Suara dentuman kaca yang pecah dan teriakan para tamu elit menghilang seketika, berganti dengan suara desingan peluru yang membelah udara. Dalam kegelapan total, Sarah hanya bisa merasakan cengkeraman tangan Maksimov yang kuat pada pergelangan tangannya. Pria itu bergerak dengan insting predator yang terlatih, menarik Sarah menjauh dari lantai dansa yang kini berubah menjadi medan tempur.
"Tetap di belakangku, jangan lepaskan!" suara Maksimov terdengar rendah dan berwibawa di tengah kekacauan.
Duar! Sebuah granat cahaya meledak di sisi ruangan, membutakan siapa pun yang melihatnya. Dalam sepersekian detik itu, sebuah hantaman keras memisahkan mereka. Para pengawal berbaju hitam dari klan musuh menyergap, menciptakan barikade manusia antara Sarah dan Maksimov. Sarah terdorong ke arah koridor samping, terseret arus manusia yang panik berlarian menuju pintu keluar darurat.
"Maksimov!" teriak Sarah, suaranya tenggelam oleh suara tembakan yang menggelegar.
Ia tidak bisa melihat apa-apa selain siluet pria-pria bersenjata yang saling melepaskan tembakan di tengah ruangan. Dalam kepanikan, Sarah tersudut ke arah lift barang yang pintunya sedikit terbuka. Ia menyelinap masuk, menekan tombol lantai paling bawah—gudang bawah tanah—berharap bisa bersembunyi di tempat yang paling tidak terduga.
Pintu lift tertutup tepat saat bayangan seseorang hendak menggapainya. Sarah terengah-engah di sudut lift yang sempit, hatinya berdegup kencang hingga menyakitkan. Saat lift berdenting dan terbuka, ia segera berlari masuk ke labirin lorong bawah tanah Volkov Tower. Tempat ini dingin, pengap, dan dipenuhi oleh kotak-kotak peti besi yang berisi dokumen serta aset berharga klan.
Namun, saat ia melangkah lebih dalam ke kegelapan, ia melihat sesuatu yang membuatnya membeku.
Di depan sebuah meja besi, berdiri dua orang yang sedang berbicara dengan nada rendah. Salah satunya adalah Viktor Volkov. Dan yang lainnya... adalah seorang pria yang pernah ia lihat di masa kecilnya di Indonesia. Pria itu memegang sebuah dokumen yang ditandai dengan segel resmi klan Volkov dan logo sebuah organisasi rahasia dari Indonesia yang selama ini Sarah kira hanya mitos.
"Dia sudah di sini," suara pria Indonesia itu terdengar jelas, dingin dan tajam. "Putri dari keluarga yang kita incar itu sudah ada di dalam genggaman Volkov. Ini kesempatan sempurna untuk menghancurkan keduanya sekaligus."
"Maksimov terlalu obsesif pada gadis itu," jawab Viktor dengan nada mencemooh. "Dia tidak sadar bahwa gadis itu adalah pion yang sengaja dikirimkan untuk menghancurkan klannya dari dalam."
Dunia Sarah seolah runtuh. Ia tidak hanya diculik karena ketidaksengajaan di Cappadocia. Ia adalah bagian dari rencana besar yang sudah disusun jauh sebelum ia menginjakkan kaki di Turki. Ia bukan sekadar "Nyonya Volkov", melainkan sebuah target yang sengaja ditempatkan di jantung kekuasaan musuh terbesar ayahnya.
Sarah menutup mulutnya dengan tangan, berusaha meredam isak tangis yang tertahan. Jika dia adalah pion, maka Maksimov hanyalah alat untuk membawa pion itu ke sasaran yang tepat.
Tiba-tiba, suara langkah kaki sepatu bot terdengar mendekat ke arah tempat persembunyiannya. Cahaya senter mulai menyisir sudut-sudut lorong, semakin dekat ke tempat Sarah meringkuk di balik tumpukan peti.
"Aku tahu kau di sini, Gadis Kecil," suara Viktor menggema, penuh ancaman. "Keluar, atau aku akan membakar seluruh gudang ini bersamamu di dalamnya."
Cahaya senter menyapu tumpukan peti besi, semakin mendekat ke titik tempat Sarah bersembunyi. Jantung Sarah berdegup begitu kencang hingga ia takut suara detaknya akan menuntun langkah Viktor. Ia menggigit bibir bawahnya hingga terasa anyir darah, berupaya menahan napas agar tidak terdengar di tengah kesunyian gudang bawah tanah yang mencekam.
"Tunjukkan dirimu, Nyonya Volkov," ejek Viktor. Langkahnya kini berhenti tepat di balik peti tempat Sarah meringkuk. "Kau pikir Maksimov akan datang menyelamatkanmu? Dia sedang sibuk membersihkan kekacauan yang kubuat di aula lantai atas. Dia tidak akan pernah tahu kalau istrinya yang berharga ini sebenarnya adalah alat penghancur yang disusupkan oleh musuh-musuhku sendiri dari Timur."
Sarah memejamkan mata erat-erat. Kata-kata Viktor itu menghantamnya lebih keras daripada peluru mana pun. Alat penghancur? Apakah ayahnya di Indonesia tahu soal ini? Apakah selama ini ia hanyalah bidak catur yang digerakkan oleh orang-orang yang tidak pernah ia duga?
Tiba-tiba, suara dentuman keras terdengar dari arah pintu gudang. Pintu besi tebal itu terlepas dari engselnya, terpental menghantam dinding dengan suara memekakkan telinga.
"Jauhkan tangan kotormu darinya, Paman."
Suara itu dingin, datar, dan mematikan. Itu suara Maksimov.
Cahaya senter Viktor seketika beralih ke arah pintu. Di sana, Maksimov berdiri dengan satu tangan memegang pistol Silencer yang masih berasap, dan tangan lainnya memegang radio komunikasi. Ia tidak sendirian; lusinan anak buah setianya telah mengepung gudang itu, menyegel setiap jalan keluar.
"Kau berani mengancam milikku di dalam rumahku sendiri?" tanya Maksimov sambil melangkah masuk, tidak mempedulikan peluru-peluru yang mungkin masih mengintai di kegelapan.
Viktor tertawa sumbang, namun suaranya bergetar. "Kau pikir kau menang, Maksimov? Coba tanya istrimu itu. Siapa sebenarnya yang mengirimnya ke Turki? Siapa yang merencanakan agar dia berada di tempat yang tepat pada saat yang tepat untuk melihat eksekusimu? Dia bukan korban, dia adalah jebakan!"
Maksimov tidak menoleh ke arah peti tempat Sarah bersembunyi. Ia terus menatap Viktor dengan tatapan yang mampu membekukan sumsum tulang. "Apa pun latar belakangnya, apa pun rencanamu, dia adalah milikku. Aku tidak peduli apakah dia penyusup atau bukan. Jika dia adalah bom, maka aku akan menjadi orang pertama yang meledak bersamanya."
Sarah akhirnya memberanikan diri keluar dari balik peti. Ia melangkah keluar dengan gemetar, sosoknya yang kecil tampak rapuh di antara dua pria yang saling mengincar nyawa.
"Aku tidak tahu apa-apa, Maksimov!" teriak Sarah dengan suara yang pecah. "Aku tidak tahu soal rencana ini!"
Maksimov akhirnya menoleh. Matanya yang abu-abu menatap Sarah dalam, seolah sedang mencari kejujuran di balik cadar itu. Detik berikutnya, Maksimov mengabaikan Viktor dan berlari menuju Sarah, menyambar pinggang gadis itu dan menariknya ke balik perlindungannya.
"Aku tahu," bisik Maksimov, suaranya kini terdengar berbeda—lebih lembut namun tetap penuh obsesi. "Aku tahu kau tidak tahu apa-apa. Karena jika kau tahu, kau pasti sudah membunuhku saat aku tidur."
Viktor memanfaatkan kelengahan Maksimov dan segera menarik pelatuk pistolnya ke arah mereka. Namun, Maksimov lebih cepat. Tanpa menoleh, ia melepaskan tembakan presisi ke arah tangan Viktor, membuat pistol pria tua itu terlempar jauh.
"Bawa dia ke ruang interogasi bawah tanah," perintah Maksimov pada anak buahnya dengan nada datar. "Dan pastikan dia tidak mati sebelum aku mendapatkan semua nama orang-orang dari Indonesia yang terlibat dalam rencana kotor ini."
Saat anak buah Maksimov menyeret Viktor yang masih meronta, Maksimov menarik Sarah semakin erat ke pelukannya. Ia menempelkan dahinya ke dahi Sarah, napas mereka beradu di tengah aroma mesiu dan dinginnya gudang bawah tanah.
"Kau terluka?" tanya Maksimov, tangannya meraba wajah Sarah dengan posesif yang tak masuk akal.
"Aku... aku tidak apa-apa," jawab Sarah lirih.
"Bagus," desis Maksimov. "Karena mulai detik ini, kau tidak akan pernah lepas dari pandanganku. Bahkan untuk satu detik pun. Kita akan mencari tahu siapa yang memainkanku, dan aku berjanji, dunia mereka akan runtuh sebelum mereka sempat menarik napas berikutnya."