LUKA 10

1047 Kata
"Sepertinya aku mengenal pria yang berdiri di sana, bukankah dia pacar Friska," ucap Pak Ryan, dagunya menunjuk ke arah sisi kananku. Spontan aku menoleh, dan benar itu Mas Dipta. Tenang, Kay ... tenang. Kutarik nafasku dalam dan menghembuskannya perlahan. Kenapa dia ada di sini juga? Secepat ini. Untung report sudah selesai aku kerjakan. "Iya kan?" tanya Pak Ryan lagi. Aku hanya mengangguk pelan. Tak lama berselang, panggilan masuk ke ponselku, dari Mas Dipta. Aku hanya membiarkan ponsel yang kuletakkan di sebelah laptop bergetar dan berpedar. "Kenapa tidak diangkat?" tanya Pak Ryan terlihat ingin tahu. Menghindarinya bukan jalan keluar, aku ambil ponsel yang sedari tadi bergetar itu dan kemudian menggeser tombol hijau untuk menerima panggilan dari Mas Dipta. "Sepertinya tempat kita menginap sama, Friska mengatakan kamu menginap juga di Jalan Kartika," ucap Mas Dipta langsung selepas menjawab salam. "Sama, atau memang sengaja disamakan?" tanyaku mencoba tenang. Terdengar tawa di sana. Aku sudah memperkirakan memang sebuah kesengajaan. Pak Ryan sesekali melihatku, bergantian ke arah Mas Dipta berada. Ada sesuatu di matanya, sedikit heran atau apa, aku tak tau. Hanya terlihat dari sorot matanya yang tak biasa. "Kamu sudah tau jawabannya kan? Kamu dimana sekarang. Friska bilang baru dimulai besok meetingnya, berarti hari ini free kan? Kita keluar sekalian makan siang bagaimana?" tanya Mas Dipta ringan, seolah tak pernah terjadi hal menyakitkan. Aku beranjak berjalan ke arah Mas Dipta, tak perduli tatapan heran dari Pak Ryan. Masalah ini harus segera selesai. Melihatku, Mas Dipta menutup panggilannya, senyum terkembang, senyum yang juga dia wariskan ke Prilly, lengkap dengan lesung pipinya. "Hai," sapanya kemudian. Aku hanya mengangguk pelan. "Kita keluar sekarang?" tanyanya dengan senyum yang masih menghias bibirnya. Aku menggelengkan kepala. "Di belakang Hotel saja, tak perlu jauh-jauh," jawabku kemudian. Mas Dipta mengekori aku, yang berjalan menuju pantai di sisi bagian belakang hotel. Sekejap kemudian langkahnya sudah sejajar denganku. Sebuah meja kami pilih, payung besar yang terpasang melindungi kami dari teriknya matahari siang ini. "Kamu mau pesan apa?" tanyanya. "Tak perlu, kita langsung ke inti masalah saja. Tak perlu basa-basi," ucapku dingin. "Sekarang apa yang mas inginkan?" "Kamu, kamu yang Mas inginkan, kamu dan aku kembali lagi. Kita mulai hidup baru, aku berjanji akan menebus semua kesalahanku, kita rujuk ya?" Seolah tanpa ada beban ucapan itu meluncur begitu ringan dari Mas Dipta. "Luar biasa, mudah sekali semua itu terucap, seolah Mas lupa telah menggoreskan luka di hatiku, dan seolah mas lupa ada Friska yang juga pasti akan terluka," ucapku geram. "Karena aku pernah menyakitimu, karena itulah aku ingin memperbaiki semuanya. Aku akan membahagiakan dirimu, aku tau kamu juga masih mencintaiku. Dan setelah aku tak menemukanmu dulu, aku semakin yakin kalau aku sebenarnya juga memiliki rasa yang sama." Mas Dipta menatapku dengan tatapan sendu. "Itu bukan cinta, mungkin hanya rasa bersalah saja, itupun baru mungkin. Tak perlu merasa bersalah padaku, semua baik-baik saja. Mas lanjutkan hidup mas dengan tenang. Tak perlu risau akan hidupku," ucapku sebagai bentuk sebuah penolakan. Pembicaraan sesaat terhenti, saat seorang pelayan mengantarkan pesanan. Aku hanya memesan minuman begitupun Mas Dipta. Setelah mempersilahkan pelayan dengan seragam coklat itu berpamitan. "Mungkin terlambat bagiku menyadari. Setelah kita berpisah, kulanjutkan hubunganku dengan Anggita, kami hampir menikah saat itu, tapi ternyata banyak hal yang tidak aku ketahui tentangnya, dia berbeda sekali denganmu. Anggita kasar, dan tak segan berkata kasar pada keluargaku, saat tahu hubungan kami tak mendapat restu. Terlalu banyak menuntut, dan mulai mengaturku, aku tak suka itu." Mas Dipta sejenak melepas pandangannya ke arah pantai. "Hal itu membuatku tersadar, orang tuaku memilihmu, bukanlah tanpa alasan. Mereka tau mana yang terbaik untuk anaknya. Aku kembali mencarimu, namun aku tak menemukan. Mama sangat terpukul atas keputusan saat aku menceraikanmu. Sampai sekarang rasa kecewa itu belum bisa aku sembuhkan." Mas Dipta kembali melanjutkan. Iya aku masih jelas menginggat, mama Mas Dipta memang sangat menyayangiku, keluarga kami sangatlah dekat. Aku bisa melihat luka di matanya, saat kedua orang tua itu datang dan meminta maaf atas keputusan Mas Dipta. "Mama salah satu alasan mas ingin kembali padamu, selain karena mas telah benar-benar jatuh cinta padamu." Hatiku rasanya kacau sekali. Aku masih bergeming. Melihat mata itu, dapat kulihat tatapan berbeda, benar ada cinta di sana. Karena aku juga memilikinya. "Friska, dia mirip sekali denganmu. Aku melihatmu dalam sosoknya, karena itulah aku yang telah hampir tujuh tahun menutup hatiku, mulai menerima hadirnya." Otakku tiba-tiba tak bisa kugunakan untuk berfikir. Masih terdiam tak tau mau bicara apa. Sesaat kami salung diam. "Selamat menikmamati," ucap pelayan ramah, setelah meletakkan minuman yang kami pesan di meja. "Terima kasih," sahutku, dengan memaksa senyumku. "Kay, kita akan bicara baik-baik dengan Friska, dia pasti bisa mengerti." Mas Dipta meraih tanganku, menggenggamnya, aku menariknya pelan. Semua tak semudah seperti yang dikatakannya, meskipun masih ada rasa cinta di hatiku, tapi tak sebanding dengan luka yang pernah aku dapatkan. Hingga, membuatku menerimanya kembali begitu saja. "Aku tak bisa, dan tak mau. Aku, sudah memaafkan mas, aku rasa itu sudah cukup untuk menghilangkan rasa bersalah mas padaku, pada keluargaku," tegasku pada Mas Dipta. "Dan tolong, jangan permainkan Friska, kalau mas memang tak mencintainya, tolong tinggalkan saja dia, tak perlu memberi harapan palsu padanya. Dan, pergi jauh dari hidup kami," lanjutku. Akan lebih baik, apabila Mas dipta pergi dari kehidupanku ataupun Friska. Bila dia hadir diantara hubunganku dengan Friska, baik pendampingku ataupun pendamping Friska pasti tak akan ada ketenangan di sana. "Demi cintaku dan demi mama, mas tak akan menyerah. Kamu hanya perlu waktu untuk dapat menerimaku kembali. Aku tetap akan mengakhiri hubunganku dengan Friska, dan akan menunggumu sampai kamu mengatakan iya." "Mas, jangan egois. Dan kita, kita tak akan bisa kembali bersama, aku sudah memiliki kekasih, dan aku mencintainya. Jadi tak perlu repot-repot menungguku," ucapku. Menciptakan kebohongan dengan harapan dia menjauh dariku. "Kamu berbohong, Friska memintaku mengenalkanmu dengan teman-temanku, dengan harapan kamu bisa dekat dengan seseorang." Sebuah fakta yang Friska sampaikan membuatku harus mencari alasan lain. "Aku memang belum menceritakan hal ini pada Friska," kilahku. Mas Dipta malah mengulum senyumnya, menganggap ini candaan semata mungkin pikirnya. Walau, kenyataanya memang iya. Pak Ryan, apa dia akan mau membantuku, tapi apa salahnya. Kuambil ponsel yang aku letakkan di meja. "Sayang, apa kamu bisa datang kesini. Aku ingin memperkenalkan dirimu pada seseorang." Aku beranikan diri menahan malu saat mengucapkan semua itu. Segenap keberanian benar-benar aku kumpulkan. Terpikir juga bagaimana kalau dia menolakku, selain malu, pasti Mas Dipta tak mempercayaiku dan akan terus mengejarku.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN