Melihat Mas Dipta Pak Ryan langsung merapat padaku, dipindahkannya kantong belanja di tangan kanannya ke tangan kiri semua. Tangan itu kemudian menggandengku. "Pak, kami duluan," pamit dua orang pria yang berada di samping Mas Dipta. Mas Dipta hanya mengangguk melihat sekilas pada keduanya. "Mas besok sudah selesai kerjaannya di sini," ucapnya kemudian. "Apa urusannya dengan Kay," jawabku malas. "Bungaku sudah kamu terima kan? Itu bunga kesukaanmu kan? Aku masih ingat." Pak Ryan menoleh kearahku, matanya menyipit. "Anda tak tau malu sekali, Saya tak mau buat keributan lagi, kecuali terpaksa. Kayana calon istri saya, jangan ganggu dia lagi, biarkan dia bahagia." Pak Ryan menggengam erat tanganku. "Aku mengenalnya lebih lama dari Anda, aku tau dia hanya mencintaiku, dan Anda, hanya

