Seluruh manusia yang baru dibangkitkan berjalan bersama - sama, lalu shaft pertama terhenti didepan Altar yang sangat besar. Rupanya itu adalah tempat yang dipersiapkan untuk persidangan manusia dipadang Mahsyar. Tepat ditengah - tengah tabir yang nenjulang tinggi ke langit itu ada sebuah timbangan super besar yang berdiri tanpa penyangga maupun penopang. Ditengah kegelisahan para manusia dipadang Mahsyar itu terdengar suara lagi :
" WAHAI MANUSIA SEKALIAN, AKULAH ALLAH TUHANMU, SAAT INI KALIAN BELUM SANGGUP UNTUK MELIHATKU, DARI BALIK TABIR INILAH, AKU AKAN MENGHISAB ( MENGHITUNG ) SEMUA AMAL PERBUATANMU "
Tabir pada altar itu berkilauan sinar, dan seluruh manusia telah berkumpul didepannya bersiap untuk menjalani proses perhitungan apapun amal perbuatan yang pernah dilakukan ketika hidup didunia. Ketika itu, manusia satu dengan yang lainnya yang berdiri di pasang Mahsyar berjarak hanya satu depa. Sutejo adalah salah satu diantara milyaran manusia yang berdiri dipadang Mahsyar. Ketika manusia berjalan menuju altar persidangan, terjadi fenomena tak lazim. Beruntung Sutejo tak mengalami perubahan fisik apapun, namun ia melihat disebelah kirinya orang yang berjalan dengan kondisi terbalik, sebelah kanannya seluruh badannya utuh, namun mukanya hanya tulang tengkorak tanpa ada daging secuil pun. Didepannya orang dengan tubuh bercahaya. Ada yang tenggelam oleh keringatnya sendiri, dan masih banyak lagi kondisinya.
Sekarang posisi Sutejo telah bergeser dekat dengan altar, sehingga dapat melihat proses orang - oramg yang sedang menjalani persidangan di padang Mahsyar. Setiap seseorang selesai menjalani proses persidangan, selalu ada peristiwa bergeraknya timbangan ke salah satu sisi kiri atau ke kanan. Setelah itu, orang tersebut diberikan buku. Ada yang diberikan buku berwarna putih cemerlang, ada juga yang berwarna hitam kusam. Pemberian buku ada yang diberikan dengan ucapan penghormatan ada yang diberikan dengan cara dilemparkan sampai mengenai punggungnya.
Kini tiba giliran Sutejo untuk menjalani sidang dan proses perhitungan amal ( Yaumul hisab ). Dengan kawalan dua malaikat, Sutejo menuju altar kemudian didudukan secara bersimpuh didepan tabir. Terdengar suara dibalik tabir yang tinggi menjulang dihadapannya.
" APAKAH KAMU MASIH MENGENAL SIAPAKAH DIRIMU ? '
" Ya, nama saya Sutejo bin fulan, hidup didunia selama 68 tahun, sebagian dari generasi akhir zaman umatnya nabi Muhammad Saw.' jawab Sutejo dengan suara lirih bibir bergetar.
" APAKAH KETIKA DIDUNIA KAMU MENGIMANI HARI PERGITUNGAN YANG TELAH DIBERITAKAN MELALUI FIRMAN - FIRMANKU ? "
" Betul, saya yakin akan terjadinya Yaumul hisab " jawab Sutejo, tanpa sanggup untuk mengangkat wajahnya.
" KARENA PERBUATAN YANG DILAKUKAN MANUSIA DILAKUKAN DENGAN ANGGOTA TUBUHNYA, MAKA DALAM SIDANG INI, ANGGOTA TUBUHMU SENDIRILAH YANG AKAN BERBICARA MENJADI SAKSI"
" KEMUDIAN AMAL BAIK SERTA AMAL BURUKMU AKAN DITIMBANG PADA TIMBANGAN AMAL ATAU MIZAN YANG TELAH DISEDIAKAN "
" AKHIR SIDANG ADA KITAB YANG AKAN DIBERIKAN, KITAB ITU ADALAH KESIMPULAN ATAS MANUSIA MACAM APA KAMU ITU "
" JIKA DIBERIKAN KITAB ILLIYYIN, MAKA KAMU TERMASUK MANUSIA YANG BAIK DAN BERUNTUNG, JIKA KITAB SIJJIN YANG DIBERIKAN MAKA KAMU TERMASUK MANUSIA YANG BURUK DAN CELAKA."
Setelah dijelaskan cara perhitungan dan prosesnya, pak Tejo diperlihatkan segala perbuatan yang dilakukan didunia, sejak masa baliq hingga detik terakhir kematiannya. Rekanan yang diperlihatkan begitu detail lengkap dengan data waktu dan lokasinya. Pak Tejo tak dapat mengelak apapun yg telah diperbuatnya didunia, ditambah dengan kesaksian atas tangan , kaki dan mata yang membenarkan semua kronologi yang ada.
Kini tibalah saat penimbangan amal dengan mizan, antara bobot kebaikan dengan bobot keburukan yang dilakukan oleh Sutejo.
Kitab illiyyin yang diperlihatkan kepada Sutejo tak terlalu tebal, hal itu karena selisih kelebihan berat antara timbangan kebaikan tak terlalu banyak dibandingkan dengan berat timbangan keburukan. Namun hal itu sudah membuat lega hati pak Tejo sebagai bekal untuk tahap berikutnya. Malaikat yang akan memberikan kitab kepada Sutejo memberi penjelasan tentang kitab - kitab tersebut.
" Kitab Illiyyin untuk kaum muslim dan kitab Sijin bagi kaum kafir, ketebalan dan cara menerimanya ada beragam jenis, semua tergantung dari kwalitas hidup manusia itu ketika didunia."
" Tebal & indahnya kitab ilIlliyin tergantung banyaknya amal kebaikan seseorang berupa iman, muamalah dan ibadahnya."
" Cara diberikan dan menerimanya kitab Illiyyin, paling sederhana diberikan melalui Malaikat dan diterima pemiliknya dgn tangan kanan, cara terbaik adalah diberikan kepada pemiliknya dengan hantaran nampan dari surga berbalut sutra dengan diiringi ribuan Malaikat."
" Sedangkan kitab Sijjin diberikan kepada manusia yang memilih jalan yang sesat ketika didunia, ketebalannya sesuai dengan dosa - dosa yang pernah diperbuat "
" Kitab Sijjin diterima dengan tangan kiri oleh pemiliknya. Diberikan dengan cara dilemparkan secara hina bahkan ada yang dilemparkan pada punggungnya, hingga orang tsb jatuh tersungkur.
" Mudah - mudahan dengan kitab yang sudah kau terima itu, akan mempermudah dirimu dlm menghadapi rintangan besar selanjutnya" Malaikat pemberi kitab Illiyyin menutup penjelasannya. Kemudian diberikan kepada Sutejo yang diterima oleh tangan kanannya.
" Saya menerima kirab Illiyyin ini dengan ridho sebagaimana Allah SWT, yang telah memutuskan dengan cermat dan adil sesuai dengan kenyataan pada diri saya sebenarnya." Ucap Sutejo ketika kitab itu telah diserahkan.
Timbangan Mizan telah ditegakkan antara langit dan bumi. Ukurannya yang sangat besar terlihat dari ujung timur hingga ujung barat. Jantung pak Tejo berdegup kencang ketika amal kebaikan dan keburukan hidupnya akan ditimbang. Semua jenis amal keburukan Sutejo diperlihatkan, maka yang ada adalah gundukan hitam seperti gunung - gunung yg saling bertumpukan. Gundukan hitam itu kemudian melayang terangkat menuju arah Mizan yang siap menampung seberapapun besar amal kebaikan seseorang. Kemudian amal keburukan mengisi lebih dahulu anak timbangan Mizan sebelah kiri. Sementara anak timbangan sebelah kanan masih kosong, membuat timbangan Mizan jomplang ke kiri. Kini giliran amal kebaikan Sutejo diperlihatkan.
Amal kebaikan yang pertama dihisab adalah " sholat", jika sholat seseorang itu baik, dijamin apapun amal lainnya akan baik pula. Sebaik - baik sholat adalah sholatnya para nabi, waliyullah dan orang2 Sholeh serta para ulama.
" INILAH AMAL SHOLAT DAN RITUAL SYARI'AT ISLAM YANG PERNAH KAU LAKUKAN "
Terlihat bola emas sebesar stadion lapangan bola dihadapan Sutejo, lalu bergerak melayang dan mengisi Mizan sebelah kanan. Mizan tak bergerak, anak timbangan masih berat sebelah kiri. Lalu dilanjutkan dengan penimbangan amal lainnya.
" INILAH AHLAKMU YANG TERDIRI DARI, KEJUJURAN, TATA KRAMA DAN SIKAPMU TERHADAP MANUSIA LAIN, BINATANG SERTA LINGKUNGAN SEKITARMU "
Maka terlihatlah bola perak sebesar gunung Bromo, dan mengisi timbangan kebaikan. Dengan tambahan itu, terlihat anak timbangan kebaikan sedikit terangkat.
" INILAH AMAL SEDEKAH DAN AMAL JARIYAHMU"
Terlihat bola kristal, awalnya sebesar bukit, namun berkembang dan terus membesar. Lalu terangkat dan masuk kedalam anak timbangan kebaikan, seketika itu, Mizan terangkat secara signifikan, sehingga posisi antara anak timbangan kebaikan hampir berimbang.
" INILAH ILMUMU YANG BERMANFAAT DIDUNIA "
Terlihat benda seperti bulan purnama, lalu melayang dan mengisi anak timbangan sisi kanan, dan membuat timbangan Mizan menjadi seimbang.
" TERAKHIR, SYAHADAT, ZIKIR , TAHMID DAN TAHLIL SERTA SHOLAWAT YANG PERNAH TERUCAPKAN DAN DIYAKINI DALAM HATI "
Terlihat pemandangan yang menakjubkan, berupa miniatur galaksi Bimasakti dengan sinar - sinar cemerlang. Pak Tejo terpana dengan amal yang diperlihatkan tersebut. Tak lama amal itu segera menuju timbangan Mizan dan mengisi anak timbangan kebaikan. Amal terakhir membuat timbangan kebaikan Sutejo bergerak turun, sehingga posisi terakhir pertimbangan amal pada Mizan adalah, amal kebaikan lebih berat beberapa derajat dari amal keburukan.
Melihat kondisi itu, berbinarlah mata Sutejo dengan raut yang wajah serta perasaan tegangnya mulai mengendur. Dari balik tabir raksasa sudah tak terdengar suara apa - apa. Tak lama kemudian datang menghampiri dua Malaikat.
" Berdirilah, dan lihatlah kitab yang diberikan oleh TUHANMU !"
Sutejo menguatkan diri untuk berdiri dengan mata terpejam. Setelah menguatkan hatinya, berlahan membuka mata untuk melihat kitab apa yang didapatinya. Dihadapan telah berdiri Malaikat siap menyodorkan kitab yang akan diterima. Begitu membuka matanya, terlihat kitab yang disodorkan itu, berwarna putih terang, artinya ia adalah satu diantara manusia lainnya yg menerima kitab ILLIYYIN.
" Pertimbangan amal telah selesai, sekarang saatnya kamu untuk melewati
JEMBATAN SHIRATH"
Kata Malaikat yang memberikan kitab Illiyyin, lalu mengiringi dan mengantar Sutejo menuju suatu tempat.
" SHIRATH, adalah Titian sangat panjang membentang diatas neraka"
" Seseorang yang dapat melewati dan menyebrangi hingga ujungnya, akan selamat dari siksaan neraka, jika tergelincir, tubuhnya akan meluncur langsung menuju neraka" kata Malaikat penjaga / pengiring manusia itu.
" Bagaimanakah manusia akan menyeberanginya ? " Tanya Sutejo.
" Ada yang melesat seperti kilat, berlari, berjalan serta merangkak, semua tergantung kualitas iman, serta amal kebaikan seseorang didunia" sahut dua malaikat pengiringnya.
Masih dalam keadaan tanpa busana, tanpa alas kaki dan belum berkhitan, Sutejo dibariskan lurus di suatu erea yang luas. Kitab Illiyin yang terpegang tangan kanan tiba2 bergetar dan terasa seperti es yang mencair meresap hingga habis masuk ke dalam seluruh tubuhnya. Satu persatu manusia lainnya berusaha melewati Titian tanpa ada pegangan, dan pembatas pada sisi kiri dan kanannya. Waktu berlalu hingga posisi barisan Sutejo, semakin lama semakin maju, lalu akhirnya telapak kakinya telah berdiri dekat sebuah pelataran. Disitu terlihat anak tangga seribu undakan dengan lebar hanya dua telapak kaki.
PENYEBRANGAN PALING MENEGANGKAN
Jalan menuju sebelum sampai ke Titian SHIRATH hanya berupa jalan setapak diapit oleh jurang dalam dikiri dan kanannya, sehingga akan mustahil seseorang dapat lolos melewati jalan selain itu. Seluruh manusia antri dan berjalan secara tertatih - tatih. Kini sampailah pak Tejo dipijakan anak tangga paling dekat dengan jembatan Shirat. Hawa panas dan suara menggelegak mulai terdengar dari tempat tumpuan undakan tangga yang dipijak pak Tejo. Jika Padang Mahsyar kondisinya sangat terang dan menyilaukan mata akibat matahari begitu dekatnya. Kondisi di sekitar Jembatan Shirat gelap gulita tanpa cahaya sedikitpun. Sutejo masih sempat memperhatikan orang - orang yang lebih dahulu melalui Titian tersebut. Terlihat banyak kilatan cahaya yang meluncur sampai menghilang di kejauhan. Pada saat itu juga terdengar suara riuh rendah serta jeritan2 panjang yang menggema diantara tebing jurang Titian Shirat. Antrian terus bergeser hingga akhirnya posisi Sutejo berada di tumpuan pada Titian yang harus diseberangi oleh seluruh manusia dalam proses di alam akherat.
" Hanya sampai disini kami mengiringimu, kalian akan berjalan sendiri - sendiri bergantian ketika menyebrangi jembatan itu" kata Malaikat pengawal Sutejo.
" Sebelum menyerang kamu akan berpijak pada batu hitam yang ada didepan Shirat itu, kau hanya bisa berjalan maju, tak bisa berbalik atau bergeser kesamping. Pijakan itu akan membara dan akan memaksakan kakimu untuk melangkah ke Titian Shirat."
Setelah itu Sutejo dipegang kedua tangannya dan ditarik secara melayang oleh Malaikat pengawal yang ada di sebelah kanan dan kirinya. Kedua malaikat itu lalu meninggalkan Sutejo sendirian berdiri diatas batu tumpuan pada titik penyebarangan Shirat.
Dibelakang Sutejo, masih banyak manusia lainnya yang menunggu antrian untuk menyebrang. Jaraknya terpaut sebuah lembah yang tak mungkin bisa dijangkau, sedangkan didepannya adalah kumpulan manusia yang berusaha melewati Titian Shirat dengan berbagai macam cara. Suasana gelap, diiringi suara ruih rendah menggema serta gemuruh neraka dibawahnya semakin jelas terdengar dengan suasana begitu mengerikan. Rasa takut menyelimuti hati Sutejo, ketika mengalami situasi hebat ini. Pijakan batu mulai terasa hangat, Sutejo masih berusaha menahan langkahnya dengan mengangkat telapak kakinya secara bergantian. Ia mencoba untuk melangkah mundur, atau kesamping, akan tetapi tertahan begitu saja. Batu semakin terasa panas dan warnanya menjadi merah marun. Jika tak segera melangkahkan kaki kedepan, dapat dipastikan seluruh badan Sutejo akan hangus terbakar diatas batu itu. Melihat kondisi yang membahayakan dirinya, Sutejo terpaksa meninggalkan batu pijakan itu dengan memindahkan kakinya tepat didepan jembatan Shirat. Pijakan batu dingin dan berwarna hitam kembali setelah ditinggalkan oleh Sutejo untuk pijakan manusia yg lainnya. Dalam keadaan gelap gulita, tiba -tiba muncul seberkas cahaya menghampirinya. Belum sempat tahu apa yang akan terjadi, cahaya itu bersuara kepada pak Tejo.
" Aku adalah iman milikmu, sebagaimana aku dahulu menerangi kuburmu, kini aku datang memberi penerangan agar kau dapat melihat Titian shirat yang akan kau lewati"
Kemudian sebesar sinar itu merasuk ke tubuh Sutejo, sehingga seluruh tubuh pak Tejo menjadi bercahaya. Dalam ketakjuban yang terjadi atas dirinya, samar - samar terdengar suara temanya dibelakangnya yang masih tertahan di batu tumpuan. :
" Jo,.... Tejo, berikan aku cahayamu, agar aku dapat melihat dalam kegelapan ini"
Cahaya iman yang telah merasuk ke tubuh pak Tejo tadi spontan menjawab melalui mulut pak Tejo,
" Tidak bisa, iman itu milik masing-masing seseorang, kau dahulu beriman kemudian membuang iman itu dan memilih kekafiran., Maka hari ini engkaupun tak memiliki cahaya iman disini."
Ketika akan melangkah ke Titian Shirath datang lelaki tampan dan berkata,
" Lewatilah Titian ini, jangan ragu atau takut, aku akan membantumu, karena ketika didunia engkau telah membaca dan mencoba memahami Alquran serta berusaha untuk mengamalkannya."
1001 RiNTANGAN DIATAS JEMBATAN SHIRATH.
Sutejo memberanikan diri mengamati fisik Titian Shirat dihadapannya. Titian itu terlihat coklat tua, licin mengkilap dengan duri -duri tajam berserakan diatasnya. Terlihat pula rintangan lainnya berupa kait besi membara yang mengayun saling bergantian siap menyambar, ditambah lagi bebatuan bergelindingan siap menghantam orang -orang yang berada diatasnya. Tebal aslinya hanya setipis rambut yang telah terbelah tujuh, tajamnya melebihi mata pedang serta panjangnya seraya perjalanan 300 tahun menggunakan kuda pacu. Secara akal logika hal itu merupakan sebuah perjalanan yang tak mungkin dilakukan oleh siapapun. Hanya iman dan amal kebaikan yang akan memudahkan seseorang ketika melewati Titian Shirrat tsb.
" Dibelakangmu masih banyak manusia yang menunggu segeralah melangkah"
Teguran lelaki jelmaan Al Qur'an itu, membuyarkan perasaan ngeri pada Sutejo
Didepan pak Tejo terlihat dua orang yang mau menyebrang, orang pertama melewatinya dengan tubuhnya bercahaya sambil berlari ringan, sampai tak terlihat oleh lagi. Sedangkan orang kedua terlihat susah payah merangkak, tergelincir namun sempat bergelantungan, tak sampai 1 meter dari langkah awalnya, iapun terlempar kebawah jurang. Dengan gemetaran Sutejo mengawali Langkah kakinya untuk menginjak Titian itu. Ujung jari kakinya dikerutkan untuk menahan agar tidak terpeleset. Pada langkah kedua, sebuah kait besar datang mengayun dari samping kirinya, pak Tejo diperintahkan oleh jelmaan Al Qur'an itu, untuk melompat kedepan. Wuuzzzz kait besar mengayun hanya beberapa inchi melewati punggung pak Tejo. Tak terbayangkan apa jadinya jika dirinya terkena kait itu. Ketika melompat kecil tadi telapak kaki Sutejo menginjak duri -duri yang ada, namun tak sampai melukainya.
" Teruslah berjalan atau berlari, perjalanan ini masih panjang" perintah jelmaan Al Qur'an mengiringi sambil melayang disisi kanan Sutejo.
Langkah kaki pak Tejo dipercepat, sambil mengamati dan menghindar kait dan bantul yang berseliweran didepannya. Terlihat beberapa orang terkena hantaman bantul besar sampai terlempar jauh dari Titian yang disebrangi bersama barisan manusia lainnya. Kali ini sebuah kait besi membara datang dari arah depan. Semakin lama semakin dekat dan semakin kencang menghampirinya. Sutejo tak tahu harus menghindar kemana.
" Bagaimana aku bisa menghindari yang datang dari depan itu ?" Dengan panik Sutejo bertanya kepada jelmaan Al Qur'an.
" ketika sudah mendekat kamu harus tiarap, dengan aba -aba yang akan kuberikan" jawab Jelmaan Al Qur'an.
Sutejo memperlambat langkahnya. Kemudian terdengar teriakan keras dari jelmaan Al Qur'an.
" TIARAP"
Dengan gerakan reflek ia menjatuhkan tubuhnya untuk bertiarap sambil menutup kepala dengan kedua tangannya. Setelah kait raksasa melewatinya, pak Tejo segera berdiri dan melanjutkan dengan berusaha lari sekencang-kencangnya. Langkahnya kembali terhenti ketika melihat bebatuan besar datang dari hadapannya, bebatuan saling menggelinding seolah gunung yang sedang longsor, mengejar dirinya. Seketika itu juga jelmaan Al Qur'an berdiri tepat didepan pak Tejo untuk menghadapi terjangan bebatuan itu. Ajaib bebatuan yang berlaju cepat dan siap menghantam apapun didepannya, lewat menembus badan jelmaan Al Qur'an dan Sutejo tanpa ada guncangan maupun menimbulkan luka sedikitpun. Sedangkan orang - orang dibelakangnya banyak yang terhantam dan terlempar jauh dari Titian Shirat. Perjalanan pak Tejo terus berlanjut dengan rintangan berbeda -beda. Dalam perjalanan itupun singgah di pos pemeriksaan untuk pemastian data orang yang telah sampai dan telah melewati pos lainnya.
Sutejo mulai agak tenang , karena setiap ada rintangan perjalanan diatas Titian Shirath, bacaan Al Qur'an itu mendampinginya, dan selalu menjadi pahlawan penolongnya. Beberapa pos pemeriksaan telah dilalui serta telah diberi ijin melanjutkan perjalanan menuju pos terakhir. Gerbang dari ujung Titian Shirat mulai terlihat. Pandangan mata Sutejo menatap dengan haru, atas pengalaman dan perjuangannya dalam melewati Titian Shirath yang menegangkan.
BERKUMPUL MASSAL DI QANTHARAH
Penyebrangan titian Shirath telah sampai pada titik akhir. Pada pos pemeriksaan terakhir pak Tejo bersama manusia lainnya yang juga berhasil menyebrang Shirath, melakukan registrasi. Setelah disambut dan dicatat oleh malaikat penjaga gerbang akhir Titian Shirath, seluruh manusia diwajibkan masuk pada suatu kotak scanner yg hanya muat oleh seorang manusia guna kelengkapan data administratif. Setiap manusia yang telah berhasil melewati pos registrasi, ketika keluar dari ruang scanning tidak lagi telanjang. Mereka semua telah dikenakan pakaian gamis berwarna putih.
Titian Shirath terbentang dipunggung neraka. Pangkalnya berada di Padang Mahsyar, sedangkan ujung belumlah sampai di surga. Para manusia yang telah berhasil menyebrang Titian Shirath, kini berkumpul semua di suatu tempat bernama " Qantharah ". Dari tempat itulah para calon penghuni surga akan menjalani "QISAS" untuk menyucikan hatinya, dan disitulah tempatnya dihilangkan kedengkian serta rasa dendam antar manusia yang dahulu pernah saling menzalimi didunia. Di tempat inilah orang - orang beriman yang dahulu pernah bertemu didunia dan pernah saling menyakiti akan berpeluk tangisan haru untuk saling memaafkan antara yang satu dengan yang lainnya. Masing - masing bertemu dengan keluarga, kerabat, teman dan seluruh orang yang satu masa kehidupan didunia saling memaafkan dan mencintai seperti mencintai dirinya sendiri.. Qantharah merupakan tempat kembalinya rasa kebersamaan dan saling mengasihi antar umat manusia secara tulus, untuk bersama-sama Dari tempat ini harumnya surga mulai dapat tercium oleh calon penghuninya. Qantharah digambarkan menurut para ulama, sebagai sebuah tempat yang luas dan bersih dengan pantai yang tenang dan sejuk pada sisi kiri dan kanannya.
Setelah seluruh manusia hatinya bersih dari iri dengki serta dendam dan berubah saling mencintai sebagaimana manusia yang saling bersaudara, bau harum surga semakin tercium wangi semerbak seolah merindukan kedatangan para penghuninya. Kemudian semua mendengar suara lembut :
" KALIAN TELAH MENJALANI PROSES BERLIKU UNTUK MENUJU SURGA "
" KINI SAATNYA UNTUK MELAKUKAN PERJALANAN TERAKHIR MENUJU SURGA YANG KALIAN DAMBAKAN DENGAN KENDARAAN YANG TELAH DISEDIAKAN "
Setelah suara lembut yang menggema itu hilang, datang bergelombang - gelombang malaikat dari atas mereka. Kemudian setiap manusia dikelompokkan berdasarkan generasi awal sampai generasi akhir. Kendaraan khusus yang dipergunakan untuk perjalanan menuju surga telah tersedia. Tiap orang secara pribadi mendapatkan satu kendaraan.
" Umat nabi Muhammad Saw, rombongan pertama yang akan diberangkatkan secara serentak " terdengar malaikat koordinator penyedia kendaraan berseru dihadapan seluruh para calon penghuni surga. Sutejo salah satu umat akhir zaman merasa sangat beruntung, mendapatkan kesempatan mengikuti kloter pertama pemberangkatan menuju surga. Kendaraan lapis emas tanpa roda berkursi tunggal telah ada dihadapannya. Salah satu malaikat membukakan pintu dan mempersilahkan untuk masuk menaikinya. Tanpa perlu dikendalikan kendaraan itu melaju sendiri melayang dengan kecepatan sedang. Pemandangan indah terhampar di kanan dan kiri jalan di sepanjang perjalanan.