Aletha pulang kerja lebih cepat karena pekerjaannya sudah diwakilkan oleh mia, mia yang manawarkan diri jadi Aletha membiarkannya. Hitung-hitung ia bisa tidur dirumah.
Diana memerintahkan dua orang pelayan untuk mengambil tas dan juga rompi kerja Aletha, Aletha yang awalnya kaget menyerahkan tas dan juga rompinya. Aletha tidak menuju kekamarnya karena ia terlalu mager jadi lah ia tidur disofa panjang ruang tamu sambil menghidupkan televisi.
“saya akan menyiapkan air hangat untuk nyonya”
“tidak terima kasih, aku mau mandi air dingin saja” jawab Aletha tanpa membuka matanya.
“ya tuhan nyonya, hidung anda mengeluarkan darah!” pekik pelayan itu membuat Aletha dengan malas membuka matanya.
“saya akan menelpon dokter” ujar diana membuat Aletha menghentikannya.
“aku tidak apa-apa, ambilkan tisu saja”
“tapi nyonya..”
“aku hanya kecapean, tidur saja cukup”
Diana menganggukan kepalanya, tapi ia juga khawatir.
Setelah selesai membersihkan hidungnya Aletha langsung memejamkan matanya dan tidur disofa dengan televisi menyala.
-
“sudah berapa lama dia tertidur?” tanya Ali ketika pulang pukul 9 malam.
“kurang lebih 7 jam tuan,” jawab diana membuat Ali membelak tidak percaya.
“kau yakin?” tanya Ali tidak percaya.
“iya tuan, ada yang mau saya beri tahu tuan”
“katakan”
“tadi nyonya mimisan darahnya begitu banyak, nyonya Aletha tidak mau dibawa kerumah sakit”
“telpon angel, suruh dia kamari! Kalau ada apa-apa dengan Aletha bagaimana?”
“nyonya melarang tuan,”
Ali menghela nafas kasar, Ali tau sikap keras kepala itu.
“kau kembali lah beristirahat”
“saya permisi tuan”
Ali menatap Aletha tidak percaya, bagaimana wanita dihadapannya sekarang bisa tertidur selama itu. Dengan perlahan Ali mengangkat Aletha kekamar mereka.
Ali meletakan pelan-pelan Aletha keatas kasur, ia tidak mau Aletha terbangun. Saat ingin memasangkan selimut Ali mendapat cobaan berat karena dua kancing kemeja Aletha terbuka. Ali tidak bisa menahan lagi ketika melihat mulut Aletha terbuka sedikit, dan itu sangat menggoda Ali.
Ali tidur disamping Aletha dan mulai mencumbu bibir lembut Aletha, rasa bibir Aletha seperti candu bagi Ali ia bahkan tidak bisa menghentikan aksinya. Aksinya bertambah parah ketika lidahnya turun ke bra milik Aletha. Dengan pelan Ali menghisap p****g itu, Ali kehilangan kesadarannya ia menghisap membuat Aletha tanpa sadar mendesah. Ali terus mencubu p******a Aletha hingga meninggalkan jejak disana. Masa bodoh Aletha akan marah padanya, itu masalah besok. Ali terus mencumbu Aletha dari bibir hingga p******a hingga berulang-ulang.
“ah” desah Aletha membuat gerakan Ali terhenti, ia mengira Aletha bangun dari tidur nya karena aksinya. Ali menghela nafas lega dan melanjutkan aksinya.
Ali menghidap p******a Aletha seolah ia adalah bayi yang kelaparan, tangan Ali pun tidak tinggal diam. Tangannya turun menuju daerah v, jarinya membelai organ kewanitaan itu. Dan Ali semakin terbuai.
Aletha bangun dari tidurnya karena ia seperti sedang bermimpi sedang b******u dengan Ali. Ali yang sadar Aletha bangun dari tidurnya langsung membungkam bibir Aletha dan mulutnya. Aletha yang diserang secara mendadak langsung membalas cumbuan dari Ali.
Seolah mendapat kartu hijau, Ali langsung melucuti bajunya dan juga pakaian Aletha sebelum Aletha sadar sepenuhnya. Dengan pelan junior Ali masuk kedalam v****a Aletha.
Ali terhenti sebentar karena ia merasakan Aletha masih perawan,
“please...” rintih Aletha nikmat membuat dunia Ali runtuh.
“akh...ah....oh....” desah Aletha membuat Ali dengan cepat memompa kecepatannya.
“aku datang sayang..akhhh”
Ali memeluk Aletha erat dan mencium kening Aletha.
Ali memeluk erat Aletha yang tanpa busana, mengingat malam tadi itu malam yang luar biasa. Ali belum pernah bsercinta dengan perawan bahkan clara tunangnya sudah tidak perawan lagi. Bercinta dengan perawan sangat lah luar biasa, Ali bahkan tidak sadar mereka sudah berapa kali bercinta sehingga membuat Aletha kelelahan.
Ali mencium sekilas bibir Aletha karena gemas,
“em..” ujar Aletha menggeliat membuat Ali tersenyum lalu memeluk wanita itu lagi. Hari ini sepertinnya Ali tidak akan bekerja tinggal bersama Aletha sepertinya menyenangkan.
Kring..kring...
Alarm Aletha begitu berisik sehingga membuat Aletha terbangun terkejut.
“auh” rintihnya karena kepalanya terjeduk dengan kepala Ali, Ali yang mengetahui Aletha bangun langsung memejamkan matanya.
Aletha menepuk jidatnya, setelah menatap apa yang terjadi pada dirinya ternyata semalam bukan mimpi. Aletha turun dari tempat tidurnya dan mengambil selimut untuk menutupi dirinya. Ia berjalan dengan kesusahan karena arena selangkang nya sangat perih belum lagi membawa selimut tebal, berat untuk ukuran badan Aletha yang kecil.
“Aduh” keluh Aletha terjatuh karena tersandung selimut besar yang ia bawa.
Ali terkekeh lalu menghampiri Aletha.
“aaakkkhhh!” teriak Aletha menutup kedua matanya dengan tangannya karena Ali berjalan dengan santainya kearahnya tidak menggunakan apapun.
“kenapa? Sakit sekali kah?” tanya Ali bingung.
“mana pakainmu!” teriak Aletha kesal
“ada dilantai” jawab Ali jahil
“yasudah, pakai sana!”
“tidak mau”
“tidak mau?”
“hm, bukannya semalam kau sangat memuja badan ini. kenapa sekarang kau tampak malu-malu?” ujar Ali membuat Aletha bertambah malu.
“terserah saja” ujar Aletha bangkit dan berjalan menuju kamar mandi. Ali dapat melihat Aletha yang susah berjalan karena ulah bruntalnya malam tadi.
“ALI! TURUNKAN AKU!” teriak Aletha ketika dengan tiba-tiba Ali menggendongnya.
“mandi bersama” ujar Ali tersenyum evil membuat Aletha malu dan menyembunyikan wajahnya didada bidang milik Ali.
-
Aletha tidak masuk kerja karena ia gagal menyembunyikan tanda merah dileher dan dadanya. Aletha sudah menutupi menggunakan syal tapi masih kelihatan karena tanda merah itu bukan hanya satu melainkan banyak sangat banyak.
Aletha sudah meminta izin pada Day tentu saja dengan alasan ia mager pergi kekantor dan kalau ia izin sakit maka Day akan berkunjung dan Aletha tidak mau itu.
Aletha menatap horor Ali, mereka sekarang saling berhadapan dan menikmati sarapan masing-masing.
“kenapa?” tanya Ali berpura-pura tidak tau.
“aku akan membunuhmu!” ujar Aletha mengangkat pisau makannya dan itu berhasil membuat Ali terseyum.
Aletha tidak percaya ini, Ali malah tersenyum tidak bahkan sekarang pria itu sudah tertawa, sebenarnya apa yang lucu?
Sebenarnya tanda merah dileher Aletha tidak sebanyak ini tapi karena tadi sewaktu mandi mereka melanjutkan sesi olahraga mereka tanda merahnnya bertambah banyak.
“tunggu saja pembalasanku” ujar Aletha yang membuat Ali lagi-lagi terkekeh.
“memangnya apa yang akan kau lakukan?” tanya Ali membuat Aletha bertambah jengkel saja.
“masih aku pikirkan”
“aku tunggu, segera”
“aku pergi kerja, oke” pamit Ali datang pada Aletha lalu mencium kening Aletha. Aletha kaget, mulutnya bahkan sekarang sudah menganga lebar.
Ali tersenyum lalu berangkat kerja, Aletha menghela nafas ketika Ali sudah pergi. Apa semua ini sandiwara? Kalau iya maka Aletha akan membuatnya lebih dalam lagi. Tidak peduli nantinya ia akan terluka.
Tbc