Prolog

430 Kata
Sepuluh tahun yang lalu Namanya Gembira. Orang-orang terdekatnya memanggilnya Ira, gadis cilik yang masih duduk di bangku sekolah dasar. Wajahnya kuyu, maniknya memerah serta membengkak karena terlalu panjang ia menangis. Pada bagian kening, masih terdapat perban untuk menutup luka yang ia peroleh saat mobil yang ia tumpangi bersama keluarganya tiba-tiba terbalik di jalan raya. Gembira masih menganggap kecelakaan yang dialaminya hanyalah mimpi belaka. Kecelakaan yang secara kejam merenggut Mama Ayuni dan Papa Reyhan dari sisinya. Baru seminggu yang lalu Gembira merasakan memiliki keluarga utuh. Bahagia melingkupi hati ketika sang mama bersanding di depan penghulu dengan calon ayah barunya. Senyum tulus penuh suka cita dari anak berusia sembilan tahun itu terpancar saat menyaksikan sang mama yang dicintainya akhirnya menikah lagi. Setelah bertahun-tahun merawatnya hanya seorang diri. Gembira tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi dengan keluarganya. Yang Gembira tahu, ia dibesarkan hanya oleh sang mama, tanpa tahu bagaimana kasih sayang dari sosok ayah kandungnya. Hanya potret hitam putih sebagai pengingat jika ayahnya bermata sipit. Gembira masih terpekur beberapa lamanya. Menggenggam tanah merah basah sebagai bentuk protesnya pada Tuhan yang menurutnya tak adil. Satu-satunya keluarga yang dimiliki harus pergi untuk selamanya. Mama Ayuni .... Bibir mungil pucat Gembira menggumamkan nama sang mama dengan rintih. Air matanya menganak sungai. Membuat d**a ringkih tercekat sesak tak berperi. Hidup bahagia yang ia impikan lenyap, terenggut badai bernama kematian. "Sudah dulu nangisnya. Ayo kita pulang." Suara pemuda tanggung seketika menghentikan tangis Gembira. Gembira menoleh, mendongak, demi mendapati pemuda yang berdiri persis di belakangnya dengan wajah minim ekspresi. Takut-takut Gembira mengatur napas yang tersendat. Maniknya menatap manik pemuda berahang keras tersebut. "Kakak ...." hanya satu kata itu yang akhirnya terucap dari bibir Gembira. "Kalau kamu masih ingin di sini, tidak apa-apa. Tapi aku akan pulang,” kata pemuda itu lagi, terkesan acuh tak acuh. Gembira segera beranjak dari posisi bersimpuhnya yang entah sudah berapa lama ia lakukan. Seminggu mengenal kakak tirinya, membuat Gembira cukup paham bagaimana sikap pemuda berkemeja gelap tersebut. Jarang tersenyum dan hanya berbicara seperlunya. Jarak usia mereka yang terpaut cukup jauh membuat Gembira merasakan ketakutan tersendiri. Terlebih dengan tatapan datar pemuda di depannya itu. "Ira ikut pulang, Kak." Suara Gembira tak lebih dari bunyi cicitan anak burung. Tanpa menjawab, pemuda yang sejak tadi menatap Gembira acuh tak acuh itu berbalik dan berjalan dengan langkah lebar. Mendahului langkah gadis kecil yang mengekorinya dengan langkah tergesa. Siapa sangka, di satu dekade berikutnya mereka terlibat dalam satu permasalahan rumit yang membuat sang pemuda begitu membenci Gembira. Namun akankah pemuda itu akan membenci Gembira selamanya? Jika sudah mengetahui sebuah fakta yang sengaja ditutup rapat Gembira, demi melindungi perasaan seseorang?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN