Geo menyapa para rekan kerjanya yang hadir dalam resepsi pernikahannya malam ini. Dengan senyum yang tak hilang dari wajahnya membuatnya tampil semakin menawan di depan semua orang. Bahkan para wanita yang diundang dalam acaranya ini tak segan segan melemparkan senyum nakal sekaligus tatapan genit padanya. Terlebih pakaian mereka yang minim membuat Geo menyunggingkan senyum geli.
Apakah acara pernikahan ini masih kurang menjelaskan kalau Geo sudah dimiliki oleh Christa hingga wanita-wanita itu masih melemparkan godaan padanya. Selagi mereka juga dalam batasan, maka Geo sama sekali tak masalah. Lagi pula, Christa yang menyadari hal itu pun, tampaknya tak terlalu terganggu.
Christa yang telah resmi menjadi istrinya ikut menyalami rekan Geo dengan hiasan senyum palsu di wajahnya. Ia tak menyangka kalau akhirnya ia menjadi seorang istri diusia kedua puluh tahun dan lebih tak menyangka bagaimana ia bisa memiliki seorang suami seperti Geovano.
Pesta mereka yang begitu ramai ini membuat Geo dan Christa tetap berada di posisinya untuk menyambut semua tamu undangan. Meski lelah dan ingin segera melemparkan diri ke atas ranjang, namun keduanya menahan niatan itu atau lebih tepatnya tertahan untuk melakukan niatan itu. Mereka tak mungkin meninggalkan pelaminan padahal kenyataannya, mereka adalah bintang utama di pesta itu.
Dari jauh Geo melihat tiga sahabatnya yang baru saja menduduki meja yang di sediakan khusus untuk mereka bersama dengan pasangannya. Sebenarnya bukan khusus karena tamu lain juga memiliki meja tersendiri, hanya saja kedua sahabatnya itu memilih tempat yang cukup nyaman itu.
"Kita kesana dulu" ajak Geo menarik tangan Christa menuju teman temannya, tanpa mendengar jawaban istrinya itu lebih dulu.
Christa hanya mengikuti meski tanganya sedikit sakit karena cengkeraman Geo yang terlalu erat karena sangat bersemangat. Dia juga terlihat kesulitan menyamakan langkahnya dengan Geo yang begitu cepat karena high heelsnya yang cukup tinggi dan gaunnya yang cukup panjang.
"Dari mana aja lo pada? Lama banget datangnya" desis Geo sambil meneguk segelas minum yang ada diatas meja tersebut "Ada juga tamu yang ngga tau diri kayak lo pada, masa harus gue yang nyamperin dulu kesini" sindir Geo begitu tiba di meja teman-temannya.
"Biasalah, istri gue harus dandan repot dulu" ujar Dino Bluwi selaku sahabatnya.
Kana-istri Dino terpaksa mencubit suaminya karena merasa malu telah membuat mereka datang lama. Ia memang lama dandan, tapi tidak perlu diberitahukan pada orang lain juga kan. Meskipun itu sahabat suaminya sendiri, tapi ia kan malu memberitahukan hal seperti itu.
Geo menyikut lengan Leano Derga "Lo kenapa? Rini juga lama dandan?" sindirnya pada Leano karena ia tau betul bahwa istri Leano adalah orang yang tak ingin ribet dan tampil seadanya saja. Belum apa-apa saja, Rini sudah mendumel tak terima dibilang lama berdandan, karena dia itu orang yang paling simpel kalau urusan make up.
"Gue tadi lama karena sorenya ngontrol pesta lo, k*****t" desis Leano tak terima.
Bagaimana bisa terima? Sementara tadi sore dia harus mengkordinir para dekorator pesta Geo. Tapi lebih tepatnya mengecek segala perlengkapan alat yang dipakai seperti micropone, speaker dan alat lainnya. Lantas pulangnya setengah jam sebelum pesta di mulai.
Geo terkekeh sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal sama sekali "Gue lupa, kalau lo bertugas untuk ngawasin ini semua. Gue lupa kalau lo sekretaris yang sangat bermanfaat dalam segala hal" ujarnya dengan tampang yang tak menunjukkan rasa bersalah sama sekali.
"Iya lupain aja terus" sindir Leano sinis.
"Udahlah, lo baper banget sih" celetuk Dino menoyor kepala Leano.
“Tahu tuh, macem perempuan lagi datang bulan aja” timpal Dion.
"Oh iya, semangat ya buat kalian menempuh hidup baru. Semoga nggak ada niatan cerai kalau ada masalah" pesan Leano setelah mengingat bahwa ia mendatangi pesta ini karena Geo yang melepas masa lajangnya.
“Hahaha, semangat Ge, bukan selamat” tawa Dion menggelegar mendengar ucapan Leano yang memang disengaja.
Geo berdecak sinis memandang Leano "Gue udah pasti semangat kalau itu” angguknya “Tapi lo kira anak TK, cuma bilang semangat doang, mana kadonya?" tagihnya sambil menengadahkan tangan di depan wajah Leano.
"Uang lo banyak. Kayak orang nggak mampu aja minta minta sama orang lain" cibir Leano.
"Ini bukan masalah nggak mampu, gue cuma mau lo inget waktu lo nikahan sama Rini gue ngasih lo mobil sport" ujarnya pamrih. Menurut prinsip Geo, hidup ini adalah balas budi. Geo menerapkan yang namanya take and give, jadi ia juga ingin Leano melakukan hal yang sama dengannya.
Dino menghela nafas kasar "Udah udah, jangan berantem lagi" lerainya "Nanti gue ngasih flasdisk deh yang isinya bokep semua" ujarnya antusias dengan menaik turunkan alisnya menatap Geo dan Christa bergantian. Christa hanya diam dan mendengarkan pembicaraan mereka.
"Gue nggak butuh karena gue ahlinya" sombong Geo sambil menyentuh kerah bajunya dan mengangkatnya sedikit.
"Ngakunya nggak butuh karena udah punya istri" ledek Leano "Dia belajarnya sambil praktek" goda pria itu diangguki Dino dan Dion.
"Hati hati ya Chris, Geo kalau main itu kasar banget sumpah" ujar Dino dengan tampang sungguh-sungguh bahkan mengangkat jari telunjuk dan tengahnya bersamaan seolah ia sedang bersumpah "Gue udah pernah video-in. Mau lihat?" tawarnya. Geo memukul kepala Dino yang baru saja mencemari pikiran bersih istrinya.
Christa tersenyum kikuk sambil menggeleng kecil atas tawaran Dino yang membuatnya bergidik ngeri. Sementara Kana menyikut perut suaminya yang kurang ajar. Ia tahu itu hanya candaan saja, tapi bagaimana kalau Christa sampai memikirkannya dan menganggap video itu memang ada.
“Nggak usah dengerin kata Dino ya Chris” sarannya. Christa mengangguk sembari tersenyum canggung.
Geo yang duduk di samping Christa menatap tajam Dino "Otak lo nggak ada bersih bersihnya, jangan racunin pikiran istri gue" cerca Geo.
"Yaelah, macem otak lo udah di upgrade aja" desis Dino sinis. Ia juga tau bahwa pikiran teman-temannya tak ada yang bersih, sama saja sepertinya.
“Udah-udah, inget disini ada yang belum nikah dan masih nunggu jodoh” lerai Dion membuat yang lain terkekeh.
"Jadi rencananya kalian mau bulan madu kemana?" tanya Kana berusaha melerai keributan itu dengan tenang.
"Gue sih secara pribadi nggak punya rencana, pekerjaan gue itu udah numpuk banget" jawab Geo dengan mudahnya dan yakin. Ia memang memiliki banyak pekerjaan yang menunggu, bukan karena ingin beralasan saja.
"Ya elah, otak lo isinya emang berkas semua" cibir Dino.
"Udah sih, lagian ngga harus bulan madukan biar anak jadi" ujarnya cukup logika.
Rini memukul lengan Geo tanpa ragu hingga pria itu terkejut sambil meringis karena gerakan Rini yang tiba-tiba "Heh, seenggaknya lo itu ngajak istri lo waktu berduaan" protesnya.
"Emangnya nggak bisa di rumah apa? Di rumah juga nggak apa-apa lagi, iya kan sayang?" pinta Geo agar Christa menyetujui ucapannya.
"I..iya" jawab Christa ragu.
Di tengah percakapan mereka, seseorang datang membawa sebuket bunga dengan gaya centilnya, memperlihatkan lekuk tubuhnya lewat pakaian ketat dan juga seksi.
"Geo" panggilnya manja dengan nada di buatbuat. Leano, Dion dan Dino memandang jijik ke arahnya. Mereka bahkan bergidik ngeri melihat betapa jalan Citra dibuat selenggok mungkin hanya untuk menarik perhatian Geo. Dan sialnya, Geo masih saja merasa tertarik untuk melihatnya.
"Hai Cit" tanggap Geo begitu antusias.
Citra mengecup pipi Geo sekilas lantas memeluknya dengan erat yang dibalas sama eratnya oleh Geo. Mereka bahkan hampir saja melupakan ada orang lain di sekitar mereka karena terlalu terhanyut dalam suasana melepas rindu bersama mantan kekasihnya.
Citra mengurai pelukan "Nih, bunga buat kamu. Selamat ya atas pernikahannya" judes wanita itu sengaja dengan nada merajuk agar Geo menyadari kalau ia cemburu.
"Hahaha.. jangan pasang muka jutek gitu dong, nanti cantiknya hilang" goda Geo dengan mencolek wajah Citra.
"Biarin, siapa suruh kamu ninggalin aku"
"Nggak ada yang nyuruh, cuma Mama pengen banget aku cepet nikah" ujarnya sekedar pemberitahuan.
"Tapi kenapa nggak aku yang jadi pengantinnya? Kemaren bilangnya mau nungguin jandaku" rajuk wanita itu menagih janji Geo yang memang mengatakan bahwa ia akan menunggu janda-nya Citra yang memang sudah menikah.
"Nanti juga kalo kamu udah betah sama suami kamu, kamu lupa sama aku" desis pria itu mencebikkan bibirnya.
Geo melingkarkan tangan kirinya dipingang Citra dengan tangan kanan yang menangkup wajah wanita itu dengan mesra hingga membuat Citra terbuai sedangkan Christa justru terkejut melihat posisi seintim itu. Christa segera menunduk saat mengingat bahwa dirinya bukan siapa-siapa.
"Ekhm, ingat istri" sindir Kana tajam. Ia tak suka sifat Geo yang masih sembarangan bermain perempuan. Walaupun rasanya bukan ia yang berhak menegur hal itu disini, namun ia benar-benar gatal ingin menendang s**********n Geo agar sadar bahwa pria itu baru menikah dan istrinya sedang memperhatikan kebusukan Geo.
Geo menggaruk tengkuknya dan melepas lingkaran tangannya dari Citra, sedikit melirik ke arah istrinya yang hanya diam memandangi mereka seolah tak peduli padahal sebenarnya hatinya begitu nyeri. Bukan karena ia mencintai Geo, hanya saja rasanya ia tak punya harga diri sebagai seorang istri.
Citra tersenyum ke arah Christa "Sorry ya, Geo emang kebiasaan gini ke semua mantan dia, suka kebablasan walaupun di tempat umum"
Christa tersenyum kecil, dan jelas hal itu begitu dipaksakan. Siapa yang rela tersenyum tulus kepada orang yang baru saja merusak suasana hatinya yang tak begitu bagus.
"Eh eh, Bonyok lo Ge datang kesini itu" tunjuk Leano melihat kedatangan orangtua Geo bersama dengan antek-anteknya, alias adik-adik Geo. Mereka baru saja bercakap ria dengan beberapa keluarga jauh Christa dan Agam. Selain itu, mereka juga sibuk bercengkrama dengan kerabat mereka.
"Iya, gue tau" desis Geo setelah menoleh ke belakangnya dimana Mama, Papa serta adiknya sedang menuju ke meja mereka.
"Yaudah, kalau gitu gue pergi dulu" bisik Citra kepada Geo lalu setelah mendaratkan kecupan singkat kembali di pipi pria itu. Geo menyesali keputusan untuk membiarkan Citra membuatnya dalam masalah besar.
"Aw aw aduh Ma, aduh.. Ini kenapa sih?" Geo meringis kesakitan atas jeweran Agna yang begitu kuat.
"Geovano Arswendo b**o. Siapa suruh kamu masih berhubungan sama cewek lain? Kamu pikir Mama ngga lihat tadi kamu cium cewek lain di depan istri kamu" cerca Agna dengan segala kemarahanya yang sudah di ubun-ubun. “Bukan nyium Ma, tapi dicium” koreksi Hernan.
“Iya, pokoknya itu sama-sama hal tak terpuji”
Teman teman Geo menatap prihatin pada Geo yang mengaduh kesakitan namun mereka juga merasa terhibur melihat penderitaan Geo. Jarang sekali mereka mendapati pertunjukan seperti di depan mereka saat ini. Sepertinya ini hiburan tambahan di acara pernikahan Geo karena sekarang mereka menjadi tontonan tamu undangan.
Rian terkekeh geli karena istrinya membuat mereka menjadi pusat perhatian yang konyol. Maka dengan sedikit keberanian, Rian menarik tangan istrinya supaya lepas dari telinga putra pertamanya yang sudah begitu memerah. Agna seakan masih belum puas menjewer telinga Geo, menatap tajam suaminya. Bahkan walau sudah menyadari beberapa orang mengelilingi mereka, Agna tetap tak peduli.
"Sayang, udah kasian anak kamu itu" ujar Rian.
"Apasih Mas? Siapa suruh tadi dia berlaku nggak layak di depan istrinya sendiri"
"Christa nggak apa-apa kok Ma, mungkin Mas Geo tadi cuma salam perpisahan sama cewek itu" ujar gadis itu dengan senyum manisnya. Ia tak suka menjadi bahan tontonan memalukan itu lebih lama lagi, meski maksud mertuanya baik, yaitu untuk membelanya.
Oh ya, mengenai panggilan Mas, Christa memutuskan untuk memanggil Geo dengan sebutan Mas dibandingkan Bang, hingga mau tak mau Geo akhirnya mengangguk dan terima saja.
Agna menghela nafas pelan, melepas tangannya yang mengapit telinga Geo "Tapi kalau lain kali, Geo masih kayak gitu di depan kamu, laporin aja sama Mama" tegas Agna di angguki Christa dengan mantap.
Geo masih mengaduh di samping Christa, yang membuat hati Christa tergerak mengusap telinga suaminya dengan gerakan lembut. Perlakuan Christa mengalihkan tatapan Geo ke arahnya. Usapan tangan lembut milik Christa benar-benar mampu mengurangi rasa sakit di telinga Geo.
"Masih sakit?" tanya Christa.
Geo menggelengkan kepalanya dengan tatapan lekatnya pada sang istri yang baru saja mengkhawatirkannya "Makasih"
Christa menggangguk dan tersenyum kecil.