Aletha’s pov
hari ini seperti biasanya aku berangkat kekantor, tentunya aku pergi sendiri. Ali? Pria itu tadi menawarkan aku tumpangan, aku menolak. Tentu saja, karena kantor Ali dan juga kantorku berlawan arah. Aku bukan tipe wanita yang suka merepotkan pria, kalau Ali mengantarku dia bisa seja terlambat. Ya, Aletha tau Ali boss, walaupun boss bukan berarti Ali bisa terlambat.
aku kembali mengerjakan tugasku yang deadlen nya sudah mepet, aku tentunya tidak mau kena semprot lagi oleh mia, wanita itu selalu seja mencari masalah denganku. Ada sekidit cela saja ia bisa menerkamku dan mencabik-cabik bisa dibilang mia tidak punya hati nurani.
Wanita itu seperti ada kepuasan sendiri setelah mencari dan memarahi kesalahan orang lain, aku rasa dia perlu ke psikiater.
Lupakan mia, sekarang kembali pada pekerjaanku. Sebenarnya pekerjaanku kalau dilihat sangat lah mudah dan gampang tapi setelah melakukan pekerjaan itu sendiri kau akan mengatakannya dengan berteriak kencang ‘ SUSAH SEKALI’. Lebay, katakan lah begitu, karena aku memang lebay.
Aku mamatikan laptopku ketika jam makan siang telah tiba,
“sar, makan siang bersama?” tawarku pada sari pegawai baru yang jadi sasaran empuk mia sekarang karena kesalahan-kesalahan kecil yang dilakukan oleh sari.
“boleh kak?”
“hm”
Heran sekali aku, kenapa dia bertanya boleh’ memang nya makan siang dilarang dikantor ini. kalau iya kenapa aku tidak tau.
Aku dan sari makan siang direstoran dekat kantor, sengaja makan didekat kantor karena aku ingin menikmati makan siangku agak lama.
“berapa umurmu?” aku senagja bertanya karena makan siang yang garing seperti ini sangat membosankan.
“22 kak, kakak?”
“aku 24, asalmu?”
“aku jakarta asli, kakak?”
“indonesia”
Aku dapat melihat jelas sari menatapku tidak percaya, aku tidak peduli lebih baik garing daripada bolak-balik saling bertanya dan menjawab.
Aku menatap jalanan yang dipenuhi oleh mobil-mobil, jalanan macet itu salah satu yang paling ku benci didunia selain hujan, aku membenci hujan. Banyak cerita menyakitkan didalam hujan dan itu membuat ku semakin membenci hujan.
Drt...drtt..
Aku mengambil ponsel dari tas kecilku, Day. Kapan pria itu berhenti mengganggu makan siangku yang indah.
“kenapa?”
“kau dimana, kenapa tidak keruanganku?”
“aku makan siang sekarang, aku sedang malas bertemu denganmu, bye”
Aku memutuskan panggilan begitu saja, aku tau pasti pria itu ingin curhat padanya karena patah hati,
“siapa kak?”
“bukan siapa-siapa, sudah selesai?”
“iya kak”
“bagus, ayo kembali kekantor sebentar lagi jam kerja”
Setelah selesai membayar aku kembali dengan pekerjaan yang melelahkan, jika bukan karena aku sangat butuh uang tidak mungkin aku ingin bekerja. Enak, aku tinggal dirumah dan menonton drama korea.
“kau, dipanggil pak Day” ujar mia membuat ku mendongakan kepala.
“oke”
Aku menghela nafas, pria itu kenapa dia. Dengan malas aku datang keruangan Day, pria menyebalkan itu.
“kenapa lagi?” tanya ku malas
“mama membawakan bekal untukmu, aku belum selesai berbicara kenapa kau mematikan ponselmu,” ujarnya kesal
“terima kasih, aku pikir kau sedang ingin curhat. Aku lagi malas mendengar rengekanmu itu.”
“setidaknya dengarkan dulu aku”
“baik-baiklah, lain kali oke. Terima kasih bekalnya”
“awas saja kalau masih, sama-sama”
$$
Aletha pulang kerja pukul 17.00, ia segera mematikan komputernya lalu menyiapkan peralatan pulangnya.
Diluar hujan, membuat Aletha menghela nafas kasar, Aletha sangat-sangat membenci hujan. Sembari menunggu hujan Aletha tidak sengaja melihat kucing disebelahnya. Aletha merilik kekanan kekiri bagaimana kucing bisa sampai disini? Aletha mengeluarkan snaknya dari dalam tasnya dan memberikannya pada kucing.
“bagus, makan yang banyak ya” ujar Aletha tanpa sadar mengelus sayang buku halus si kucing.
Aletha bangun dari duduknya karena hujan tak kunjung berhenti, hari ini sepertinya ia tidak bisa naik bus. Dengan amat terpaksa Aletha memesan taksi online, mau bagaimana lagi dari pada ia aterjebak dan menunggu sampai malam dikantor, lebih baik dia pulang dengan taksi.
Aletha mengumpat kesal karena setelah ia sampai di apartemenya, hujan berhenti. Yang benar saja, komenter Aletha.
Aletha mengambil pakaiannya dari kamar Ali, Aletha mengambil lebih banyak karena ia sangat malas memindahkan baju-bajunya kekamarnya.
Setelah mandi Aletha pergi kedapur, perutnya sudah meronta-ronta minta diisi. Karena sekarang ia sedang malas jadilah Aletha memasak mie instan. Selain rasanya yang enak membuat mie instan juga tidak memerlukan waktu yang lama.
Aletha menatap mie instannya dengan penuh minat, bagaimana bisa seseorang membuat mie instan jadi seenak ini. dengan perlahan Aletha memakan mie nya.
“boleh cicip, sepertinya enak” ujar Ali membuat Aletha tersedak mie karena terkejut.
Ali dengan gerakan cepat memberikan minum pada Aletha.
“terima kasih, kau mengagetkan saja”ujar Aletha setelah tidak lagi tersedak.
“maaf, boleh cicip”
“kau makan saja, aku sudah tidak selera lagi”jawab Aletha kerena perutnya sekarang benar-benar tidak enak,
“kau marah?”
“tidak, entah kenapa perutku tidak bisa berkompromi sekarang”
Ali mengangguk lalu melahap mie instan hingga kandas,
“terima kasih”
“hm, mau aku siapkan air hangat?” tawar Aletha membuat Ali menggelengkan kepalanya.
“baiklah, kalau begitu aku tidur duluan. Besok aku akan pergi ke bogor selama dua hari”
“oke”
Ali tidak bertanya kenapa Aletha kebogor selama dua hari, karena memang bukan urusannya. Setidaknya selama dua hari ia tidak harus bersandiwara lagi, hitung-hitung ia istirahat dari sandirwaranya selama dua hari. Itu bagus.
Sesampainya dikamar, Aletha tidak langsung tidur melainkan menonton televisi. Drama korea? No, Aletha sedang menonton amerika award, karena ada grup kpop yang ia sukai datang keacara itu.
Aletha hampir berteriak kencang karena idolnya mendapatkan penghargaan, matanya berbinar. Saat akan mematikan televisi, ada pengumuman artis populer ‘clara matthew’ Aletha menganggukan kepalanya. Ia tidak mengenal clara tapi Aletha tau kalau clara adalah artis populer dari indonesia, wajar saja kalau dia mendapatkan penghargaan bergensi itu.
Drtt..drtt
Aletha memutar bola matanya dengan malas, karena ditelpon oleh Day.
“hm”
“kau sudah menyiapkan untuk besok”
“sudah”
“baguslah, aku tidak mau ada yang kelupaan apalagi ketinggalan”
“hm”
“selamat malam”
“hm”
Aletha meletakan ponselnya lalu masuk kekamar mandi, ia mencuci kaki dan tangannya lalu menggosok gigi dan mencuci wajah. Walau pun wajahnya tidak secantik clara si artis populer itu bahkan tidak secantik Cia saudarinya setidaknya Aletha tetap menjaga kebersihkan wajahnya.
Setelah mengelap wajah nya dengan handuk Aletha langsung tidur, karena ia sangat butuh tidur sekarang.
Tbc