Sudah tiga hari Fahri kembali ke rumah, ia dan Khodijah lebih sering bertikai setiap waktu. Bahkan saat berhubungan suami istri, Khodijah hanya diam layaknya patung. Ia hanya menjalankan kewajiban sebagai istri, karena menolak berhubungan intim dengan suami itu dosa, kecuali bila suami meminta disaat sedang haid dan nifas. Sedangkan saat ini, Khodijah tidak sedang keduanya.
Bayang-bayang Fahri dan wanita itu bergentayangan di kepala Khodijah, saat Fahri sedang mencumbu dirinya. Rasa jijik, muak dan juga marah berkecamuk jadi satu.
Fahri menyadari perubahan sikap Khodijah, namun ia berpikir bahwa itu hanya sementara saja. Ia yakin Khodijah mencintainya dengan segenap hati, ini hanya soal waktu. Lambat laun dia bisa menerima kehadiran Jennifer sebagai madunya.
Menurut pemikiran Fahri, Khodijah tidak mungkin mempunyai keberanian untuk menggugat cerai. Dia penuh percaya diri, bahwa apa yang diucapkan Khodijah hanya gertak sambal saja.
Dua hari ini Fahri menyaksikan istrinya berjualan di depan rumah mereka. Ia tidak mau berada di luar untuk membantu. Bagi Fahri, apa yang dilakukan Khodijah sangat memalukan.
Fahri kesal, apa yang dilakukan Khodijah bisa membuat citranya jelek di mata orang. Fahri menjadi orang yang sombong, ia merasa sekarang menjadi orang kaya.
Teman-teman satu tongkrongan selama beberapa tahun ini pun ia hindari, karena merasa sudah tidak selevel lagi dengannya. Semenjak menikah dan hidup seatap sebagai suami Jennifer, Fahri menjadi angkuh, riya' dan juga sombong.
Khodijah sejak pukul tujuh pagi sudah mulai berjualan, banyak warga sekitar yang membeli untuk sarapan atau bekal. ada juga pengendara mobil pribadi yang menepi untuk membeli nasi kebuli dan samosa.
Hari ini Sabrina tidak datang menemani sahabatnya, ia malas melihat Fahri. Sebagai sahabat, ia hanya bisa mendoakan dan mensupport Khodijah. Sabrina menghormati apa yang menjadi keputusan Khodijah yang mau mencoba bertahan demi Yusuf.
"Mbak Dijah, nasi kebulinya enak loh. Anak anak dan suami saya suka," ujar pembeli yang bernama Asih.
"Alhamdulillah kalau Bu Asih dan keluarga suka. Saya sebenarnya gak pede, takut ada yang komplain gak enak. Tapi Alhamdulillah semua respon pembeli bagus," sahut Khodijah.
"Ah bisa saja Mbak Dijah. Enak kok Mbak, sumpah. Ngomong-ngomong, Mas Fahri sekarang sukses ya, mobilnya bagus."
"Itu mobil kantor Bu, bukan punya pribadi." Khodijah tersenyum getir. Seandainya ibu itu tahu soal rumah tangga Khodijah, sudah pasti ia akan berghibah dengan para tetangga.
Ibu asih terkenal tukang ghibah. Beberapa hari ini saja, ia ghibah dengan tetangga sekitar, soal Fahri yang mendadak punya mobil mewah.
"Ini Bu," ucap Khodijah, ia menyerahkan kantung plastik bening berisi nasi kebuli kepada ibu tersebut.
"Berapa semua, Mbak? "
"40 ribu, Bu."
"Ini uangnya. Eh, Mbak Dijah tahu tidak, suami Mbak Riska menikah lagi dengan janda anak dua."
"Astaghfirullah, saya tidak tahu Bu. Oh, iya, ini Bu kembaliannya."
"Iya loh, sudah empat bulan ini suaminya menikah lagi. Dua hari lalu Mbak Riska melabrak madunya. Heboh Mbak, ada di Instagram."
"Oh ... biarlah itu urusan rumah tangga mereka. Kita doakan saja yang terbaik."
"Tapi kasihan. Suaminya beda sekali dengan Mas Fahri. Kalau Mas Fahri kan Soleh, alim dan sayang keluarga. Mbak Dijah beruntung mendapat suami seperti dia."
"Iya, Alhamdulillah," sahutnya getir.
Ingin rasanya Khodijah berteriak. Mengatakan, "Hentikan!" Ia tidak nyaman dengan perbincangan itu. tapi mau bagaimana lagi, sebagai wanita yang lebih muda, ia harus menghormati ibu tersebut.
Khodijah bisa bernapas lega setelah Ibu Asih pergi. Ia kembali fokus melayani pembeli yang datang dan pergi silih berganti. Karena Fahri berada di rumah, ia mengurangi porsi jualan, sehingga pukul dua belas siang nasi kebuli dan samosa sudah habis terjual.
Ada beberapa calon pembeli yang kecewa karena tidak kebagian. Khodijah meminta maaf, ia berjanji besok akan berjualan lebih banyak dari hari ini.
Fahri sama sekali tidak mau membantu istrinya, meski hanya sekedar membawakan perkakas kotor ke dapur. Ia lebih memilih berbaring sembari bermain smartphone canggih yang baru saja dibelikan Jennifer seharga 17 juta rupiah.
Anak mereka, Yusuf. Sedari pagi ikut bundanya jualan. Anak itu penuh pengertian. Yusuf anteng di kereta dorong. Hanya sesekali ia merengek karena lapar atau mengantuk.
Usai membersihkan semua perkakas yang kotor, Khodijah mandi lalu menunaikan sholat dhuhur. Ia menegur Fahri yang masih asik bermain gawai, meski suara adzan sudah selesai berkumandang.
"Mas, kamu tidak berjamaah di masjid?" tanya Khodijah.
"Di rumah saja. Kan sama saja, sholat juga toh." Fahri menyahuti pertanyaan istrinya tanpa menoleh, matanya asik memandangi layar gawai canggih itu.
"Beda Mas. Di rumah pahalanya satu, sedangkan berjamaah dua tujuh. Masa iya, kamu lupa?"
"Ck ..."
Khodijah menggelar sajadah lalu menunaikan sholat sunah dan wajib. Selepas sholat, ia mendengar suara ketukan di pintu. Khodijah menoleh ke Fahri yang sepertinya tidak mendengar suara itu.
"Mas, sepertinya ada tamu. Tolong lihat ke depan," pinta Khodijah.
"Ck ...malas. Kamu saja yang lihat. Paling juga ibu ibu pengajian." jawab Fahri tanpa menoleh.
Khodijah bangkit. Ia segera keluar untuk melihat siapa yang datang, karena tamu tersebut tidak berhenti mengetuk.
"Iya sebentar," sahut Khodijah sambil berjalan menuju pintu tersebut.
Sesampainya di depan pintu, ia mengintip terlebih dulu dari kaca, namun tidak begitu terlihat. Khodijah membuka pintu itu. Terlihat ada seorang wanita sedang berdiri membelakangi.
Penampilannya seperti wanita karir. Memakai kemeja, rok di atas lutut, sepatu heels tinggi dan rambut terurai rapih.
"Assalamualaikum, cari siapa Mbak?" Tanya Khodijah.
Wanita itu berbalik, menghadap ke arah Khodijah yang berdiri di ambang pintu dengan masih memakai mukena. Ia terkejut melihat wajah wanita itu.
"Kamu. Mau apa ke rumah saya! " Bentak Khodijah, kala melihat madunya berdiri tepat di hadapannya.
"Apa kabar, Mbak Dijah."
"Mbak ...?"
"Iya, Mbak. Kamu kan istri pertama, jadi aku harus panggil kamu itu kan."
"Mau apa kamu ke rumahku?"
"Apa aku tidak diperkenankan masuk dulu? Masa iya mengobrol di pintu seperti ini. Kita kan sekarang keluarga, bukan begitu, Mbak Dijah?"
"Ayo silahkan masuk. Tapi saya tidak punya banyak waktu!"
Jennifer tersenyum simpul menanggapi sikap acuh Khodijah. Ia masuk ke dalam lalu duduk di sofa tanpa dipersilahkan.
Khodijah berdiri dengan tangan yang dilipat di dadanya. Ia menatap sinis madunya yang sedang duduk sembari melirik ke sana kemari.
"Ada apa?"
"Mas Fahri mana?"
"Mau apa mencarinya ke sini. Kamu kan bisa menelepon atau tunggu saja dia pulang. Bukankah selama delapan hari dia bersamamu!"
"Memangnya tidak boleh aku ke sini? Inikan rumah suamiku juga."
Mendengar percakapan istrinya, membuat Fahri keluar kamar. Sayup-sayup ia seperti mendengar suara Jennifer di ruang tamu.
"Sayang, kamu di sini," ucap Fahri kepada istri mudanya. Khodijah yang mendengar kalimat itu terasa disambar petir di siang bolong.
"Mas," sahut Jennifer. Ia berdiri, berjalan mendekati Fahri lalu mencium pipi kiri dan kanan.
Melihat pemandangan itu membuat hati Khodijah tersayat. Sakit, luar biasa sakit. Namun demikian, ia tetap berusaha tegar. Ia memalingkan wajah ke arah berbeda sembari berdehem.
Fahri segera menjaga jarak dengan istri barunya, ia tidak mau Khodijah sedih.
"Mas, ini rumahmu? Kecil ya, panas lagi." Jeniffer mengipasi wajahnya dengan telapak tangan.
"Beginilah rumah Mas." Fahri melirik Khodijah yang sedang berdiri di sisinya.
"Memangnya kenapa kalau rumahku kecil. Masalah buatmu!
"Dijah, kenapa harus berteriak sih. Tidak sopan. Maaf ya Sayang, Khodijah tidak bermaksud membentakmu." Fahri mengelus rambut Jennifer, membuat darah Khodijah semakin mendidih.
"Kalian berdua sengaja mempertontonkan kemesraan di depanku. Untuk apa? untuk membuatku cemburu atau bagiamana?"
"Khodijah!" Bentak Fahri.
"Apa!"
"Mas, sudah jangan ladeni dia. Ayo kita pergi."
"Hem, mau kemana
Sayang." Tanya Fahri.
"Papi dalam perjalanan menuju rumah. Beliau tiba di Soeta 30 menit lalu."
"Benarkah, jadi papi ada di Indonesia? Kalau begitu, ayo kita temui beliau. Aku ke kamar dulu, mau ganti pakaian."
"Iya, Masku sayang," ucap Jennifer manja. Ia sengaja memanasi Khodijah.
"Mas, kamu mau kemana?" Tanya Khodijah saat Fahri masuk ke kamar. Ia segera menyusul suaminya, menahan supaya tidak pergi dengan Jennifer.
"Mas. Kamu baru saja di rumah tiga hari, masa iya sudah mau pergi lagi. Bukankah kamu janji, akan bersikap adil?"
"Nanti mas kembali lagi. Sekarang mas temui papi Mbak Jen dulu," ucap Fahri sembari memakai celana jeans.
"Tidak boleh. Ini jatahku dan Yusuf bersamamu. Wanita itu harus tahu diri. Dia sudah bersamamu lebih dari seminggu!"
"Dijah, pelankan suaramu. Tidak enak didengar Mbak Jen."
"Aku tidak peduli. Aku hanya meminta hakku. Mas sudah janji akan memperlakukan kami berdua sama. Tapi, nyatanya begini!"
"Dijah. Pelankan suaramu!" Bentak Fahri.
"Kenapa. Mas takut!"
"Mas pergi dulu. Kamu jaga Yusuf di rumah."
"Mas. Jangan pergi!" Khodijah menarik ujung kaos yang dipakai Fahri, namun Fahri menepis tangan Khodijah.
Ia keluar kamar tergesa. Khodijah tidak mau ketinggalan, ia terus mengikuti langkah suaminya sembari menarik ujung kaos itu lagi.
"Jangan pergi Mas. Hei perempuan iblis. Belum puas kamu bersama Suamiku selama delapan hari kemarin. Kenapa begitu serakah!"
"Kamu mau ikut? Tapi, aku rasa kamu tidak akan suka." Ledek Jennifer.
"Kurang ajar. Dasar pelakor!" Khodijah melepas kaos Fahri lalu mendekati Jennifer. Ia menjambak rambut wanita itu, membuatnya mengaduh kesakitan.
"Khodijah lepas!" Fahri memegangi kedua tangan istri pertamanya yang sedang menjambak kuat rambut Jennifer.
"Mas Fahri tolong, ini sakit."
"Rasakan ini . Dasar jalang. Pelakor Peyot!" Teriak Khodijah sembari menjambak rambut madunya.
"Lepas Dijah. Fahri memukul lengan istrinya, membuat Khodijah terhempas ke lantai seketika.
Dengan napas memburu, Fahri menatap punggung istrinya di lantai. Tangis Khodijah pecah seketika, suami yang ia cintai lebih memilih melindungi wanita itu.
"Kenapa kamu bersikap barbar. Kemana sosok Khodijah yang kukenal lembut selama bertahun-tahun!" Teriak Fahri.
Jennifer merasakan sakit di kulit kepalanya. Helaian rambut berceceran di lantai hasil jambakan Khodijah.
"Astaghfirullah hal azim. Tega kamu Mas. Hiks ..."
"Kamu yang memulai. Harusnya semua ini tidak terjadi. Pokoknya mas pergi dulu, nanti mas kembali lagi!"
Khodijah bangkit, ia berdiri tegak sembari menyeka air matanya lalu berkata," Jangan pernah kembali Mas. Jangan!"
Fahri seolah mati rasa, ia tidak mempedulikan kalimat yang terlontar dari mulut istrinya. Ia merangkul Jennifer, keluar bersamaan dan pergi dengan mengendarai mobil CRV putih milik wanita itu.
Tidak kuat menahan rasa sakit di dadanya, tubuh langsing Khodijah ambruk di lantai. Luka akibat poligami saja masih begitu menganga, hari ini Fahri menambah luka itu menjadi semakin besar. Khodijah menangis tersedu sembari memukuli lantai, kemudian ia beristighfar memohon pertolongan Allah.
Khodijah benci Fahri. Ia tidak sanggup lagi hidup dengan suaminya. Sepertinya ia akan menyudahi saja rumah tangga ini. Cukup sudah, cukup sampai di sini saja.