Aku benar-benar tegang, rasanya perasaanku tak karuan, sungguh tak bisa aku gambarkan. Nafas aku tarik kuat-kuat dan menghembuskan perlahan kemudian. Badanku rasanya panas dingin. Yang ditunggu akhirnya datang juga, terdengar mobil berhenti. Jantungku berdetak semakin kencang. Ya Allah, semoga engkau memberi kelancaran dan membuka pintu hati Papa, untuk dapat menerima lamaran Pak Ryan malam ini. Mendengar suara mobil berhenti, Mama bergegas beranjak. Tangannya menarik Papa yang terlihat enggan beranjak. Aku menggandeng Prilly, yang terlihat cantik dengan dress putihnya. "Assalamualaikum," salam Pak Ryan. "Waalaikumsalam Warahmatullahi Wabarakatuh," jawab Prilly kencang, aku hanya lirih menjawabnya. Pak Ryan tersenyum, dia terlihat begitu tampan dalam balutan kemeja batik yang dominan

