Siska melangkahkan kakinya dengan cepat memasuki kantornya. Dia dijemput oleh supirnya saat dipaksa turun dari mobil Irwan. Siska membuka pintu ruang kerjanya dengan kasar dan melemparkan tas miliknya ke sofa yang berada disana. Dokumen-dokumen yang dibawanya juga langsung dia lempar ke sembarang arah. Dirinya masih sangat dikuasai oleh emosi. Tak lama setelah Siska duduk di kursinya, Ardi masuk ke dalam ruangannya. Kepala Ardi celingukan ke kanan dan kiri melihat kondisi di ruang kerja Siska yang sangat berantakan karena lembaran-lembaran dokumen yang berserakan. “Berantakan banget ruang kerja kamu ini Sis! Kamu tuh perempuan, jangan terlalu berantakan kayak gini dong..” Ardi berkata demikian dengan polosnya. Dia tidak tahu jika Siska sedang dalam emosi. Tentu saja mendengar perkataan A

