Part 8. Kejutan Besar

1220 Kata
Enam bulan kemudian ... Di hari Jum'at yang cerah, rumah Khodijah kedatangan tamu. Kedua orang tua Khodijah yang berdomisili di Palembang mengunjungi rumahnya. Sebenarnya, rumah orang tua Khodijah sama sama berada di Lampung, hanya saja ayahnya selalu berpindah pindah tempat dikarenakan tuntutan pekerjaan. Ia bekerja sebagai Kapala cabang di sebuah showroom mobil milik Astra group. Sekarang, ayahnya memimpin cabang Palembang, sudah hampir 5 tahun beliau dan istri bermukim di sana. Khodijah merupakan anak kesayangan ayahnya. Apa pun yang ia minta, ayahnya akan langsung mengiyakan tapi tidak dengan keputusannya memilih Fahri. Kedua orang tua Khodijah sedang duduk santai, menikmati senja di taman berukuran 2x3 yang berada di belakang rumah Khodijah. Umi sedang menimang Yusuf, sedangkan Abi membaca Qur'an terjemahan. Khodijah berada di dapur, ia membuat pisang goreng untuk teman minum teh. Khodijah menghampiri keduanya, tangan kanannya memegang piring yang berisi pisang goreng. Khodijah duduk di sisi Abi, yang sejak tadi membaca Qur'an terjemahan. "Abi, dimakan pisang gorengnya, mumpung masih hangat," ujar Khodijah. "Hana, Fahri pulang jam berapa?" Tanya Abi. Hana adalah panggilan sayang mereka untuk anak bungsunya ini. "Biasanya jam lima sore, tapi sekarang Mas Fahri masih berada di luar kota. Ada urusan pekerjaan di kota Bandung." "Sudah berapa lama suamimu pergi?" Sahut Umi." "Hem ...sudah beberapa hari ini Um," ucap Khodijah sembari tersenyum getir. "Abi ikut senang kalau Fahri sukses dalam pekerjaannya. Itu artinya ia bertanggung jawab kepada kalian berdua. Fahri tidak pernah tinggal sholat kan? termasuk kamu Hana. Jangan tinggal sholat, walau sedang sibuk sekalipun." "Na'am Abi. Insya Allah, Hana dan Mas Fahri selalu menjalankan perintah lima waktu." "Alhamdulillah, Abi dan Umi ikut senang mendengarnya." Ketiganya berbincang tentang hal lain, membahas tentang usaha yang dirintis oleh Khodijah, tumbuh kembang Yusuf yang akan berulang tahun ke 2 Minggu depan, dan soal kakak-kakak Khodijah. Suara ketukan di pintu mengalihkan perhatikan ketiganya, Abi yang sedang berbicara mendadak berhenti saat mendengarnya. "Hana, mungkin suamimu pulang, barangkali. Coba dilihat, siapa tahu benar Fahri," ucap Abi. "Hana lihat sebentar ya, Bi." sahut Khodijah. Ia menyambar hijab instan yang ditaruh di gantungan, lalu membuka pintu rumahnya. Terlihat di kaca, ada tiga orang pria memakai pakaian kerja berada di teras rumahnya. Khodijah penasaran, siapa mereka? Ia sedikit membuka pintu yang terkunci itu lalu bertanya lebih dulu sebelum membuka lebar. "Cari siapa?" Tanyanya. "Permisi Ibu, apa benar ini kediaman Bapak Fahri Hamzah?" Tanya salah satu pegawai Bank. "Iya benar, Bapak-Bapak ini siapa ya?" "Perkenalkan saya Ridwan, manager Bank xxx, dan ini kedua staf saya. Boleh kami masuk? Ada suatu yang ingin kami jelaskan. "Boleh saya lihat tanda keanggotaannya? Maaf, karena suami saya tidak ada di rumah saya tidak mau menimbulkan fitnah." "Baik Ibu, kami mengerti." Para pegawai bank itu memperlihatkan kartu keanggotaannya, setelah Khodijah yakin mereka pun diizinkan masuk. "Silahkan duduk Pak," pinta Khodijah. "Terima kasih, Bu." Abi yang penasaran menghampiri anaknya yang sedang kedatangan tamu. " Siapa Han?" Tanya Abi. "Pegawai Bank, Abi." "Memangnya kamu punya hutang apa?" "Tidak punya, Bi." Jawab Khadijah bingung. "Bisa saya jelaskan, Bu?" Sahut Ridwan memotong pembicaraan. "Iya, silahkan Pak." Jawab Abi. "Begini, Bapak Fahri sudah tiga bulan ini menunggak. Saya dan beberapa staf, sudah berulang kali menelepon namun beliau selalu menjanjikan tanpa kepastian." "Hutang ...maksudnya apa ya? Siapa yang punya hutang?" Tanya Khodijah. Ia bingung, sekaligus terkejut mendengar perkataan pegawai bank tersebut. "Enam bulan lalu, Bapak Fahri menggadaikan sertifikat rumah ini, total pinjaman 400juta rupiah. Pak Fahri baru melaksanakan kewajibannya selama tiga bulan saja, selebihnya menunggak sampai sekarang." "Apa? bagaimana mungkin. Sertifikat rumah ini, atas nama saya. Dan suami saya tidak pernah membicarakan masalah ini. Mungkin, Bapak Bapak ini salah orang. Coba dicek, barangkali namanya saja yang sama." Khodijah mulai terlihat panik, apa benar suaminya setega ini. "Ini, kami punya data-datanya. Silahkan dilihat dan pelajari." Dengan tangan gemetar, Khodijah mengambil map berwarna merah itu. Di sana. Ada beberapa lembar kertas yang berisi tentang nominal hutang, nominal yang dibayarkan Fahri setiap bulan, bunga tunggakan dan jatuh tempo. Dadanya menjadi sesak, ia tak kuasa membacanya. Khodijah pun pingsan. Abi yang panik memanggil istrinya yang sedang berada di taman bersama Yusuf. Umi tak kalah panik, ia memanggil- manggil nama Hana. "Hana, bangun. Kamu kenapa Nak," ucap Umi. "Bi, anak kita kenapa?"tanya Umi. "Tidak tahu Dek, Hana pingsan setelah membaca isi map merah itu." Jawab Abi. "Astaghfirullah, Hana. Bawa Hana ke kamar Bi, kasihan dia." Abi membopong Khodijah, membaringkannya di kamar. Khodijah ditemani umi sedangkan Abi kembali ke ruang tamu untuk menemui pegawai bank. "Coba jelaskan kepada saya, apa yang sudah dilakukan oleh menantu saya itu." Pinta Abi. "Jadi begini, enam bulan lalu Pak Fahri meminjam uang senilai 400 juta rupiah dengan jaminan sertifikat rumah ini. Pak Fahri selama tiga bulan membayar kewajibannya tepat waktu, tapi tiga bulan berikutnya sampai saat ini beliau menunggak. Kami sudah menghubungi lewat telepon, beliau selalu janji janji saja." "Tapi, setahu saya sertifikasi rumah ini atas nama anak saya, Khodijah Al Al-Hanafiyyah. Apa bisa? bukankah harus ada tanda tangan yang bersangkutan, atau minimal surat kuasa." "Memang ada surat kuasa yang ditandatangani oleh ibu Khodijah sendiri. Kami punya buktinya Pak. Ini ada fotocopy-nya silahkan dilihat." Abi membaca dengan teliti surat kuasa yang ditandatangani oleh Khodijah. Fahri memalsukan surat kuasa itu, ia juga memalsukan tanda tangan Khodijah dibantu oleh oknum notaris. "Kurang ajar si Fahri. Awas saja." Gumam Abi. "Jadi bagaimana nih, Pak. Sesuai dengan isi kontrak, bila Pak Fahri tidak membayar kewajibannya selama tiga bulan, maka pihak bank berhak menyegel rumah ini." "Beri anak saya waktu selama seminggu. Insya Allah, kami akan membayarnya." "Baiklah kalau begitu, sesuai permintaan Bapak saya berikan waktu seminggu. Nanti kami kemari lagi seusai batas waktunya." Ketiga pegawai bank itu pamit pergi, meninggalkan kediaman Khodijah. Abi yang murka terhadap Fahri menelepon menantunya itu. Abi mencari nama Fahri di kontak telepon lalu melakukan panggilan. Tanpa menunda, Fahri langsung mengangkat telepon masuk tersebut saat melihat nama yang tertera di layar ponselnya. "Assalamualaikum, Abi. Apa kabarnya?" Fahri berkata lebih dulu, napasnya terdengar cepat seperti habis berlari. "Waalaikum salam. Kamu dimana Fahri? Abi minta kamu pulang sekarang juga ke rumah. Abi dan Umi ada di rumah kalian. Tadi, ada orang bank datang mencarimu, istrimu sampai jatuh pingsan karena kelakuan kamu!" Bentak Abi. "O-orang bank ngapain ke rumah?" "Jangan berlagak b**o kamu Fahri. Cepat pulang sekarang juga. Atau Abi minta polisi yang menjemputmu!" "I-iya Abi. Fahri dalam perjalanan pulang ke rumah kok, mungkin tiga puluh menit sampai. "Cepat pulang! Tut ...tut ...tut." Abi menyudahi panggilan tanpa permisi. Fahri tidak bisa mengelak, ia harus pulang ke rumah saat ini juga. Meninggalkan istri keduanya yang tergeletak di ranjang, usai keduanya b******a. Ia bergegas mandi dan berpakaian. Tanpa pamit, ia meninggalkan Jennifer. Wanita itu terkulai lemas, usai berhubungan badan sebanyak empat ronde. Jeniffer wanita hiperseks, ia tidak bisa hanya sekali melakukannya. Sebenarnya, Fahri selalu kewalahan meladeni nafsu Jennifer yang besar. Hanya awalnya saja ia merasa fun, karena dinilai Jennifer berbeda dengan Khodijah yang pasif. Selama di perjalanan pulang, Fahri menyiapkan jawaban jawaban yang bisa membuat ayah mertuanya percaya. Meskipun raut wajah ketakutan tidak bisa ia sembunyikan, Fahri takut menghadapi mertuanya. Mobil yang dia kemudikan, mendadak melaju sangat lambat. Isi kepalanya penuh dengan semua sanggahan dan jawaban, yang akan ia persiapkan. Otaknya mendadak beku, ketika mobil memasuki halaman rumahnya, Fahri menarik napas dalam dan menghembuskan perlahan, setelah itu ia keluar dari mobil, berdiri di depan pintu rumahnya. Sebelum mengetuk, ia kembali menarik napas dalam dan menghembuskan, barulah setelah itu ia mengetuk pintu. "Tok ...tok ...tok. Assalamualaikum."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN