Luka xtra part 53 "Kita harus segera ke dokter." Mas Ryan menyeka bulir bening yang mengembun di sudut matanya. Yah … lelakiku itu menangis sama seperti aku. "Mas baru datang pasti masih capek, sebaiknya Mas rehat dulu," ucapku seraya merapikan kerah baju Mas Ryan. "Nggak Sayang, aku nggak capek. Pokoknya habis ini kita ke dokter. Aku mau pastikan semuanya baik-baik saja." Mas Ryan menangkup kedua pipiku dengan tangannya. Aku mengangguk pelan sebagai bentuk persetujuan atas kemauannya. Sebuah kecupan Mas Ryan berikan di keningku, cukup lama. Entah mengapa ada sesak yang tiba-tiba hadir. Kenangan buruk masa lalu terlintas begitu saja. Kenangan saat aku tau sewaktu hamil Prilly. Masa dimana aku begitu terpuruk dan hancur. "Kamu kenapa?" tanya Mas Ryan saat menyadari perubahan dalam dir

