Sebuah Godaan

1124 Kata
Mata Matsunaga tidak bisa berkedip, dirinya yang tiba-tiba berada di sebuah ruangan aneh. Ruangan tersebut, seperti altar ritual lengkap dengan empat sisi tungku yang berisi api menyala.   Pria berjenggot di depannya tiba-tiba mulai melangkah, tatapan serius menusuk dengan wajah datar bibir menurun, ini adalah ekspresi seseorang akan marah. Matsunaga bersiap jika akan ada serangan yang akan dia dapatkan.   Tapi… tidak seperti apa yang dia bayangkan, pria itu berhenti dan langsung berlutut. Empat orang di belakangnya juga ikut berlutut.   “Terima kasih karena sudah mau memenuhi panggilan kami!” “Uh?” Pria berjenggot itu mengangkat kepalanya, alis meruncing sorotan mata sangat tajam. “Aku mohon bantulah kami untuk melepaskan negeri ini dari kegelapan.” Matsunaga terdiam. “Orang tua ini bicara apa, sejak dari tadi kenapa aku berada di tempat ini? Kalau tidak salah aku baru saja, hendak masuk ke dalam sebuah halaman web, tapi kenapa sekarang aku berada di tempat ini.”   Melihat Matsunaga diam, semua orang yang ada di dalam ruangan itu memberikan tatapan serius. Tidak berapa lama Matsunaga menatap seluruh orang yang ada di sana. Matsunaga lalu berdiri. “Huh… apa maksudmu? Aku baru saja dipaksa untuk dipanggil ke dunia ini, apakah kalian bisa memberikan bayaran atau sebuah kesepakatan untuk diriku?” Seluruh orang yang ada di sana menjadi sangat kaget, melihat tingkah Matsunaga bagaikan seorang makhluk kegelapan.   “T-Tentu saja, kami di sini sudah menyiapkan segala fasilitas yang Anda butuhkan! Ini semua adalah atas perintah Raja Zaeria, beliau meminta kami berlima untuk memanggil Anda ke dunia ini untuk bisa menjadi seorang pahlawan.” “P-Pahlawan?” Matsunaga mendengar kata itu langsung merasakan tubuhnya merinding. “Yang benar saja… aku ini bukan siapa-siapa. Sekarang aku dipanggil ke dunia ini, untuk menjadi pahlawan.” Perasaan pesimis sudah bermunculan di kepalanya. “B-Baiklah!” Matsunaga ingin bertemu dengan raja orang yang telah mengutus lima orang itu untuk memanggil dirinya. “Terima kasih!” Mata orang tua itu langsung berlinang, seperti melihat sebuah keajaiban yang baru saja tiba. “Kalau begitu ayo kita segera pergi menemui Raja Zaeria.” Lalu Matsunaga dituntun ke ruangan singgasana. Seorang raja yang tidak jauh tua seperti orang tadi, duduk di kursinya. Di samping kirinya ada seorang perempuan berwajah cantik, menatap serius. “Luar biasa! Ini benar-benar dunia yang berbeda daripada duniaku sebelumnya!” Interior ruangan, menyilaukan mata Matsunaga, dirinya seperti berada di dalam mimpi indah yang menghanyutkan pikirannya. “Yang Mulia! Dia adalah pahlawan yang berhasil kami panggil!” ucap orang tua.   Raja Zaeria hanya memberikan tatapan dingin ke arah Matsunaga. Setelah itu, Matsuanaga dipersilahkan untuk maju beberapa langkah. “Baiklah, sebelum itu siapa namamu?” “Namaku? Benar juga sebelum aku membuka halaman itu, aku sudah memasukan nick name.” Senyuman tipis sedikit terukir, sebelum menjawab pertanyaan dari sang raja. “Namaku adalah Azrael.” “Baik, Pahlawan Azrael. Biar aku perkenalkan diri, namaku Zaeria Salvadori, raja ke 4 di kerajaan Alocasia. Mungkin kau sudah mendengar sedikit penjelasan tentang kenapa kau dipanggil ke dunia ini.” Raja Zaeria menahan napasnya, raut wajahnya menjadi sedih, berat bagi dirinya untuk menceritakan kejadian yang terjadi. “Saat ini, para monster sedang melakukan invasi besar-besaran. Banyak sudah wilayah manusia menjadi korban keganasan mereka, jika terus seperti ini maka seluruh kehidupan hancur. Semua makhluk tidak akan bisa mengalahkannya, hanya seorang pahlawan yang datang dari dunia lain, bisa menghentikan gejolak dari bencana ini. Maka dari itu, aku meminta kepadamu Pahlawan Azrael untuk membantu membebaskan negeri ini, tidak seluruh area terbebas dari belenggu kegelapan.” “Tunggu, bagaimana aku bisa melawan mereka. Aku sendiri saja, tidak memiliki kemampuan apa-apa!” “Untuk masalah itu tidak perlu khawatir, Anda bisa meningkatkan kemampuan setiap kali melakukan latihan atau melawan monster,” jelas singkat dari Raja Zaeria.   “Menjadi seorang pahlawan ya!” Azrael mulai membayangkan kalau dirinya akan memiliki banyak kebangaan dan dipuja-puja oleh semua orang. “Baiklah, aku terima tawaran itu!” Semua orang di dalam ruangan singgasana langsung tersenyum lebar. Sedangkan Raja Zaeria mengangguk.   “Kalau begitu!” Raja Zaeria mengangguk ke arah seorang pelayan.   Pelayan itu kemudian mendekati Azrael. “Tuan Pahlawan, mari ikuti saya.” “Iya!”   …   Azrael dibawa ke ruangan yang sudah disiapkan pihak istana untuk dirinya. Begitu mewah ruangan itu, tempat tidurnya bagaikan sebuah tempat pengantin baru yang begitu rapi. “Aku tidak menyangka baru tiba di dunia ini aku sudah mendapatkan ruangan mewah seperti ini.”   “Plak!” Azrael menampar kedua pipinya, untuk memberikan efek sadar. Bahwa semua itu adalah kenyataan bukan sebuah hayalan atau mimpi. Meski senang, Azrael sedikit mendapatkan keraguan. “Tapi merepotkan juga kalau nantinya melawan Raja Iblis. Untuk hal itu aku harus mempersiapkan segala hal.” “Tok! Tok!” Seseorang mengetuk pintu kamar, di saat Azrael masih dalam keadaan merenung. Segera dia membuka pintu.   Begitu dibuka seorang gadis berwajah cantik, menatap sembari memberikan senyuman kepada Azrael. “Maaf, mengganggu waktu Anda, apakah aku bisa masuk!” Suara wanita itu benar-benar manis, hingga membuat hati Azrael menjadi berdebar.   “T-Tentu!”   Mereka berdua duduk di atas kasur. Azrael menundukkan pandangannya, sementara wanita itu memberikan tatapan menggoda.   “Kenapa Tuan Pahlawan, apakah kau tidak menyukai kedatanganku?”   “Tidak!” Azrael menjawabnya dengan nada malu. “Apa ini? Jangan-jangan ini adalah waktunya aku untuk itu...!” Fantasi liar itu langsung masuk ke dalam otaknya, dan mulai memberikan beberapa adegan dewasa yang selama ini selalu didambakan oleh seorang pria. “Tuan Pahlawan. Terima kasih telah datang untuk negeri ini!”   Perlahan Azrael memberanikan diri untuk menatap wanita itu. Hatinya langsung terpikat saat melihat mata lentik wanita itu dengan penuh keanggunan. “Astaga, apakah memang akan terjadi hari ini?” Pertanyaan yang membuat hatinya berdebar-debar, terus terulang di kepalanya.   Wanita itu lalu tidur di paha Azrael. Mata Azrael langsung melotot, tindakan itu semakin meninggikan nafsu dalam tubuhnya. “Heheh?” Wanita itu tertawa kecil dengan manisnya menatap wajah Azrael yang penuh dengan kegugupan. “Kenapa Tuan Pahlawan, kau tidak perlu malu-malu, di sini hanya kita berdua. Tuan Pahlawan pasti paham apa yang akan dilakukan  oleh pria dan wanita jika bersama di dalam ruangan sepi apalagi sebuah kamar mewah seperti ini.” Kata-kata gemulai bagaikan tombak yang mampu menusuk hati sudah dilancarkan. Ini merupakan sinyal yang sulit untuk dihindari bagi sebagian besar laki-laki. Kesempatan tiada dua, selagi ada jangan dilewatkan. Wanita itu kemudian melakukan tindakan lebih ekstrim, ia memeluk Azrael. Hati Azrael semakin ingin meledak, sudah tidak sabar dirinya untuk melakukan tindakan itu.   “Tuan! Selagi ada waktu, mari kita lakukan!” bisik halus sang wanita.   Godaan maut itu sulit untuk dihindari oleh Azrael, gejolak nafsu sudah menguasai tubuhnya.   “B-Baik…!”   Wanita itu perlahan mulai memeluk tubuh Azrael. “Huh… hangat sekali… benar-benar tubuh pria perkasa!” Suara halus yang menambah nafsu Azrael semakin bergejolak. “Biar aku lepaskan baju Anda!”   __To Be Continued__  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN