MASA LALU.

822 Kata
     Aku, Simon, dan  Winona harus menunggu  selama sejam lebih didalam  kantor Paman Ben saat Patt dinyatakan  bebas bersyarat. Patt tetap terlihat tampan  meski wajahnya lusuh, kaos putih ketatnya kotor  oleh debu, dan meski tampak lelah, matanya tetap memancarkan  kegembiraan ketika melihat kami.        “ Setelah  mendengar pengakuan  Mr. Blaze pada pihak  kepolisian, didukung beberapa  bukti yang kami temukan di saluran  telponnya beserta korban dan alibi kuat  melalui Miss.Pannabaker Lawlett. Maka putra anda mendapat  penangguhan tuduhan sebagai terdakwa, dia sudah bisa pulang sekarang, meskipun  begitu Pattrick masih tetap dalam pengawasan kami dan wajib melapor tiga hari  sekali hingga kasus persidangan usai" kata Paman Ben.       Berbicara  pada Winona. Lalu  melirik Patt. “ Aku  tahu ini bakal berat, karena  kita menghadapi Keluarga Kendrall. Tapi  kami akan berusaha sekuat tenaga mengungkap  kebenaran selama kamu memang terbukti tak bersalah"  janjinya.      Patt  tersenyum  lemah. Setelah  mengambil barang-barangnya  kami segera meninggalkan kantor  polisi dalam diam.        Ketika  berada diparkiran, Patt  menghentikan langkahnya, dia  menoleh pada Simon dan Ibunya. “ Kalian  masuklah dulu ke mobil, ada yang harus kubicarakan  secara pribadi dengan Tish"      Tak  ada satupun  yang berkomentar, mereka  menuruti keinginan Patt dan  meninggalkan kami berdua. Berdiri  didalam remang-remang cahaya lampu  neon, diantara sebuah sedan putih lama  dan CRV merah keluaran terbaru. Kaki Patt  bergerak-gerak gelisah, saat dia mencoba berbicara.      “ Terima  kasih karena  sudah membantuku" ujarnya  dengan suara serak seperti  penyanyi yang baru saja melakukan  tur non-stop selama puluhan jam tanpa  ada jeda waktu untuk beristirahat.       Aku  diam tak  menjawab, hanya  melipat kedua tangan  depan d**a.      “ Dengar, aku  memang sudah memberikan  seluruh pembelaanku kepada  Polisi, tapi aku juga ingin  kamu mendengarnya langsung dari  mulutku" Patt memegang lenganku, mata  hijaunya terlihat sangat lelah, meminta  permohonan.      Aku  mengangguk. “ Katakanlah"      Patt  menarik  nafas panjang. “ Karen  Kendrall adalah mantan pacarku  saat masih SMA, hubungan kami bertahan  tak lebih dari dua bulan sebelum aku memutuskan  meneruskan kuliah Hukum di Universitas Pennysylvania"  jeda sesaat.      “ Aku  tahu" kataku  datar. Merasakan  kemarahan mencapai  tenggorokanku, “ Simon  memberitahuku dalam perjalanan  menemui Ibumu" tambahku karena melihat  ekspresi terkejut Patt.      “ Oh, Simon..” tukasnya  pelan, tersenyum getir. “Yeah, lalu, aku  memutuskannya secara sepihak. Dia merasa  tak terima dan sempat mengganguku selama  beberapa waktu ditahun awal kuliah, sampai aku  menunjukkan padanya sosok Pattrick Blaze yang sebenarnya, diapun  tak pernah menggangguku lagi. Hingga tadi pagi...” Patt tampak berat  melanjutkan kalimatnya. “...ketika menerima pesanmu, baru kutahu sejak semalam  ponselku dalam kondisi nada diam. Beberapa pesan tertulis datang dari Karen, pada  awalnya kupikir dia hanya mau memancingku sampai kudengar pesan suaranya yang meminta  pertolongan disertai tangisan dan jeritannya sadarlah aku. Kalau dia tak main-main “      “ Itulah  sebabnya kamu  langsung berlari  kerumahnya?" tanyaku  masih mempertahankan sikap  dingin. Meski sekarang rasa penasaranku begitu besar.       Patt  mengangguk, “ Aku  tak berpikir panjang  karena terlalu mencemaskan  kondisinya. Bagaimanapun juga  kemungkinan besar akulah orang  terakhir yang dia mintai pertolongan, itu  menjadi semacam beban bagiku. Saat tiba dirumahnya, pintu  rumah tertutup tapi tak dikunci, isi rumahnya sudah seperti  kapal pecah. Berharap tak terjadi hal buruk padanya, tapi segala  sesuatunya terlambat. Sisa cerita, kamu sudah tahu sendiri"      Patt  tak berani  mengangkat kepalanya, kecemburuan  aneh yang kurasakan menguar sejak  tadi semakin tak terbantahkan. Meski begitu aku sadar, sekarang bukan saatmya menjadi seseorang yang emosional. Aku yakin Patt tak membutuhkan itu saat ini.       “ Kenapa  kamu tak memberitahu  polisi mengenai keberadaanmu  semalam?" tanyaku, mencoba melembutkan suaraku.      Patt  tertawa  pedih. “ Dan  apa, menyeretmu  dalam masalah. Aku  tak ingin nama baikmu  hancur Tish, sama sepertiku"      Kata-katanya  seperti palu memukul  dadaku, menghancurkan rusuk  hingga jantungku. Aku tak memikirkannya  sejak tadi, tentu saja. Patt adalah salah  satu manusia paling tak egois yang pernah  kutemui, apalagi jika itu menyangkut diriku. Rasa  malu menerjang kepalaku, batinku memaki diri sendiri  atas segala pikiran burukku padanya. Kecemburuan yang kurasaan  padanya mendadak lenyap ditelan rasa bersalah.      Aku  berjalan  mendekat kearahnya, perlahan  tanganku menyentuh kedua pipinya, membuat  dia mendongak menatapku. Mata hijaunya memantul  penuh kepasrahan.      “ Aku  tahu diriku  buruk Tish, tak  pernah cukup baik  untukmu. Aku berjudi, tapi  sesungguhnya bukan hanya demi  diriku. Sering mengikuti pertarungan  ilegal, hanya demi menutupi fakta betapa  pengecutnya aku. Dan paling parah, bercinta  dengan banyak wanita nyaris tiap hari. Aku tahu  betapa bejatnya diriku. Tapi aku bersumpah! Bahkan bagian  tergilaku masih  mempunyai nurani. Bukan  aku pelakunya Tish, Karen  Kendrall tidak mati ditanganku "      Dari  luar Pattrick  Blaze begitu ditakuti  karena kekuatannya, namun  sesungguhnya dia sangat rapuh  dan lemah didalam.      Pattrick  Blaze yang memiliki julukan buruk sebagai seorang  penakhluk wanita, hanyalah pemuda kesepian merana  karena nasib yang bahkan sudah dipilihkan bukan oleh  dirinya.     Pattrick  Blaze yang  tampak b******n, dimataku  adalah sosok paling setia  kawan dan merendahkan egonya  demi orang-orang dicintainya.      “ Aku  percaya  padamu" kataku  dengan suara tercekat. “ Patt  yang kukenal bahkan tak mungkin  membunuh seekor lalat tanpa alasan jelas" tukasku  tulus.      Mata  Patt memerah, dan  untuk pertamakalinya, pria  besar itu membiarkan dirinya  tampak lemah didepan seorang wanita.      Wanita  yang katanya  dia cintai....      Kami  berpelukan  sangat erat, lalu  mulai saling melumerkan  bibir. Tak mempedulikan situasi  sekitar atau berapa banyaknya waktu  yang terbuang.       “ Aku  mencintaimu  Tisha Pannabaker  Lawlett" bisiknya ditelingaku  saat melepaskan pelukan. “ Dan  aku tak peduli berapa banyak waktu  harus terbuang karena menunggumu. Sebab  aku berjanji, akan menjadi orang yang layak  dan patut mendapatkan dirimu seutuhnya"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN