Aku, Simon, dan Winona harus menunggu selama sejam lebih didalam kantor Paman Ben saat Patt dinyatakan bebas bersyarat. Patt tetap terlihat tampan meski wajahnya lusuh, kaos putih ketatnya kotor oleh debu, dan meski tampak lelah, matanya tetap memancarkan kegembiraan ketika melihat kami.
“ Setelah mendengar pengakuan Mr. Blaze pada pihak kepolisian, didukung beberapa bukti yang kami temukan di saluran telponnya beserta korban dan alibi kuat melalui Miss.Pannabaker Lawlett. Maka putra anda mendapat penangguhan tuduhan sebagai terdakwa, dia sudah bisa pulang sekarang, meskipun begitu Pattrick masih tetap dalam pengawasan kami dan wajib melapor tiga hari sekali hingga kasus persidangan usai" kata Paman Ben.
Berbicara pada Winona. Lalu melirik Patt. “ Aku tahu ini bakal berat, karena kita menghadapi Keluarga Kendrall. Tapi kami akan berusaha sekuat tenaga mengungkap kebenaran selama kamu memang terbukti tak bersalah" janjinya.
Patt tersenyum lemah. Setelah mengambil barang-barangnya kami segera meninggalkan kantor polisi dalam diam.
Ketika berada diparkiran, Patt menghentikan langkahnya, dia menoleh pada Simon dan Ibunya. “ Kalian masuklah dulu ke mobil, ada yang harus kubicarakan secara pribadi dengan Tish"
Tak ada satupun yang berkomentar, mereka menuruti keinginan Patt dan meninggalkan kami berdua. Berdiri didalam remang-remang cahaya lampu neon, diantara sebuah sedan putih lama dan CRV merah keluaran terbaru. Kaki Patt bergerak-gerak gelisah, saat dia mencoba berbicara.
“ Terima kasih karena sudah membantuku" ujarnya dengan suara serak seperti penyanyi yang baru saja melakukan tur non-stop selama puluhan jam tanpa ada jeda waktu untuk beristirahat.
Aku diam tak menjawab, hanya melipat kedua tangan depan d**a.
“ Dengar, aku memang sudah memberikan seluruh pembelaanku kepada Polisi, tapi aku juga ingin kamu mendengarnya langsung dari mulutku" Patt memegang lenganku, mata hijaunya terlihat sangat lelah, meminta permohonan.
Aku mengangguk. “ Katakanlah"
Patt menarik nafas panjang. “ Karen Kendrall adalah mantan pacarku saat masih SMA, hubungan kami bertahan tak lebih dari dua bulan sebelum aku memutuskan meneruskan kuliah Hukum di Universitas Pennysylvania" jeda sesaat.
“ Aku tahu" kataku datar. Merasakan kemarahan mencapai tenggorokanku, “ Simon memberitahuku dalam perjalanan menemui Ibumu" tambahku karena melihat ekspresi terkejut Patt.
“ Oh, Simon..” tukasnya pelan, tersenyum getir. “Yeah, lalu, aku memutuskannya secara sepihak. Dia merasa tak terima dan sempat mengganguku selama beberapa waktu ditahun awal kuliah, sampai aku menunjukkan padanya sosok Pattrick Blaze yang sebenarnya, diapun tak pernah menggangguku lagi. Hingga tadi pagi...” Patt tampak berat melanjutkan kalimatnya. “...ketika menerima pesanmu, baru kutahu sejak semalam ponselku dalam kondisi nada diam. Beberapa pesan tertulis datang dari Karen, pada awalnya kupikir dia hanya mau memancingku sampai kudengar pesan suaranya yang meminta pertolongan disertai tangisan dan jeritannya sadarlah aku. Kalau dia tak main-main “
“ Itulah sebabnya kamu langsung berlari kerumahnya?" tanyaku masih mempertahankan sikap dingin. Meski sekarang rasa penasaranku begitu besar.
Patt mengangguk, “ Aku tak berpikir panjang karena terlalu mencemaskan kondisinya. Bagaimanapun juga kemungkinan besar akulah orang terakhir yang dia mintai pertolongan, itu menjadi semacam beban bagiku. Saat tiba dirumahnya, pintu rumah tertutup tapi tak dikunci, isi rumahnya sudah seperti kapal pecah. Berharap tak terjadi hal buruk padanya, tapi segala sesuatunya terlambat. Sisa cerita, kamu sudah tahu sendiri"
Patt tak berani mengangkat kepalanya, kecemburuan aneh yang kurasakan menguar sejak tadi semakin tak terbantahkan. Meski begitu aku sadar, sekarang bukan saatmya menjadi seseorang yang emosional. Aku yakin Patt tak membutuhkan itu saat ini.
“ Kenapa kamu tak memberitahu polisi mengenai keberadaanmu semalam?" tanyaku, mencoba melembutkan suaraku.
Patt tertawa pedih. “ Dan apa, menyeretmu dalam masalah. Aku tak ingin nama baikmu hancur Tish, sama sepertiku"
Kata-katanya seperti palu memukul dadaku, menghancurkan rusuk hingga jantungku. Aku tak memikirkannya sejak tadi, tentu saja. Patt adalah salah satu manusia paling tak egois yang pernah kutemui, apalagi jika itu menyangkut diriku. Rasa malu menerjang kepalaku, batinku memaki diri sendiri atas segala pikiran burukku padanya. Kecemburuan yang kurasaan padanya mendadak lenyap ditelan rasa bersalah.
Aku berjalan mendekat kearahnya, perlahan tanganku menyentuh kedua pipinya, membuat dia mendongak menatapku. Mata hijaunya memantul penuh kepasrahan.
“ Aku tahu diriku buruk Tish, tak pernah cukup baik untukmu. Aku berjudi, tapi sesungguhnya bukan hanya demi diriku. Sering mengikuti pertarungan ilegal, hanya demi menutupi fakta betapa pengecutnya aku. Dan paling parah, bercinta dengan banyak wanita nyaris tiap hari. Aku tahu betapa bejatnya diriku. Tapi aku bersumpah! Bahkan bagian tergilaku masih mempunyai nurani. Bukan aku pelakunya Tish, Karen Kendrall tidak mati ditanganku "
Dari luar Pattrick Blaze begitu ditakuti karena kekuatannya, namun sesungguhnya dia sangat rapuh dan lemah didalam.
Pattrick Blaze yang memiliki julukan buruk sebagai seorang penakhluk wanita, hanyalah pemuda kesepian merana karena nasib yang bahkan sudah dipilihkan bukan oleh dirinya.
Pattrick Blaze yang tampak b******n, dimataku adalah sosok paling setia kawan dan merendahkan egonya demi orang-orang dicintainya.
“ Aku percaya padamu" kataku dengan suara tercekat. “ Patt yang kukenal bahkan tak mungkin membunuh seekor lalat tanpa alasan jelas" tukasku tulus.
Mata Patt memerah, dan untuk pertamakalinya, pria besar itu membiarkan dirinya tampak lemah didepan seorang wanita.
Wanita yang katanya dia cintai....
Kami berpelukan sangat erat, lalu mulai saling melumerkan bibir. Tak mempedulikan situasi sekitar atau berapa banyaknya waktu yang terbuang.
“ Aku mencintaimu Tisha Pannabaker Lawlett" bisiknya ditelingaku saat melepaskan pelukan. “ Dan aku tak peduli berapa banyak waktu harus terbuang karena menunggumu. Sebab aku berjanji, akan menjadi orang yang layak dan patut mendapatkan dirimu seutuhnya"