Ali dan Aletha semakin dekat saja, sekarang mereka sedang menonton bioskop bersama katakan lah sekarang mereka kencan, atau apalah yang pasti mereka jalan bersama.
“filmnya membosan kan sekali” komentar Aletha membuat Ali menganggukan kepala, setuju dengan Aletha.
“lain kali jangan ajak aku menonton lagi, tapi kalau nonton kdrama jangan lupa ajak aku hehe” ujar Aletha membuat Ali mengacak gemas rambut Aletha.
“hei, rambutku kusut” ujar Aletha merapikan poninya.
“mau makan apa?” tanya Ali membuat Aletha berpikir detik kemudian Aletha menggelengkan kepalanya.
“bagaimana makan dirumah aku yang memasak”
“not bad” jawab Ali membuat Aletha tersenyum senang.
“sekarang ayo kita belanja”
“oke”
Ali dan Aletha masuk kepusat pembelanjaan, Ali mendorong keranjang sementara Aletha memilah bahan masakan yang akan ia masak nanti.
“Letha, lihat ini” ujar Ali menunjuk diskon 10%, mata Aletha langsung membelak dan mengambil minyak sayur yang diskon.
“kalau kau melihat yang seperti ini langsung masukan saja kedalam keranjang”
“oke”
Setelah berbelanja mereka langsung pulang keapartemen.
“kau mandi saja dulu, masalah memasak biar aku yang urus” ujar Aletha membuat Ali mengangkat jempolnya.
“aku serahkan padamu, aku percaya kau”
“terima kasih” jawab Aletha seperti merasa tersanjung.
Sementara Ali mandi Aletha memasak dengan sepenuh hati.
“sudah selesai masak nya?” tanya Ali mengagetkan Aletha,
“sebentar lagi, mau kopi?”
“kau masak saja, biar aku buat sendiri”
Ali membuat kopi sambil menatap Aletha, ada perasaan hangat dihatinya. Saking fokusnya Ali menatap Aletha, Ali tidak sadar kalau air panas digelasnya sudah penuh.
Prang..
“au, panas. Panas” Ali berteriak kencang sambil menjauh dari pecahan gelas, ia memegangi tangannya yang tidak sengaja terkena air panas. Aletha yang melihat itu langsung berlari kearah Ali.
“mangkanya hati-hati, beginikan jadinya” ujar Aletha sambil meniup tangan Ali.
“kau tunggu sebentar, aku ambil saleb”
Ali menganggukan kepala lalu duduk dikursi makan.
Tak lama kemudian Aletha datang dengan saleb ditangannya,
“kemarikan tanganmu” karena Ali lama, Aletha dengan gemas mengambil tangan Ali dan mengolesi saleb ketangan Ali yang terkena air panas.
“kalau dibiarkan, melupuhnya akan bertambah parah” ujar Aletha lembut membuat tanpa sadar Ali tersenyum.
Setelah mengoleskan saleb Aletha membersihkan pecahan gelas dilantai,
“jangan!” teriak Ali membuat Aletha bingung
“kenapa?”
“biar kan saja, nanti ada yang membersihkannya”
Aletha memutar bola matanya,
“biar aku saja” Ali tidak bisa berkata-kata, ia hanya menatap Aletha yang membersihkan pecahan gelasnya.
Aletha membuang pecahan kaca ditempat sampah, lalu mencuci tangannya dan melanjutkan masakannya yang hampir selesai.
Aletha meletakan masakan diatas meja makan,
“sudah boleh makan?”
Aletha menggelengkan kepalanya,
“tidak boleh” katanya membuat Ali menatap horor Aletha.
“bercanda, makan lah”
“terima kasih atas masakannya”
“wah, masakanmu sangat enak”
“aku tau itu”
“sombong sekali, tapi aku maafkan karena memang masakanmu lezat”
Aletha tersenyum lalu menggeleng-gelengkan kepalanya,
“besok kuantar kekantor ya”
“tidak al, kantorku dan kantormu berlawanan arah” tolak Aletha.
“aku tidak masalah datang terlambat”
“tidak”
“ayolah, sekali saja”
“baiklah”
“begitu kan lebih baik, ah iya besok bisa tolong pilihkan aku setelan kerja”
“hah?’’
“besok aku ada pertemuan penting, tapi aku tidak tau setelan apa yang akan aku pakai”
“baiklah”
“sekali lagi terima kasih”
“sekali lagi sama-sama”
“hahahaaa”
$$$
Ali selalu menepati janjinya, apa yang ia katakan pasti akan ia lakukan.
“terima kasih atas tumpangannya” ujar Aletha membuat Ali menganggukan kepalanya.
“pulang jam berapa?” tanya Ali membuat Aletha berpikir sebentar,
“jam 5”
“oke, tunggu aku nanti aku jemput”
“boleh menolak?”
Ali menggelengkan kepalanya membuat Aletha tersenyum.
“jam 5, lewat dari itu aku pulang duluan”
“sip, aku berangkat”
“hati-hati”
Setelah mobil Ali minghilang barulah Aletha masuk kedalam kantor.
“Siapa?” tanya mia menyamai langkah Aletha.
“teman”
“oh,”
Aletha salut dengan mia, baru saja patah hati tapi menjalankan seperti tidak ada apa-apa. Aletha akui mia adalah wanita yang perpesonal, bisa memisahkan anatara pekerjaan dan patah hati.
Sedangkan dikantor, Ali merasa bangga karena setelan jas yang dipilihkan oleh Aletha tidak buruk. Ali memasang wajah dinginya ketika memasuki gedung kantornya, karena begini lah imeg seorang Ali dingin dan kejam jika berurusan dengan pekerjaan dan bisnis.
-
“Aletha, dipanggil pak Day” ujar sekretaris Day mendatangi Aletha
“sebentar lagi aku kesana” jawab Aletha mengesave filenya.
Aletha bangkit dari duduknya, mia terus menatapnya hingga Aletha masuk kedalam kantor Day.
Mia tau alasan day selalu menyuruh Aletha datang kekantor pria itu, bukan untuk memarahi Aletha atau apa tapi untuk berbagi makan siang. Dan mia juga baru menyadari itu sekarang, setiap Aletha keluar dari ruangan day pasti Aletha tidak makan siang lagi.kenapa? kenapa Aletha begitu kuat tidak makan siang? Dan jawabannya sudah ia temukan sekarang, mereka saudara. Menyesal sudah karena mia sudah sering marah-marah pada Aletha, kalau ia tau ia akan mengakrabkan diri dengan Aletha mereka bisa jadi teman baik dan mia akan selangkah lebih dekat dengan day. Tapi apa yang hendak dikata nasi sudah menjadi bubur, sudah waktunya mia move on dan mencari pria dambaan hati yang lain.
“kenapa memanggilku, aku banyak pekerjaan” gerutu Leth duduk didepan Day.
“sapa kakak iparmu, dia membawakan makan siang”
“hai, kau datang bersama siapa kemari?” ujar Aletha ketika sadar ada june dikantor day.
“aku diatar supir tadi, oh aku membawakan kalian bekal. Kata mama kalian makan siang bersama jadi aku membuat kan porsi besar”
“terima kasih atas makan siangnya”
“sama-sama”
“mari makan bersama” ujar Aletha membuat june menganggukan kepalanya.
Aletha memegangi perutnya yang sudah kekenyangan,
“makananmu sungguh sangat lezat, perutku rasanya mau pecah sekarang” komentar Aletha sambil mengangkat kedua jempolnya membuat june tersenyum
“dasar babi”
Aletha menatap kesal kearah day karena mengatainya babi, lalu detik kemudian ia mengabaikannya.
“berikan aku map, terima kasih june” day langsung mengambilkan map kosong lalu diberikan pada Aletha.
Sebelum pergi Aletha tersenyum kearah june, Aletha kembali kemeja kerja nya.
“apa ini?” tanya mia mengambil map kosong milik Aletha.
“map kosong?” tanya mia tidak percaya
“hm” jawab Aletha, kerena tidak ada gunanya berbohong karena mia memang sudah tau.
-
Aletha menunggu Ali, karena pria itu akan menjemputnya. Sudah tiga puluh menit Aletha menunggu namun Ali tidak juga muncul.
Aletha bimbang, antara pulang dulu atau menunggu Ali.
Aletha menghela nafas karena hujan tiba-tiba turun ketika ia memutuskan untung pulang lebih dulu.
-
Tbc