Apartemen 7ème arrondissement sore itu berantakan total, kayak baru habis badai kecil. Sinar jingga senja menembus tirai, menari di lantai marmer, memantul di sandal, handuk, dan botol parfum yang berserakan. Loli menatap jam dinding, mata membulat. “Ya ampun… mbak Hazel pasti udah nunggu di salon. Gue harus gerak cepet!” Ia melesat ke kamar mandi, rambut masih acak-acakan, langkahnya hampir terpental di lantai licin. Beberapa menit kemudian, Loli keluar lagi dari kamar mandi, mengenakan bathrobe yang melilit tubuhnya, rambut setengah rapi tapi masih sedikit berantakan, buru-buru menyeret koper yang isinya belum sempat masuk ke wardrobe. “Ini semua gara-gara tuan Ivan deh, ngeyel pake banget!” gumamnya, matanya menyapu kekacauan di kamar yang terlihat seperti tornado baru saja lewat. H

