BAB 13: Gema di Ruang Hampa
Ruangan itu mendadak sunyi, hanya menyisakan suara napas berat mereka yang beradu dengan dentuman jantung Sarah yang berpacu liar. Di tangannya, logam dingin pistol perak itu terasa seperti beban yang siap meremukkan tulang-tulangnya. Di depan matanya, ayahnya—pria yang selama ini ia sebut 'Ayah'—menunggu ajal dengan tatapan yang tenang, seolah telah lama menantikan detik ini.
"Sarah, dengarkan aku," suara pria itu memecah kesunyian, lebih tenang daripada yang seharusnya. "Apapun yang dia katakan, jangan ikuti permainan darahnya. Kau lebih dari sekadar kunci untuk harta mereka."
Maksimov mendekat ke telinga Sarah dari belakang, cengkeramannya pada tangan Sarah membuat buku jari gadis itu memutih. "Dia masih mencoba memanipulasimu, Ptichka. Dia ingin kau mati sebagai martir bagi rahasianya. Tembak dia, dan kau akan bebas. Kita akan meninggalkan tempat ini, membakar semua arsip klan, dan memulai hidup baru di mana tidak ada lagi klan yang memburumu."
Itu adalah janji yang begitu manis, namun Sarah tahu itu adalah racun. Jika ia menembak ayahnya, ia tidak akan pernah benar-benar bebas dari Maksimov. Ia hanya akan menjadi monster yang sama dengannya.
"Kau bilang kau butuh pewaris," suara Sarah tiba-tiba mengeras, dingin dan datar. Ia memutar tubuhnya sedikit, mengalihkan moncong pistol itu dari ayahnya dan mengarahkannya tepat ke d**a Maksimov.
Maksimov terpaku. Ia tidak mundur, justru ia tersenyum tipis, sebuah senyuman yang penuh dengan kekaguman yang gelap. "Itu dia. Akhirnya kau menunjukkan taringmu."
"Aku tidak akan membunuh ayahku untuk memuaskan obsesimu," ujar Sarah, tangannya kini stabil meski ia tengah gemetar hebat. "Dan aku tidak akan menjadi bidak bagi siapapun lagi. Jika kau menginginkan keturunan yang menyatukan darah klan Volkov dengan rahasia ini, kau harus menghadapiku sendiri."
"Sarah, jangan lakukan itu!" teriak ayahnya dari kursi besi.
Namun, sebelum ketegangan itu meledak menjadi tragedi, alarm bunker meraung nyaring. Lampu ruangan berubah dari putih menjadi merah berkedip-kedip, menandakan breach atau pembobolan keamanan tingkat tinggi. Pintu baja bunker yang tadi tertutup rapat tiba-tiba meledak dari luar, mengirimkan serpihan logam tajam ke segala arah.
Asap tebal memenuhi ruangan dalam hitungan detik. Dari balik kabut asap, sekelompok pria bersenjata dengan seragam yang tidak dikenal—bukan anak buah Maksimov, bukan pula musuh dari klan Petrov—mulai merangsek masuk dengan taktik militer yang sangat presisi.
"Target terkonfirmasi," suara dari balik komunikasi radio salah satu penyusup terdengar dingin. "Amankan subjek perempuan. Eksekusi sisanya."
Maksimov dengan cepat menepis tangan Sarah, menariknya ke balik pilar beton untuk melindunginya dari rentetan peluru yang mulai menghujani ruangan. "Sial! Mereka bukan dari klan manapun di Rusia," umpat Maksimov, matanya berkilat penuh kewaspadaan.
Dalam kekacauan itu, Sarah melihat ayahnya berhasil melepaskan satu tangannya dari ikatan. Ia sadar, serangan ini bukan ditujukan untuk menyelamatkan Sarah atau ayahnya, melainkan untuk melenyapkan semua bukti yang ada di dalam bunker ini—termasuk Maksimov dan dirinya sendiri.
"Siapa mereka?" tanya Sarah di sela-sela suara peluru yang memekakkan telinga.
Maksimov menoleh pada Sarah, wajahnya tampak lebih serius daripada sebelumnya. "Mereka adalah pembersih. Mereka bekerja untuk pihak yang selama ini berada di balik bayang-bayang kedua klan kita. Mereka ingin rahasia ibuku dan identitasmu terkubur di bunker ini selamanya."
Di dalam bunker yang seharusnya menjadi benteng paling tak tertembus di Rusia, Maksimov tampak murka. Baginya, serangan ini bukan sekadar ancaman fisik; ini adalah penghinaan total terhadap kedaulatan yang ia bangun dengan darah selama bertahun-tahun.
"Mereka berani menginjak tanahku?" desis Maksimov. Matanya berubah menjadi kelabu gelap, bukan karena takut, melainkan karena naluri predatornya yang sepenuhnya bangkit.
Ia berdiri tegak di tengah hujan peluru, tidak sedikit pun terlihat gentar. Dengan satu gerakan cepat, ia menekan tombol tersembunyi di dinding pilar. Tiba-tiba, suara mekanik berat terdengar dari bawah lantai.
Dinding bunker yang tadinya terlihat permanen mulai bergerak, membuka ruang-ruang tersembunyi yang berisi persenjataan berat dan sistem pertahanan otomatis yang tidak diketahui siapapun—bahkan oleh para penyusup.
"Dengar," perintah Maksimov kepada Sarah, suaranya kini penuh otoritas mutlak. "Di sini, akulah hukumnya. Tidak ada satu pun tikus yang bisa masuk tanpa izin dariku."
Ia menekan remote di pergelangan tangannya. Dalam sekejap, lorong-lorong bunker yang tadinya gelap berubah menjadi zona mematikan dengan laser pertahanan dan turret otomatis yang muncul dari langit-langit. Para penyusup yang tadi tampak dominan kini terjepit dalam jebakan maut yang dirancang khusus untuk memusnahkan siapa saja yang tidak memiliki akses biometrik klan Volkov.
Sarah menyaksikan dengan ngeri sekaligus takjub. Ia baru menyadari bahwa Maksimov selama ini bermain dengan tangan kosong, namun sekarang, saat ia benar-benar mengeluarkan kekuasaannya, bunker ini berubah menjadi mesin pembunuh raksasa.
Ayah Sarah, yang berhasil melepaskan ikatannya, berteriak dari seberang ruangan di tengah suara ledakan otomatis, "Jangan tertipu oleh kekuatannya, Sarah! Dia sedang mengaktifkan sistem penghancur diri! Dia lebih memilih membakar semuanya daripada membiarkan rahasia itu jatuh ke tangan pihak ketiga!"
Maksimov mengabaikan teriakan itu. Ia menarik Sarah mendekat, memeluknya dengan satu tangan sementara tangan lainnya mengarahkan senjata sub-machine gun canggih ke arah musuh yang tersisa. "Kita tidak akan mati di sini, Sarah. Tapi aku tidak akan membiarkan satu pun orang yang tahu tentang identitasmu keluar dari bunker ini dalam keadaan hidup."
Maksimov bergerak dengan kecepatan yang tidak manusiawi, menghabisi setiap penyusup dengan presisi seorang eksekutor. Namun, saat ia melangkah maju, sebuah ledakan dari granat musuh membuat pilar di dekat mereka runtuh. Maksimov mendorong Sarah ke balik lemari besi berat tepat sebelum beton setebal satu meter menimpa mereka.
Sarah tersungkur, debu memenuhi paru-parunya. Ia mendengar suara desisan besi yang retak. Maksimov terjerembab di atasnya, bahunya tertusuk pipa logam yang tajam akibat reruntuhan. Darah segar membasahi pakaian Sarah.
"Maksimov!" teriak Sarah, ketakutan yang ia rasakan pada pria itu kini bercampur dengan rasa panik yang nyata.
Maksimov terbatuk, darah mengalir di sudut bibirnya, namun ia masih sempat menyeringai. "Jangan khawatir... aku tidak akan mati semudah ini. Tapi dengar... rahasia itu... ada di balik dinding di belakangmu. Ambil itu... jika kau ingin tahu segalanya."
Maksimov memberikan satu kunci akses kristal kecil yang ia ambil dari sakunya. Itu adalah kunci akses fisik untuk Database utama klan Volkov yang tersimpan di balik tembok bunker.