Plak! Satu tamparan keras mendarat di pipi kiri Santi. Tubuh wanita paruh baya itu langsung oleng, terhempas ke atas kasur empuk kamar hotel. Rambutnya yang berantakan menutupi sebagian wajah, matanya melebar penuh amarah sekaligus tidak percaya. Dengan napas tersengal, ia menatap nyalang pada sosok suaminya. “Kamu nampar aku, Mas? Gara-gara si Loli sialan itu?” suaranya pecah, nyaring, hampir histeris. “Dia ngasih kalian makan apa sih sampai kalian semua buta, belain dia mati-matian, hah?” Untung saja, dinding hotel itu dilapisi sistem peredam suara. Kalau tidak, mungkin seluruh lantai sudah mendengar. Tuan Halim berdiri tegak, dadanya naik turun, rahangnya mengeras menahan amarah. “Kamu memang layak dapat tamparan itu, Santi. Hari ini saja kamu sudah mempermalukan saya di depan Madam

