhirnya bergerak, disertai senyum kecil yang khas. “Eh… kok Tuan bisa bareng sama Mas ganteng ini? Mas ini siapanya Tuan, ya?” tanyanya dengan nada ingin tahu, tapi tetap sopan. Cedric sempat tersenyum tipis. Ia tahu benar, rasa ingin tahu Tia memang tak pernah bisa diam lama. “Kenalkan, ini Ivan Halim,” jawabnya tenang. “Menantu saya. Suaminya Nona kecil.” Seketika kedua mata Tia membulat lebar, sementara bibirnya terbuka membentuk huruf ‘O’. “Ja–jadi… Neng yang kemarin itu istrinya Mas ini?” suaranya bergetar, separuh tak percaya. “Itu Nona kecil maksud Tuan?” Ivan mengangguk pelan

