E 7. Sebuah Ruang Kosong

1442 Kata
Chapter 7 Syane memandangi foto di depannya. sebuah potret keluarga. Syane tak yakin apa ada kebahagiaan di dalam foto itu. sebab semua terlihat begitu tegang dan juga suram. “Tuan Raveyr..” sebuah sapaan menarik Syane dari lamunannya. Pria itu balik badan dan menemukan seorang pelayan wanita paruh baya berbadan cukup besar tersenyum hangat padanya. “Bibi Tesi.” Bisi Tesi tersenyum lebih lebar. “Tuan terlihat semakin tampan. Bagaimana kabar Tuan?” “Aku baik. bagaimana kabar Bibi Tesi?” beberapa tahun tinggal di rumah ini, bisa dikatakan Bibi Tesi adalah orang yang paling peduli pada Syane. Di saat semua orang berbalik badan memunggunginya, Bibi Tesi adalah satu-satunya orang yang mengulurkan tangan, merangkulnya dengan penuh kasih. Syane sempat tumbuh tanpa kasih sayang seorang Ibu, dan Bibi Tesi hadir memberikannya, meski hal itu tidak bisa disamakan, namun setidaknya cukup memberi Syane sebuah ruang aman. “Bibi baik. apa Tuan menginap malam ini? Bibi akan minta koki menyiapkan makanan kesukaan Tuan.” Sebenarnya menginap adalah hal terakhir yang ingin Syane lakukan. Namun ada satu hal yang menahannya. Malam ini ia harus berada di sini. Ada hal yang ingin Syane temukan. Anggukan Syane menciptakan sebuah senyuman lebar di bibir pengasuhnya itu. wanita itu bergegas menyiapkan segala kebutuhannya, tak peduli Syane sudah menolak dan mengatakan bahwa ia akan mengurus semuanya sendiri. Pukul 8 malam semua keluarga berkumpul di ruang makan. Sebenarnya tidak banyak, hanya ada beberapa orang karena rumah tua ini hanya dihuni oleh Tuan Besar, anak pertama dan juga menantunya. Sementara anak-anak yang lain tinggal di rumah mereka masing-masing. Ruang makan terasa begitu sunyi, meski suara denting garpu dan sendok terdengar. Ada banyak hidangan di meja. Seperti perkataan Bibi Tesi, ada beberapa hidangan kesukaan Syane di atas meja. Tapi sejak tadi pria itu hanya mengaduk makanannya, tidak benar-benar menyuap. “Apa kau berharap makanan itu masuk sendiri ke dalam mulutmu?” suara berat dan besar itu akhirnya memecah keheningan. Syane tahu siapa yang sedang dibicarakan. Namun ia sama sekali tak terusik. “Apa kau takut makananmu diracuni?” tanya pria itu lagi. suasana di ruang makan berubah menjadi tegang. Dua orang lainnya saling pandang dengan raut wajah sedikit tertekan. Tak mendapat respon dari Syane, si pria tua membanting garpunya cukup keras, cukup untuk mengejutkan semua orang. “Kalau tidak mau makan untuk apa kau ke sini?!” suaranya meninggi. “Apa kau pikir raut wajahmu terlihat enak dipandang? Kau membuat semua orang kehilangan nafsu makan!” Syane menarik napas dalam. Hal seperti ini bukan sesuatu yang baru dan Syane sama sekali tidak terkejut. Ia juga sudah mempersiapkan diri. Beberapa tahun lalu bahkan sebuah gelas melayang ke wajahnya. Untung Syane sempat mengelak. Jika tidak mungkin wajah tampan itu sudah dipenuhi oleh goresan bekas luka. Suasana panas di ruang makan terus berlanjut. Bibi Tesi mendengar dari jauh, namun tak berani ikut campur. Syane masih tenang di kursinya. Sampai sebuah kalimat keras membangunkan amarah di d**a pria itu. syane sontak bangkit dari duduknya, memandang si pria itu dengan tatapan yang sangat tajam. “Apa?! kau ingin memukulku?! Apa kau sudah merasa begitu besar sekarang?!” tantang si pria itu, membalas tatapan Syane tanpa takut. “Aku sudah selesai. Aku pergi dulu.” Syane beranjak. Namun baru dua langkah, ia terhenti. “Kau persis seperti ibumu. Tidak tahu diri dan kurang ajar.” Tangan Syane mengepal kuat. tapi pada akhirnya Syane tak mengatakan apa pun dan pergi begitu saja. tubuh tingginya melangkah besar meninggalkan ruang makan. Di depan pintu langkah Syane kembali terhenti. Seseorang yang baru datang menarik tipis sudut bibirnya. “Syane Raveyr. Lama tidak bertemu.” Syane jelas sedang dalam amarah besar dan ia tidak dalam mood untuk berbasa-basi. Tanpa menjawab sapaan, Syane melanjutkan langkahnya. Orang yang menyapa Syane, yang tak lain adalah Rafael Jovic, sama sekali tidak telrihat tersinggung. Ia bahkan masih sempat memandangi Syane masuk ke dalam mobilnya, sampai mobil itu melanju kencang meninggalkan kediaman. “Itu Syane?” tanya Yerika, sang istri. Rafael mengangguk. “Anak dan Ibu sama persis,” cibirnya. “Dia terlihat sedikit berbeda,” ucap Yerika lagi. Rasanya baru 2 tahun Yerika tak melihat Syane, tapi pria itu terlihat cukup asing. “Tapi ada urusan apa dia ke sini?” tanya wanita itu lagi. Yerika terlihat sedikit khawatir. Sebab ia tahu betul bahwa suaminya tidak pernah akur dengan Syane. Rafael mengendikkan bahunya. “Entahlah. Paling hanya mencari masalah.” Mereka melanjutkan langkah dan tak membicarakan Syane lagi. … “Aku akan urus. Aku usahakan mendapat informasi secepatnya. Tapi apa kau yakin tidak ingin memberitahu Bos?” Ryenata gelengkan kepalanya. Saat ini ada banyak hal yang ia pikirkan dan mengusik sang Bos adalah hal terakhir yang ingin Ryenata lakukan. Ryenata tak ingin menambah masalah baru. “Mau ke mana?” pandangan Alda tak beranjak dari sosok wanita yang sudah bersama dengannya selama beberapa tahun itu. Sudah tak terhitung berapa banyak masalah dan tantangan yang mereka hadapi bersama. Di antara semua orang, mungkin Alda adalah orang yang paling tahu bagaimana ambisi di dalam diri Ryenata. “Aku ada urusan. Aku mungkin tidak akan kembali.” Jaket sudah selesai Ryenata kenakan. Gadis itu terlihat mencari-cari sesuatu. “Mencari apa?” “Oh?” Ryenata sepertinya tidak menemukan apa yang ia cari. “Bukan apa-apa. aku pergi dulu. segera kabari kalau kau menemukan sesuatu?” Ryenata sudah bersiap melangkah pergi, namun langkahnya terhenti. Gadis itu berbalik. “Ah iya,” ia menjeda, seperti tengah berpikir. “Hm sudahlah. Aku pergi dulu.” pada akhirnya Ryenata pergi begitu saja, dengan kalimat yang menggantung. Kepala Alda tampak menggeleng beberapa kali. “Ryenata.. Ryenata..” gumamnya. Sesaat kemudian, Alda sudah tenggelam dalam pekerjaannya. … Suara bising memenuhi ruangan. Musik menggema dan semua orang tampak asyik berjoget. Di satu sisi, seperti biasa Ryenata duduk dengan minumannya. Ia sama sekali tak terusik oleh bisingnya musik di dalam kelab. Beberapa orang sempat datang menyapa, mencoba mengajak Ryenata berkenalan. Tapi gadis itu menolak bahkan tanpa berpikir. “Bos..” Reflek Ryenata menoleh. Manik matanya bertemu dengan manik terang milik Syane. Mereka bertemu lagi. Apakah sebuah kebetulan bisa terjadi sesering ini? Tapi tidak seperti biasanya. Kali ini Syane tak menyapa Ryenata. Dalam jarak cukup dekat, Ryenata pun bisa mencium aroma alkohol cukup kuat dari pria bertubuh jangkung itu. Dilihat sekilas pun Syane terlihat agak mabuk. Syane menarik napas dalam, mengatakan sesuatu pada bartender, kemudian melangkah pergi begitu saja. Ryenata tentu saja tak peduli. Namun, nyatanya ia sedikit terusik. Tanpa sadar Ryenata memutar kepalanya, mengikuti arah Syane pergi. Ia masih sempat melihat punggung pria itu sebelum hilang dalam kerumunan. … Ryenata bersiap membuka kunci mobilnya saat matanya menangkap sosok Syane di dalam mobil pria itu, yang kebetulan terparkir di belakang mobilnya. Ryenata sedikit menyipitkan matanya untuk melihat Syane lebih jelas. Ya, pria itu ada di dalam mobilnya, sepertinya tengah tidur sebab tak terlihat ada pergerakan. Di satu sisi, Ryenata ingin mengabaikan, namun di sisi lain seperti ada yang mendorongnya untuk mendekati mobil Syane. Kaca mobil Syane perlahan terbuka setelah Ryenata mengetuk tiga kali. manik milik dua orang itu bertemu. Mata yang biasa tampak tajam dan pekat, malam ini terlihat begitu sayu. Ternyata Tuhan memang punya hamba favoritnya. Sebab pahatan pada wajah Syane benar-benar menunjukkan bagaimana Tuhan menciptakannya dengan begitu sempurna. “Nona Ryenata, apa kau menguntitku?” sebuah pertanyaan konyol yang dilayangkan dengan nada candaan. “Kau mabuk berat. Apa kau ingin mengemudi sendiri? itu bahaya.” Sudut bibir Syane tertarik sedikit membentuk sebuah seringai manis. “Apa kau sedang mengkhawatirkanku?” “Aku mengkhawatirkan orang di jalan yang mungkin akan tertabrak mobilmu.” “Ah, kau mematahkan hatiku..” Ryenata memutar bola matanya. “Aku serius Tuan Syane. Sebaiknya kau telfon pengemudi bayaran, atau telfon asistenmu.” “Aku tidak punya asisten dan aku tidak tahu bagaimana cara menghubungi pengemudi bayaran.” Pernyataan yang terdengar seperti sebuah omong kosong di telinga Ryenata. “Lihat, ponselku mati,” ucap Syane lagi menunjukkan layar ponselnya. Ryenata reflek menghela napasnya. Ia benar-benar merasa seperti sedang dipermainkan. Syane jelas bukan seorang amatiran. Ryenata tak mau terjebak dalam permainan pria itu—entah apa pun. “Aku bantu kau menelfon.” Ryenata bersiap menghubungi seseorang. Namun saat ponselnya hampir mencapai telinga, pergelangan tangannya dicekngram oleh jari-jari besar dan panjang milik Syane. “Kenapa bukan kau saja? Katakan saja harganya, aku akan bayar kau dengan harga yang pantas.” Pria itu sunggingkan senyum tanpa dosa. “Aku ada urusan, tidak punya cukup waktu untuk mengantarmu.” “Hmm sayang sekali..” Syane menghela napas panjang dengan nada sedih yang terdengar seperti dibuat-buat dan dilebih-lebihkan. “Sebentar lagi supirnya akan datang. Tunggu saja di sini.” Ryenata menarik tangannya kemudian meninggalkan Syane. Pria itu memandangi sampai Ryenata masuk ke dalam mobil. sebuah senyuman tipis menemani di bibir indahnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN