Felix mengerutkan kening ketika melihat penampilan sekretarisnya setelah ia menginjak lantai tempat ruangannya berada. Ia perhatikan kemeja yang digunakan Mariska setiap harinya terlihat kian sesak di tubuhnya, terutama di bagian d**a. Roknya pun semakin pendek, jauh di atas lutut dari biasanya, sehingga memperlihatkan paha putihnya. Tidak hanya itu, make up yang dipoles sang sekretaris juga terlihat sangat berbeda dari biasanya. Bahkan, pewarna bibir yang dibubuhkan pun lebih mencolok dibandingkan sebelumnya. Felix hanya mengangguk dan memasang ekspresi wajah datar ketika menanggapi sapaan Mariska yang nada suaranya sengaja dibuat selembut mungkin. “Pertemuan nanti dengan Bu Lavenia, cukup saya dan Wisnu saja yang akan mengadirinya. Kamu selesaikan saja pekerjaanmu yang masih memenuhi pe

