cemburu

1266 Kata
Malam harinya, Migy mendapat pesan dari Kalvi. “Migy…..” “Besok kan kita libur, mau jalan bareng aku, nggak?” Migy yang membaca pesan teks itu mulai terlihat bingung. Dari awal ia telah diwanti-wanti oleh Nenek untuk menjauhi Kalvi. Namun, sekarang ia tidak mempunyai keberanian untuk memutuskan Kalvi, karena bagaimana pun mereka baru saja jadian, dan alasan untuk mengakhiri hubungan pun masih belum pasti. Mendadak Migy dilema berat. Dalam hati, ia memikirkan cara untuk mencari alasan yang tepat untuk membuat Kalvi mengerti. “Mau kemana?” balas Migy. “Kita jalan ke taman hiburan, mau nggak?” “Oke, besok kita ketemuan di rumah kamu saja.” Migy mengakhiri pesannya dan mematikan ponselnya. Sambil merebahkan badannya di ranjang, Migy kembali menimang mengenai pertemuannya besok dengan Kalvi. Karena bagaimana pun, saat ini dirinya akan selalu mendapat pengawasan dari Nathan. Apakah Nathan mau diajak kerja sama dalam menutupi pertemuannya dengan Kalvi, besok? Tiba-tiba pintu kamar Migy diketok dari luar. “Migy!” itu adalah suara Nenek. “Ya, Nenek. Sebentar,” kata Migy berjalan untuk membuka pintu. “Ada apa, Nek?” Tanya Migy setelah membuka pintu. Nenek masuk ke dalam kamar Migy, “Begini, jadi Nenek telah membeli motor baru buat kamu pergi sama Nathan,” kata Nenek sambil memberikan surat STNK. Migy melihat nomor plat motornya, dan seketika matanya nyaris membulat terkejut. “Nenek, Nenek serius membelikan Migy Moge?” kata Migy dengan suara histeris Nenek tersenyum menanggapi keterkejutan Migy. Selama ini ia tahu jika Migy menyukai kendaraan bermotor, maka dari itu ia sengaja memberikan Moge sebagai kendaraan baru untuk cucu kesayangannya. “Nenek! Terima kasih banyak,” Migy langsung memeluk Neneknya dengan erat. Rasa senang menyeruak di wajah dan perasaan Migy saat ini membuat hantinya gembira. Cita-cita untuk mempunyai Moge, akhirnya terwujud juga. Setelah ini, ia akan belajar untuk mengendarai motor barunya itu bersama Nathan. Tapi, jika dipikir-pikir, apakah Nathan bisa mengendarai motor? Karena ia baru saja bertemu dengan Nathan untuk yang pertama kalinya. “Ya sudah, sekarang Migy istirahat. Besok Nenek akan mengatakan kepada Nathan, agar terbiasa menemanimu pergi ke mana pun." “Iya, Nek.” Migy mengecup pipi Nenek dengan sayang. Hal itu membuat Nenek terkekeh geli melihat kelakuan Migy yang masih seperti anak kecil. Memang selama ini, ia berusaha memenuhui apa pun keinginan cucu kesayangannya dengan sebaik mungkin. Karena, mengingat Migy yang telah ditinggal oleh orang tuanya semenjak ia balita. “Nenek keluar dulu.” Setelah itu, Migy tidak henti-hentinya berseru gembira. Ia juga sudah tidak sabar untuk mengawali hari dengan bermotoran ria. Keesokan harinya, Migy telah sarapan bersama di ruang makan dengan Nenek dan juga Nathan. Dalam hatinya, Migy sedang kacau memikirkan alasan untuk pergi bersama Kalvi. Sambil melirik Nathan yang duduk di sampingnya, Migy mencoba memikirkan kata-kata yang akan dia ucapkan setelah ini. “Nek, hari ini Migy mau keluar, boleh?” Tanya Migy mencoba setenang mungkin. Nenek mengernyit, lalu meletakkan sendok makannya . “Ke mana?” kata Nenek. “Jadi, sebenarnya Migy mau jalan bersama teman. Tapi dia menunggu Migy di rumahnya. Boleh, ya Nek?” kata Migy dengan wajah memohon. Nenek melirik ke arah Nathan, “Nathan, hari ini kamu mau menemani Migy keluar, kan?” Tanya Nenek kepada Nathan yang baru saja selesai sarapan. Nathan mengangguk, “Baik Nek.” Migy mendengus lemah. Bagaimana caranya, ia yang akan pergi berkencan bersama Kalvi, dan akan selalu dikawal oleh Nathan? Lalu, apakah Nathan akan selalu mengekorinya ke mana pun ia dan Kalvi pergi? “Nek, boleh nggak kali ini Migy saja yang pergi? Kan nggak enak sama teman Migy,” kata Migy mencoba tersenyum. “Kan, Nenek sudah bilang. Mulai sekarang Nathan akan menjadi pengawal kamu.” Migy terpaksa mengiyakan, jika tidak, maka acara jalan-jalan dengan Kalvi tidak akan terjadi. Setelah bersiap-siap sekitar lima belas menit, Migy pun siap untuk pergi. “Nona, mari saya antar,” kata Nathan yang telah siap menaiki Moge baru Migy. Migy hampir tersandung, gara-gara melihat gaya pakaian Nathan yang benar-benar tampan. Hati Migy dilanda kegembiraan yang luar biasa. Nathan yang memakai jaket kulit hitam dan setelan celana jeans, ditambah sepatu boot yang super keren. Lelaki itu benar-benar mirip bintang iklan motor sport, sangat seksi dan…. Memikirkannya saja sudah membuat hati Migy berdebar. Jantungnya jumpalitan ketika melihat mata Nathan dari balik kaca helmnya, sangat tajam dan terkesan menggoda. “Ayo, Nona?” teriak Nathan, setelah melihat Migy yang tidak juga bergerak. “Iya, iya…” Migy berkata dengan gugup. Setelah itu ia naik ke atas motor, dan bersiap pergi. Namun sebelum pergi, Migy memberitahukan alamat tujuan yang akan mereka kunjungi. “Nathan, sekarang kita akan pergi ke rumah teman aku. Kamu ikuti arahan aku dari belakang, oke?” kata Migy sambil menepuk pundak Nathan. “Iya, baik Nona.” Setelah tiba dir umah Kalvi, Migy pun meminta Nathan untuk menunggu di luar. Ialu ia berjalan memasuki halaman rumah Kalvi, dan ternyata di sana ada tamu yang sedang berkunjung. Migy berjalan perlahan, sambil menghubungi kontak Kalvi, “Kalvi, kamu di mana? Aku udah di depan.” “Iya, sebentar. Aku ke bawah dulu.” Kemudian, seoarang wanita dewasa keluar dari rumah Kalvi. “Halo, mau cari siapa, Nak?” kata wanita cantik itu mendekati Migy. Migy mencoba tersenyum ramah, “Saya temannya Kalvi, tante,” kata Migy malu-malu. “Ayo masuk dulu, kebetulan Kalvi-nya lagi mandi.” Wanita itu mengajak Migy masuk. Di dalam rumah, Migy bertemu dengan Bibi Ina yang sedang menyajikan minuman untuk para tamu yang berada di sana. Dan Bibi Ina pun menyapa Migy. “Migy, ayo sini masuk,” kata Bibi Ina menarik tangan Migy ke sebuah kursi. “Iya, Bi.” Migy terlihat malu-malu, sambil melihat para tamu ikut menatap dirinya. Wanita yang membawa Migy masuk tadi terlihat bingung melihat kedekatan Bibi Ina dengan Migy. Lalu ia pun bertanya, “Bi, Bibi kenal dengan anak ini?” “Kenal, Nyonya. Dia ini Migy, pacarnya Kalvi,” jelas Bibi Ina. Migy tambah salah tingkah melihat raut wajah orang-orang di sana semakin terkejut dengan ucapan Bibi Ina. Apa lagi, situasinya Migy tidak bersama dengan Kalvi. “Bu,” kata Kalvi yang tiba-tiba turun dari kamarnya, dan mengecup pipi wanita itu sekilas. “Kalvi… kamu benaran sudah punya pacar?” Tanya wanita itu kepada Kalvi. Kalvi tersenyum, sambil berjalan mendekati kursi Migy dan duduk di sebelahnya. “Iya Bu. Ini pacar Kalvi, namanya Migy. Dan Migy, itu Ibu aku. Salim dulu sana,” kata Kalvi memperkenalkan. Migy pun berdiri, dan berjabat tangan pada Ibu Kalvi. “Maaf tante, Migy nggak tahu jika tante Ibunya Kalvi,” kata Migy dengan senyum ramah. “Iya, Nak. Tente juga tidak menyangka Kalvi akan membawa teman perempuan ke rumah ini,” jelas Ibu Kalvi terkekeh senang. Sementara Kalvi, ia berkata dalam hati “Kata siapa aku nggak pernah bawa cewek ke rumah? Udah sering kali, Bu,” “Oh, iya Bu. Aku sama Migy mau keluar dulu. Kami mau pergi jalan sebentar,” kata Kalvi meminta izin. “Iya. Jaga Migy baik-baik. Jangan terlalu lama jalannya.” “Sip!” Kalvi mengacungkan jempol. Semetara di luar, Nathan terlihat bosan menunggu Migy sambil bersandar pada motor. Dan seketika ia mengernyit melihat kedatangan Migy dan Kalvi bergandengan tangan. “Nona, dia siapa?” Tanya Nathan menunjuk pada Kalvi. Nah, ini lah yang membuat Migy kehilangan kata-kata. Hal yang paling ia hindari, malah terjadi juga. Dengan berat hati, Migy mengatakan. “Nathan, dia pacar aku. Kenalin Kalvi, ini Nathan. Mulai sekarang, Nathan akan selalu mengawasiku,” kata Migy memperkenalkan. Kalvi sekilas menatap cemburu pada Nathan, karena melihat ketampanan, dan gaya Nathan yang sebagaipengawal benar-benar kalah keren dengan dirinya. Namun, ia berusaha menghilangkan prasangka buruk dari pikirannya terhadap Migy.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN