Taman Bunga I

1343 Kata
Di perbukitan dan pegunungan Priangan, legenda tentang sosok anak hitam misterius masih terus bergema. Konon, di tengah-tengah sebuah taman bunga megah di bagian selatan, di mana bunga-bunga dengan kelopak berwarna-warni berdansa dalam gemulainya hembusan angin, Rika menemukan dirinya terpikat pada seorang pemuda misterius. Mata lelaki itu, dalam dan dalam seperti langit malam yang tenang, memikatnya. Ia terdorong untuk mengungkap rahasia yang terkubur di balik bunga-bunga itu, serta legenda menyeramkan yang sering diceritakan oleh orang tua. Cerita ini dimulai saat rutinitas sehari-hari yang perlahan kalut. Tininit... Tininit... Tinitit... Alarm berbunyi. "TUUK," tangan segera mematikan bunyi berisik itu. 45 menit kemudian, tepatnya pukul 8.45. Hoaammm... Haaaaaaaah... Erghhhhhhhhhhh... "Duduk sebentar, membiarkan pikiran melayang." Ngucek-ngucek mata, membersihkan belek. "Jam berapa ini?" tanya Rika pada dirinya sendiri sambil meraih jam di samping tempat tidur. WADUUUH, GAWAAAATTTTTT!!! "Udah hampir jam 9 lagi..." "Haaahh... Aku harus segera ambil handuk dan masuk ke kamar mandi..." "Bisa-bisanya aku bangun mepet begini." "Nasi... Mana nasi... Arghhh... Udahlah, ga perlu sarapan dulu, langsung berangkat saja." Rika meraih kunci motor, mengambil tas, mengenakan sepatu, dan membawa sendal. Sekarang waktunya berangkat. GASS... Akhirnya, Rika sampai juga. Untungnya, rumahnya tidak terlalu jauh, hanya sekitar 5 kilometer. "Pagi A Onyo... Pagi Teh Ima... Pagi Pak Dede... Pagi semuanya..." "Pagi A Onyo... Pagi Teh Ima... Pagi Pak Dede... Pagi semuanya..." "Pagi, neng cantik sekebun ini," sapa Onyo. "Pagi, Eteh si Aral anaknya," sambut Ima. "Awo...kwokwok..." Rika tertawa keras mendengar celetukan Teh Ima. "Pagi, Neng Rika," sapa Pak Dede. "Oh iya, kamu lihat jam sekarang, sudah lewat 15 menit." "Ciih sialan, kenapa tadi aku harus tersandung batu dan jatuh ke tanah becek, jadi harus bersih-bersih duluan. Mana bau rumput," gumamnya dalam hati. "Ehehe maaf Pak Kepala." "Pak Dede ini bagian kepala divisi tukang kebun taman luas ini, dan kabarnya dia sangat galak. Tatapan matanya tajam, lebih tajam dari garu, sinyal bom nya lebih bombastis dari bom bom car. Beliau ini bukan sembarang orang, tidak ada yang berani menyapanya walau mukanya di-makeup saat acara ulang tahun taman raya Pohaci. Auranya sudah seperti badut di film It, cuma agak gemulay karena lekuk tubuhnya seperti biduan LC. Ahahaha... ga ada aura kasihnya sama sekali, yang ada aurin aja ke sungai." "Yaudah, sebagai hukumannya, kamu bawa semua perlengkapan menanam. Ada lahan kosong yang mau ditanam bunga baru." "Yaaah banyak banget ini mah," gerutu Rika sambil mengerutkan kening. "Sudahlah. Masuk ke gudang, menyalakan lampu, mengambil semua peralatan kebun, benih, dan pupuk. Ini ga mungkin dibawa gitu aja beratnya. Mana ya gerobak biasanya ada disini??" Rika mencari keliling gudang, "Ahh.. Ketemu juga. Ayo cepat, nanti Deblon marah lagi bisa dipotong gaji." "Masukin semuanya ke gerobak, alat-alat ditaliin buat simpul gendongan. Nah gini kan enak ga ribet." Gendongan disimpan menyilang ke punggung. "Waktunya dorong gerobak, buset ngangkatnya aja butuh khodam ini mah. Kenapa ga nyuruh si Onyo aja sih, dia kan laki-laki lain selain Pak Deblon." Medan yang dilalui cukup terjal di taman raya Pohaci, yang luasnya mencapai 101 hektar. "Huh.. Nafas terengah-engah. Tiba-tiba duar... Bruk..." Sontak Rika kaget, rasanya tadi tidak ada batu atau apapun yang menghalang. "Au, sakit..." Itukan orang aneh yang sering mejeng di bunga aconite, dia bolos sekolah lagi!! Mau jadi apa dewasanya anak ini. Sebentar jadi yang ku tabrak dia, hebat juga kecil-kecil bisa nahan benturan. Eehhh.. Kok dia berkumis trapesium mana baplang lagi. Orang itu langsung menutup mulutnya memakai masker. Dia bergegas pergi begitu saja meninggalkan Rika. "Eh, dia cowo apa cewek ya?! Dari belakang kelihatannya cewe loh ini." "Heii, kamu bantuin dong jangan langsung pergi tanpa pamit, minimal minta maaf dong. Au.. Yah siku ku berdarah." Saat tadi saling tatap, matanya tertutup poni tebal. "Aduduh.. Gara-gara anak tadi iiihhhh pengen tempeleng itu muka, sial amat ya hari ini ketemu sosok dingin aneh.." Akhirnya semua beres.. Waktu berlalu tidak terasa, sandekala mulai terlihat sungguh indah ciptaanmu. Sekarang hanya tinggal menyiapkan penutupan. Tiba-tiba, saya terkejut saat sosok itu lewat di sampingku. Saya bertekad untuk tidak membiarkannya melarikan diri. Saya meraih tangannya, memegang erat, tapi dia dengan cepat melepaskan diri. Rasanya, dia pernah berguru silat di Cipokan. Entah mengapa, hawanya memancar rasa aneh dalam d**a. Gerakan ini seolah sedang menari di bawah sinar renjana. Selama 25 tahun hidup-ku, hanya sedikit yang membuat merasakan bahagia, tapi membingungkan dalam dinginnya angin malam. Ah, tidak, saya harus memeluknya agar tidak bisa kabur lagi. "Hap.. Kena kau, anak sialan," kata saya sambil memeluknya. Saat mata kami bersorot, dia tersenyum dan tertawa ngehe kepadaku, membuatku geli sekaligus ikut tertawa. "Hei, kamu siapa sebenarnya?" tanyaku pada sosok itu. Tiba-tiba, Onyo memanggil dari belakang, "Ika! Woy, Ika! Ngapain di situ? Semua sudah pada beres-beres, bentar lagi mau tutup taman ini. Jangan gara-gara kamu, saya kena pulang telat juga. Kalau mau nginep, sendiri aja, jangan ngajak orang." "Berisik bawel amat sih, bentar ini lagi nanya sama sosok pendek aneh tupai tonggos." "Ah.. Mana ga ada siapa-siapa di situ mah." "Udah cepetan itu alat-alat, kalau sampai hilang, Onyo ga ikut tanggung jawab." "Iya, bawel dengan nada tinggi. Sungguh, geram ingin ku timpuk kepalanya pake ember dalam hati." "Bentar, saat menoleh ke belakang, loh kok hilang, tadi ada di sini." "Argghhhh... Lagi-lagi, sekarang malah melarikan diri. Mana cepet, ga kerasa pergerakannya." "Dia manusia bukan sih? Udahlah, yang penting sekarang kembalikan kembali peralatan ke tempat semula." Bergegas, saya memasukkan semuanya kembali ke tempatnya, kemudian mengambil kunci di mesh kerja. Aku pun akan pulang. Di sana, Teh Ima mengajakku untuk menemaninya mencari makan malam. "Kaaa.. Ikaaa.." Suara Teh Ima memanggil. "Iyaaa, Teh, kenapaa?" "Ayo temenin cari makan." "Wah, itu sih ga bisa ditolak ya.. Ayo, Teh." Kami pun menuju ke parkiran. "Mau makan ke mana, Teh?" "Ke Pecel Lele H. Sobur aja, sambelnya mantep." "Gila, sih, itu enak banget, Teh, sambelnya di sepanjang jalan parongrong mah." [Naik motor masing-masing ke Pecel Lele H. Sobur] "Eh, tadi kata Onyo, gelagat kamu kayak orang aneh aja." "Maksudnya, Teh?" "Iya, masa ngomong sendiri. Terus, katanya kamu ngeliat anak-anak. Mana ada anak-anak jam mau tutup masih kelihatan." "Tapi, beneran tadi tuh ada. Malah aku peluk." "Ah, kamu halu kali. Orang kata Onyo ga ada siapa-siapa disana." "Enggak kok, dia manusia. Soalnya, tadi ku peluk bisa. Kalau dedemit mana mah langsung ketepas lah, ini beneran kerasa ada dagingnya, walau kurus aga berisi dikit kek fried chicken 5 ribu." "Hahaha.. Jangan-jangan itu..." "Jangan-jangan apa, Teh?" "Jangan-jangan itu si b***k Hideung, kalau bahasa Indonesia-nya anak hitam." "Anak hitam..?" "Iya, hitam, pendek, berbulu lebat." "Mana ada lebat, orang biasa kayak kulit orang aja gimana." "Udah ah.. Kita pesan aja, laper nih." "Ah, yaudah, males juga mikirinnya." "Pak, aku pecel lele komplit.." "Pak, aku juga sama.." Setelah menunggu 10 menit, akhirnya makanan datang. Karena perutku keroncongan sejak tadi pagi, cuma makan gorengan. Mana apes banget, hukumannya tidak terasa, memesan 1 porsi lagi. "Kamu emang, Aral, orangnya kayak orang kerasukan rakus amat. Biarin abis hari ini, baru makan gorengan, dapet kerjaan segunduk." "Awokwowkok.. Yang sabar aja ya. Lagian, kenapa telat coba?" "Hehe.. Biasa." "Haduh, pasti tidur lagi nih anak." Setelah makan, kami pun pulang ke rumah masing-masing. Sampai di kontrakan, buka gerbang, melaju ke garasi. Tempat biasa memarkirkan motor di pojok rumah, mengeluarkan bungkusan sendal dari jok motor, berjalan menuju ke depan pintu. Saya membuka sepatu dan menjinjingnya dengan tangan kiri. Saya mencari kunci, masuk kreeek. Lalu menyimpan sepatu di rak. "Duh, capek banget ini.." "Hari-hari sial, selalu ada ujian tak terduga, huft." Saya meletakkan tas ke gantungan dekat pintu di kamar samping, sambil menyetel musik di radio. Saya mengambil cangkir dan menuangkan teh ke dalamnya, kemudian ditemani segelas air dan alunan lagu cerita cinta Kahitna. Sambil menikmati tegukan demi tegukan, saya tersenyum menyeringai. "Arghhh.. Kenapa aku merasa aneh dengan senyumnya?" Sosok itu menanam benih rasa yang sulit diuraikan oleh kata-kata. "Hahhahahaha..." Berselang itu semakin kuat, oleh instrumen janji manis dari band Masdo. "Apa ini sebenarnya, "Masa aku suka sama anak SMP laki-laki... Ya, walaupun memang aku banyak membaca dan suka tipe cerita manga berkarakter shota. Tapi, yang ini super ngejengkelin, sumpah, kesel banget sama sifatnya. Tapi, hatiku berdebar hangat... Isi pikiran di kepala berkecamuk. Sungguh, hari ini tidak seperti biasanya. Huaaa... Mengerut kening, tangan kiri memegang dahi bertumpu layaknya badai yang datang tiba-tiba."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN