POV Irfan “Maksud kalian apa?” tanyaku ketika baru saja tiba di hadapan mereka. Mata ketiganya tak kalah membulat sama sepertiku. Pasti ada rahasia yang mereka sembunyikan makanya terkejut ketika tahu bahwa aku ada di sini. “Irfan, kamu di sini?” tanya papa. Kemudian kedua mertuaku bangkit dari duduknya. “Iya, aku mendengar obrolan kalian barusan,” jawabku. Kemudian papa menghampiriku dan menyuruh duduk di dekatnya. “Bagaimana kondisi Anggi?” tanyanya yang amat mengkhawatirkan menantunya. Meskipun menurutku ini adalah wajar karena papa merasa utang budi atas pengorbanan yang Anggi lakukan. Namun, aneh saja jika ia selalu membela semua yang dilakukan Anggi. “Anggi sudah sadar, semalam juga telah cerita padaku, ia curiga penusukan ini dilakukan musuh Papa, apa Papa punya musuh?” tanya

