Keesokan harinya, Migy telah bersiap untuk berangkat ke sekolah. Ia juga sudah sarapan dan mulai bersiap untuk mengambil kunci motornya.
Namun, tiba-tiba Bibi datang memberitahukan jika ada seseorang yang sedang menunggu Migy di depan rumah.
“Migy, di depan ada temannya yang sedang menunggu,” kata Bibi mendekati Migy di ruang tamu.
Migy mengernyit bingung.
“Siapa Bi?” tanya Migy penasaran.
“Bibi gak tahu namanya. Katanya sih, dia teman sekolah Migy,” jelas Bibi memberitahu.
Migy merasa penasaran. Ia berjalan ke depan rumah untuk melihat siapa yang sedang menunggunya. Padahal, sebelumnya tidak ada janjian dengan siapa pun untuk bertemu pagi ini.
Rupanya, sosok tinggi gagah berdiri dengan tegapnya di samping motornya. Dia adalah Kalvi, dengan memakai helm di kepala, sambil melambaikan tangan kepadanya.
“Hai, pagi,” sapa Kalvi dengan senyuman ceria.
Migy mendadak tersipu. Rasanya ia masih malu-malu jika dihampiri oleh Kalvi. Walau sudah berpacaran beberapa minggu, namun hatinya masih dilanda kegugupan yang luar biasa.
“Kalvi.. kamu kok ada di sini?” kata Migy sambil berjalan mendekati motor Kalvi.
“Iya, aku ke sini mau jemput kamu. Kita berangkat bareng aja, ya?” kata Kalvi sambil memberikan satu helm kepada Migy.
“Ya sudah. Sebentar, aku mau ambil tas dulu.”
“Oke,” kata Kalvi mengiyakan.
Sementara Migy mengambil tas ke dalam rumah, Kalvi menggunakan waktu untuk mengoleskan pengkilap motor ke tempat duduk belakang. Dalam hati, Kalvi sengaja mengerjai Migy agar berdempetan dengannya saat berkendara ke sekolah.
Migy telah siap dengan perlengkapan sekolahnya. Ia juga membawa bekal untuk makan siang.
“Ayo,” kata Migy sambil memakai helmnya.
Kalvi pun mulai menghidupkan motornya. Sepuluh menit kemudian, Migy mulai bergerak gelisah di belakang Kalvi. Sepertinya, Migy mulai tidak nyaman dengan posisinya yang mulai berdempetan dengan punggung Kalvi.
“Migy, kamu kenapa?” kata Kalvi berpura-pura tidak tahu.
“Hmm, ini… kok tempat duduknya licin sih, Kalvi? Dari tadi aku maju-maju terus,” kata Migy sambil menahan badannya ke pegangan jok belakang.
Bukannya bisa menahan badan, tapi malah membuat Migy semakin maju mendekati Kalvi.
Berbeda dengan Migy, Kalvi malah menggunakan kesempatan itu dengan menarik tangan Migy untuk memeluk pinggangnya, hingga membuat Migy membentur punggung kerasnya.
“Astaga! Kalvi, kamu sengaja ngerjain aku?” teriak Migy menahan kesal.
“Enggak. Aku hanya tidak ingin kamu gerak-gerak terus, nanti kalau jatuh, gimana?” kata Kalvi mengelak.
Migy hanya menghela napas panjang menghadapi kejahilan Kalvi yang sengaja mengerjainya. Entah apa yang ada di pikiran Kalvi, sehingga muncul ide itu untuk membuatnya jengkel menahan malu.
Bagaimana tidak, posisi Migy saat ini persis seperti adengan kejar-kejaran di jalan raya. Dengan memeluk pinggang Kalvi sambil menempelkan sebagian badannya ke punggung cowok itu. Dan yang lebih memaluakan, kecepatan motornya sangat pelan.
Melihat kondisi jalanan yang lumayan ramai, Migy hampir mengeluarkan kata-kata umpatan untuk memaki Kalvi. Bayangkan saja, saat ini orang-orang malah mengalihkan perhatian kepada mereka berdua.
Sebagian ada yang menatap mereka sinis, menganggap mereka berdua seperti pasangan remaja nakal.
Merasa tidak nyaman dengan keadaan saat ini, Migy meluncurkan rencana balasan kepada Kalvi.
Migy tiba-tiba menaikkan kedua kakinya dan melingkarkan ke pinggang Kalvi. Tubuhnya sengaja dirapatkan sedekat mungkin ke punggung Kalvi. Dan tangannya dibiarkan mengalungi leher kalvi. Seoalah-olah pose mereka saat ini seperti adengan pemotretan majalah iklan.
Banyak pasangan remaja lain yang memberikan sorakan kepada Migy dan Kalvi. Mereka seperti melihat tontonan drama gratis di pagi hari.
Sedangkan Kalvi, ia berdebar hebat merasakan hangatnya tubuh Migy yang melingkupi sebagian tubuhnya. Ia tidak mempermasalahkan gaya Migy yang sengaja menggoda dirinya. Biarkan saja orang lain berpikiran buruk kepada mereka.
Sebenarnya, Kalvi sengaja mengerjai Migy seperti itu agar Migy tidak terlalu canggung terhadapnya. Kalvi hanya menginginkan Migy menjadi dirinya sendiri, bukan menjadi pribadi yang tertutup.
Keinginan terbesar Kalvi adalah menikmati hari-hari indah bersama Migy, tanpa ada rasa canggung. Menjalani hubungan pacaran yang romantis dan mengesankan. Ingin merencanakan pertualangan bersama untuk mengisi waktu luang.
Setelah tiba di sekolah, mereka menjadi bahan tontonan heboh bagi penghuni sekolah. Kedekatan mereka saat ini baru diketahui oleh sebagian teman-teman mereka berdua.
“Wah! Pasangan apaan tuh!”
“Pagi Migy…”
“Migy sayang…”
“Cintaku…”
Migy hanya tersenyum menanggapi godaan dari para fansnya. Godaan rutin setiap pagi yang selalu diterima Migy jika tiba di gerbang sekolah.
Berbeda dengan Migy, Kalvi setengah mati menahan diri untuk menyumpal mulut segerombolan cowok-cowok yang menggoda Migy. Beruntung Kalvi bisa mengendalikan dirinya, jika tidak habis sudah nasib para fans murahan Migy untuk pagi ini.
“Migy, ayo aku antar kamu ke dalam kelas,” kata Kalvi menarik tangan Migy dengan cepat.
“Eh, gak usah Kalvi. Aku bareng sama Lia aja. Tuh, dia udah ke sini,” tunjuk Migy pada Lia sahabatnya.
Lia datang dengan tergesa-gesa mendekati Migy. Sepertinya Lia mempunyai suatu hal yang akan disampaikan kepada Migy saat ini, karena jelas terlihat dari gesturnya yang mencurigakan.
“Migy, sini. Aku punya sesuatu buat kamu,” kata Lia menarik Migy dari tangan Kalvi.
Namun, Kalvi tidak mau melepaskan tangan Migy. Ia bersikeras mempertahankan genggamannya agar Migy tidak meninggalkannya.
Lia melihat ke arah Kalvi, lalu berkata, “Kalvi, aku mau pinjam Migy sebentar. Ini penting, oke?” tegas Lia menatap Kalvi.
“Tapi untuk apa? Aku masih kangen sama Migy.”
Lia jengah mendengar ucapan Kalvi yang benar-benar bucin menurutnya. Melihat Kalvi yang tidak mau melepaskan Migy, Lia mulai mengalah.
“Oke, deh. Tapi habis ini Migy temui aku di kelas, ya?” kata Lia.
“Iya. Tapi kamu kenapa sih, Lia. Bilang aja sekarang,” ucap Migy yang terlihat penasaran.
Lia menggelengkan kepalanya. “Ini rahasia. Nanti aku ceritain sama kamu,” kata Lia sambil meninggalkan mereka berdua.
Kalvi tampak senang karena Migy mau memilih bersamanya saat ini. Namun, rasa penasaran ikut melanda Kalvi, mendengar ucapan Lia yang ingin mengatakan sesuatu hal yang bersifat rahasia dengan Migy. Tetapi, ia tidak terlalu mempermasalahkannya.
“Migy, tunggu sebentar. Aku punya sesuatu buat kamu, “ kata Kalvi menahan tangan Migy, lalu membuka tasnya.
Migy hanya diam saja. Sedangkan Kalvi mengeluarkan sebuah kotak dalam tasnya.
“Apa itu?” tanya Migy menatap kotak di tangan Kalvi.
Kalvi tersenyum, “Ini, aku kemarin pergi keluar bareng Peter. Terus aku lihat ada gelang pasangan yang unik ini.”
Migy melihat gelang itu dengan tersenyum. Sepasang gelang rantai yang telah diukir dengan nama mereka masing-masing. Di bagian tengahnya ada batu permata kecil berwarna biru.
“Kamu mau gak, kalau kita pakai gelang pasangan?” tanya Kalvi sebelum memberikan kepada Migy.
Migy mengangguk. Ia terlihat menyukai model gelang tersebut. Sangat simple, namun memiliki ukiran unik di samping namanya.
“Aku suka,” ujar Migy senang.
Melihat raut wajah Migy yang menyukai hadiah pacaran mereka, Kalvi perlahan memasangkan satu gelang ke tangan kiri Migy. Ia memilih gelang dengan ukiran namanya untuk diberikan kepada Migy.
Dan setelah itu, Kalvi memasangkan gelang dengan ukiran nama Migy untuk dipasangkan ke tangan kirinya. Kalvi sengaja membeli gelang tersebut untuk mengartikan dirinya selalu ada menemani Migy lewat gelang tersebut.
“Terima kasih, Kalvi.”
Kalvi tersenyum sambil mengacak poni Migy yang terlihat imut di matanya.
“Oke, sekarang kita ke kelas,” ajak Kalvi.
Keduanya berjalan bergandengan tangan menuju kelas Migy. Namun, dari kejauhan ada yang memperhatikan interaksi mereka berdua. Orang tersebut tampak memata-matai pergerakan Migy dan Kalvi beberapa hari terakhir ini.